Adzan Itu Terus Terngiang Di Telinganya

Adzan Itu Terus Terngiang Di Telinganya

Adzan Itu Terus Terngiang Di Telinganya

Adzan Itu Terus Terngiang Di Telinganya
Adzan Itu Terus Terngiang Di Telinganya

Dua bulan lalu saya datang ke Islamic Center. Kedatangan saya tersebut memang atas undangan panitia sebuah acara yang digelar di tempat itu untuk menjadi pembicara mengenai Islam kepada organisasi-organisasi atau forum non muslim. Kebetulan hari itu ada beberapa warga negara asing yang ikut hadir dalam acara tersebut. Dan saya diberi waktu bicara selama hampir dua jam, dan tak ada reaksi berlebihan saat itu.

Namun saat berada dikantor, sekitar pukul satu siang saya didatangi oleh seorang perempuan bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).

Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan menanyakan maksud dan tujuannya serta berasal dari mana. Sesaat kemudian ia menjelaskan tentang dirinya, ia mengaku bernama Helen (nama samaran), ia adalah seorang turis yang berasal dari Amerika Serikat dan bermaksud ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam. Kebetulan ia turut hadir dalam acara di Islamic Center sehari sebelumnya dan mengetahui dimana saya berkantor dari panitia pelaksana.

Kemudian saya mulai bertanya dari mana ia belajar tentang salam hingga bisa sefasih itu. Helen dengan senyum mengmbang mengatakan bahwa ia sangat fasih berbahasa arab karena ia pernah beberapa tahun tinggal di Arab dan belajar bahasa arab. Mendengar hal itu saya hanya bisa mengangguk-anggukan kepala saya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang hingga saya akhirnya tahu persis asal-usulnya.

Saya kemudian beratanya mengapa ia sampai memiliki keinginan untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam. Dari mulutnya mengalir cerita, bahwa ia telah lama mengenal Islam, dan sejak sepuluh tahun yang lalu ada sesuatu yang selalu mengganjal dalam hidupnya, dan saat ini ia merasa bahwa gangguan itu bisa dapat teratasi dengan kedatanganya ke tempat saya.

Sejenak saya merasa bingung, dan kembali bertanya, apa yang mangganjal dalam hidupnya dan mengapa ia memiliki keyakinan bahwa ganjalan tersebut akan segera hilang saat ia datang ketempat saya. Tiba-tiba saja Helen yang sejak kedatanganya nampak tegar dan selalu tersenyum, kini meneteskan air mata, dan mengungkapkan ganjalan hidup yang selama hampir sepuluh tahun ia rasakan.

Sebenarnya Helen telah lama memendam keinginan untuk menjadi seorang muslim, namun ada beberapa hal yang ia khawatirkan, terutama tentang karirnya. Ia takut jika masuk Islam karinya akan segera berakhir, karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.

Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Helen bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi perempuan, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi “kesemrawutan” dalam hidup.

Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjang itu nampaknya Helen sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. Kini Helen nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan.

Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: “Ada sesuatu yang harus saya katakan kepada anda,” katanya sambil mengusap air matanya yang mulai menetes. Sepuluh tahun lalu ia mendengar suara azan saat ia berada di Suriah dan saya mengatakan bahwa suara Adzan orang-orang suriah itu sangat indah, tapi kemudian ia menatap mata saya dengan sungguh-sunguh, sambil mengatakan bahwa suara Azan yang indah tersebut tak pernah mau hilang dari telinganya dan ia merasa bahwa ia harus mendengarkan ajakan itu setiap saat.

Tanpa sadar, saya langsung mengatakan “Subhanallah!”. Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian berkata “Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that”. Nampak Helen hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu. Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar.

Baca Juga : 

Rahasia Masakan Ibuku

Rahasia Masakan Ibuku

Rahasia Masakan Ibuku

Rahasia Masakan Ibuku
Rahasia Masakan Ibuku

Selama ini tampaknya para ibu punya rahasia. Setiap kali pergi jauh ke luar kota, rasanya ingin sekali makan masakan ibu. Bahkan, masakan koki di restaurant terkenal belum tentu mengalahkan masakan ibu.

Masakan ibu mungkin sederhana, tetapi di setiap sendok dan cecapan rasanya ada yang berbeda, sungguh istimewa. Apakah mungkin caranya memotong setiap sayuran? Apakah penyedap rasa khusus yang dibeli ibu di pasar? Atau ibu pernah belajar memasak dari koki terkenal?

Dengan senyumnya yang mendamaikan, ibu menggelengkan kepalanya. Ibu tidak punya teknik khusus untuk memotong sayuran. Tidak pula menggunakan penyedap rasa yang dibeli di pasar, apalagi penyedap rasa dikatakan tak baik untuk kesehatan. Ibu tak pernah memakainya. Ibu juga tak pernah belajar dari koki terkenal. Semua masakan ibu dipelajari lewat turun temurun, dan terkadang lewat potongan resep yang dibaca di tabloid.

Lantas apa rahasia di balik masakanmu, bu?

Dikeluarkannya sebuah kotak dari dapur. Kotak itu tak terlalu besar, mungkin berukuran 20 x 20 cm. Tampaknya kotak itu sudah tua usianya, bisa jadi ini adalah warisan nenek moyang yang membuat masakan ibu jadi super lezat. Berbinarlah aku hendak diberi tahu rahasia oleh ibu. Sebentar lagi, masakanku pasti sama lezatnya dengan masakan ibu, pikirku.

Dengan penuh semangat kubuka kotak itu. Matakupun membisu. Dalam bayanganku, ada bumbu rahasia yang digunakan ibu. Namun kotak itu tak lebih dari kotak kayu kosong dengan ukiran indah yang tampak kuno. Ah ibu, aku sedang tak ingin bercanda nih bu. Tunjukkan padaku, apa rahasia masakan ibu?

Masih tersenyum ibu pun memintaku untuk melihat lagi ke dalam kotak tua itu. Kali ini kupejamkan mata terlebih dahulu, berharap setelah ini aku melihat serbuk ajaib dari negeri peri atau semacamnya. Lagi, kubuka mata dan masih kotak kosong di depanku. Aku pun tertunduk lesu. Diraih tanganku oleh ibu, sambil berbisik, diceritakannyalah rahasia masakan ibu.

Cinta.

Rahasia yang selama ini seharusnya aku tahu. Bahkan tanpa membuka kotak itu, dan membayangkan serbuk peri, bumbu rahasia, atau semua khayalan bodohku. Ah, ya benar bu. Cintalah yang ada di setiap menu masakanmu. Yang membuatnya istimewa dan mengalahkan menu koki restaurant terkenal manapun. Akan kubawa rahasia masakanmu ini bu, kelak keluarga dan anak cucuku juga akan selalu merindukan masakanku.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/

Resep dari Malaikat

Resep dari Malaikat

Resep dari Malaikat

Resep dari Malaikat
Resep dari Malaikat

Seseorang yang berputus asa karena kesempitan hidupnya memutuskan untuk bunuh diri. Ia mengambil sebilah pisau untuk menikam jantungnya, tetapi tiba-tiba ia merasa takut mati dengan cara itu, maka ia memutuskan untuk bunuh diri dengan meminum racun.

Cara ini pun dia batalkan karena katanya, “saya akan terlalu lama kesakitan. Manjatuhkan diri dari puncak gunung akan merenggut nyawaku lebih cepat,” begitu pikirnya.

Namun setelah sampai dipuncak, ia takut melihat curamnya lembah. Maka ia memutuskan untuk meminta bantuan orang lain agar merenggut nyawanya. Namun, setiap orang yang ditemuinya merasa heran dan enggan memenuhi perminataan tersebut.

Akhirnya ia bertemu ‘seseorang’ yang dimohonnya agar mencabut nyawanya. Yang ditemuinya bertanya:

“Apakah Anda mengenal saya?”
“Tidak,” jawab orang yang ingin bunuh diri.
“Saya adalah Izrail, malaikat pencabut nyawa,” ujar sosok itu.
“Aduhai, telah lama saya mencari Anda. Tolonglah cabut nyawaku!!”
“Tidak! Aku hanya mencabut nyawa jika ada perintah Allah, dan aku belum mendapat perintah-Nya menyangkut dirimu,” jawab malaikat pencabut nyawa.

Setelah menguraikan sebab keinginannya mengakhiri hidupnya, malaikat memberinya ‘resep’ agar memperoleh rezeki, berupa ramuan yang dapat menyembuhkan penyakit. Malaikat berpesan, “Berilah pada pasienmu dan perhatikanlah, jika kau melihatku berada pada arah kepala pasien, maka ketahuilah bahwa ia akan segera mati. Engkau tidak perlu mengobatinya, dan bila Engakau melihatku berada di arah kakinya, maka obatilah ia karena ajal yang ditetapkan Allah baginya belum tiba.”

Suatu ketika dia sendiri yang sakit. Ramuan malaikat pun disiapkannya untuk mengobati dirinya, tapi ia melihat malaikat berada pada arah kepalanya, maka ia memutar posisinya, namun malaikat ikut memutar posisi sambil berkata, “Dahulu Engkau enggan hidup dan mengharapkan mati, tapi Allah belum menghendaki. Kini Engkau enggan mati, tapi Allah memerintahkanku mencabut nyawamu. Sudi atau tak sudi, Engkau harus kembali kepada-Nya karena ajalmu telah tiba.”

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR

RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR
RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR
RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
 Indikasi terkait dengan ekosistem pesisir dan kawasan lindung dan budidaya yang ada di pesisir.E. RENCANA PENGELOLAAN KAWASAN
 Pengelolaan kawasan hutan lindung
 Pengelolaan kawasan budidaya

4. PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN
Dapat berupa:
1. Kawasan strategis pertahanan dan keamanan (kawasan perbatasan negara dan kawasan latihan militer)
2. Kawasan strategis pengembangan kawasan ekonomi (KEK, FTZ)
3. Kawasan strategis sosial budaya (kws. Adat tertentu atau kawasan konservasi warisan budaya)
4. Kawasan strategis pendayagunaan sumberdaya alam dan/atau teknologi
(kws. Pertambangan minyak dan gas bumi, serta kawasan yang menjadi lokasi instalasi tenaga nuklir)
5. Kawasan strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
(kws. Perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup, seperti kawasan warisan dunia : Kebun Raya Bogor)

5. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
Penentuan prioritas pembangunan wilayah kabupaten ditinjau dari kebutuhan pembangunan wilayah, sarana dan prasarana prioritas, ketersediaan dana, komponen kawasan utama dengan fungsi multiplier effect, penduduk pendukung, serta arahan pembangunan dalam mewujudkan rencana tata ruang melalui pola penatagunaan tanah, air dan udara, usulan program utama pembangunan, perkiraan dana, dan sumber dana pembangunan, instansi pelaksana, waktu dan tahap pelaksanaan.
Berupa:
 Indikasi program utama
 Perkiraan pendanaan
 Intansi pelaksana
 Waktu dan Tahapan pelaksanaan

6. KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
A. KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI
Materi yang diatur : peraturan zonasi yang terdapat di RDTRK dan RTR Kawasan Strategis Kabupaten.
B. KETENTUAN PERIZINAN
Materi yang diatur : perizinan yang terkait tentang izin pemanfaatan ruang sebelum pelaksanaan pemanfaatan ruang
C. KETENTUAN INSENTIF DAN DISINSENTIF
Materi yang diatur : strategi pengembangan kawasan agar sesuai dengan RTR
D. ARAHAN SANKSI
Materi yang diatur : sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTR dan peraturan zonasi

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN
Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Tata Ruang, RTRW Kabupaten berisi tentang:
 Tujuan penataan ruang kabupaten, kebijakan dan strategi pengembangan wilayah kabupaten;
 Rencana struktur ruang kabupaten yang meliputi sistem perkotaan di wilayahnya yang terkait dengan kawasan perdesaan dan sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten;
 Rencana pola ruang wilayah kabupaten yang meliputi kawasan lindung kabupaten dan kawasan budi daya kabupaten;
 Penetapan kawasan strategis kabupaten;
 Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan; dan
 Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.1. TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI
A. TUJUAN
 Penekanan pada perwujudan ruang wilayah kabupaten yang diinginkan dimasa mendatang.
 Memberikan arahan pada semua program yang ada dalam RTRW serta lingkup sasarannya.
 Sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi.

B. KEBIJAKAN
 Disusun dalam rangka mencapai tujuan penataan ruang wilayah kabuapten yang meliputi kebijakan terhadap struktur ruang, pola ruang, penetapan kawasan strategis kabupaten, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.

C. STRATEGI
 Langkah-langkah yang lebih nyata sebagai penjabaran dari kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten, yang meliputi: kebijakan terhadap struktur ruang, pola ruang, penetapan kawasan strategis kabupaten, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.

2. RENCANA STRUKTUR RUANG
A. SISTEM PERKOTAAN DAN SISTEM PERDESAAN
 Sistem Perdesaan menggambarkan sistem pemusatan kegiatan, cakupan pelayanan, dan keterkaitan kegiatan-kegiatan utama pada kawasan perdesaan.
 Sistem Perkotaan dalam wilayah kabupaten menunjukan keterkaitan antar pusat pelayanan wilayah maupun pusat permukiman perkotaan (kawasan perkotaan yang merupakan pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat secara serasi dan saling memperkuat).

B. RENCANA HIRARKI PUSAT-PUSAT PENGEMBANGAN
 Rencana Hirarki Pusat Pelayanan
 Rencana Fungsi Pusat-Pusat Pelayanan
 Rencana Sistem Prasarana Wilayah
1. Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana transportasi (transportasi darat, laut dan udara)
2. Rencana Prasarana Telematika (prasarana telekomunikasi dan informatika)
3. Rencana sistem prasarana pengairan (air baku untuk domestik dan industri serta pengemb. pertanian)
4. Rencana sistem jaringan prasarana energi (kelistrikan dan migas)
5. Rencana sistem prasarana lingkungan (persampahan dan air limbah)

3. RENCANA POLA RUANG
A. RENCANA PENETAPAN KAWASAN LINDUNG
 Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya (hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air.
 Kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, sempadan sungai, kws sekitar danau/waduk, kws sekitar rmata air, RTH termasuk hutan kota)
 Kawasan suaka alam (cagar alam, suaka margasatwa)
 Kawasan pelestarian alam (Taman Nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, kawasan cagar budaya)
 Kawasan rawan bencana alam (letusan gunung api, rawan gempa bumui, rawan tanah longsor, rawan gelombang pasang dan banjir)
 Kawasan lindung lainnya (taman buru, cagar biosfer, perlindungan plasma nutfah, pengungsian satwa, terumbu karang dll)

B. PELESTARIAN KAWASAN LINDUNG
 Mengembalikan dan melesatrikan fungsi lindung sesuai dengan kepentingan masing-masing

C. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA
 Kawasan hutan produksi
 Kawasan pertanian
 Kawasan pertambangan
 Kawasan peruntukkan industri
 Kawasan Pariwisata
 Kawasan Permukiman

Radical Planning PLURALIST PLANNING

Radical Planning PLURALIST PLANNING

Radical Planning PLURALIST PLANNING

 

Radical Planning PLURALIST PLANNING
Radical Planning PLURALIST PLANNING

1. Radical Planning-Pluralistic

– Perencanaan radikal mengedepankan setiap topik, kasus, dan tema permasalahan dalam posisi untuk mendapatkan perhatian yang sama dan seimbang.

– Mengingat permasalahan perencanaan dalam kehidupan masyarakat amat kompleks dan bermacam-macam, maka pendekatan perencanaan radikal cenderung pluralistik.

– Pendekatan perencanaan radikal tidak berupaya untuk mencari kesamaan dan kesepakatan dari adanya keanekaragaman, tetapi mempertahankan kenekaragaman dan perbedaan tersebut untuk meningkatkan sifat kesamaan pentingnya setiap akar permasalahan.

2. Ciri Perencanaan Pluralis
(Jordan, 1990)

– Kekuasaan dikelompok-kelompokan (fragmented) dan didesentralisasikan di dalam masyarakat.

– Pengembangan akses tidak sama terhadap setiap kelompok, disesuaikan dengan fungsi dan peran masing-masing.

– Penyebaran kekuasan kedalam masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan (desirable).

– Penyebaran kekuasaan disesuaikan dengan kebijakan sektoral untuk menyesuaikan kondisi dengan hasil yang diharapkan dari masing-masing sektor.

– Penerapan penyebaran pluralis kekuasaan politis melalui pemilihan umum dan perwakilan di lembaga-lembaga parlemen.

– Dunia pluralis yang ideal adalah terjadinya interaksi antar kepentingan yang menghasilkan kompetensi ide dan legitmasi untuk menngeluarkan hasil yang sesuai.

– Stakeholders didalam dunia perencanaan bersistem pluralis dibatasi oleh proses perencanaan dalam ketidakpastikan dan proses tawar menawar didalam interaksi kepentingan tersebut.

CONTEMPORARY PLANNING – Radical Planning-Contemporary

– Kecenderungan penekanan Radical Planning pada hal-hal yang bersifat mengakar dan mendasar dari permasalahan yang dihadapi, menyebabkan pendekatannya bersifat praktis dan kontekstual.

– Pendekatan praktis dan kontekstual seringkali bersifat kontemporer, tidak atau belum diakui secara tradisi sebagai kesepakatan yang luas. Dengan kata lain, belum diakui sebagai sebuah teori yang diakui secara rasionalistik secara meluas.

– Pendekatan Radical Planning yang menekankan yang bersifat mengakar dan kontekstual tersebut seringkali mengabaikan teori, bahkan Grand-Theory yang telah diterima secara meluas, tetapi lebih cenderung bersifat teori-praktis yang kontemporer, atau berkembang sesuai dengan permasalahan.

Sumber : https://filehippo.co.id/

Analisa Rasio Keuangan Bank bersama dengan Metode CAMEL

Analisa Rasio Keuangan Bank bersama dengan Metode CAMEL

Analisa rasio keuangan bank sebagaimana analisa rasio keuangan perusahaan terhadap biasanya adalah belajar tentang Info yang menggambarkan hubungan salah satu beraneka akun berasal dari laporan keuangan yang mencerminkan kondisi dan juga hasil operasional perusahaan. Sumber information yang digunakan untuk lakukan analisa rasio keuangan selanjutnya yakni laporan keuangan yang telah melalui proses pengecekan (Auditing).

Menurut pendapat yang dikemukakan Munawir (2002:64), dijelaskan bahwa rasio keuangan adalah rasio yang menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relationship) pada suatu kuantitas khusus bersama dengan kuantitas yang lain, dan bersama dengan mengunakan alat analisa bersifat rasio ini akan mampu menjelaskan atau member uraian kepada penganalisa tentang baik atau buruknya kondisi atau posisi keuangan suatu perusahaan lebih-lebih misalnya angka rasio selanjutnya dibandingkan bersama dengan angka rasio pembanding yang dilukiskan standard.

Dalam pengertian yang tidak cukup lebih sama, Sawir (2001:6) mengemukakan bahwa analisa rasio keuangan merupakan analisa yang menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu bersama dengan yang lainnya, mampu mengimbuhkan uraian tentang histori perusahaan dan penilaian posisinya terhadap saai ini. Kemudian menurut Riyanto (1998:52) memperlihatkan bahwa rasio adalah alat yang mampu digunakan untuk menjelaskan hubungan dua information misalnya dihubungkan bersama dengan persoalan keuangan maka information selanjutnya adalah information keuangan. Jadi, misalnya hubungan selanjutnya adalah hubungan matematik pada pos keuangan bersama dengan pos lainnya, atau pada jumlah-jumlah di neraca bersama dengan jumlah-jumlah di laporan laba rugi atau sebaliknya maka yang timbul adalah rasio keuangan. Rasio keuangan ini berguna sebagai ukuran didalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan atau lembaga perbankan.

Analisa rasio keuangan digunakan untuk lakukan perhitungan rasio-rasio keuangan yang mencerminkan aspek-aspek tertentu. Rasio-rasio keuangan dihitung berdasarkan atas angka-angka yang ada didalam neraca saja, didalam laporan laba rugi saja, atau terhadap neraca dan laba rugi. Setiap analisa keuangan mampu saja merumuskan rasio khusus yang diakui mencerminkan aspek tertentu.

Pemilihan aspek-aspek yang akan dinilai berkenaan bersama dengan obyek analisis. Apabila asumsi dijalankan oleh pihak kreditur, aspek yang dinilai akan tidak sama bersama dengan penilaian yang dijalankan oleh calon pemodal.

Perusahaan perbankan membawa karakteristik yang tidak sama bersama dengan perusahaan lain agar rasio keuangannya termasuk tidak sama bersama dengan perusahaan lainnya. Rasio-rasio keuangan perusahaan perbankan lebih berkenaan bersama dengan kesehatan bank, dimana perusahaan bank terlampau berkenaan bersama dengan pembentukan kepercayaan masyarakat dan lakukan prinsip kehati-hatian (prudentialbanking). Oleh dikarenakan itu Pemerintah mengeluarkan Peraturan untuk menilai tingkat kesehatan bank yakni Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 Tanggal 12 April 2004 Tentang Sistem Penilaian Kesehatan Bank Umum.

Berdasarkan aturan tersebut, maka rasio-rasio yang dipergunakan sebagai basic penilaian kesehatan bank disebut bersama dengan rasio CAMEL yang terdiri berasal dari rasio Capital (C), Asset quality (A), Management (M), Earning (E), dan Liquidity (L). Penghitungan didalam analisa rasio keuangan bank bersama dengan metode CAMEL (Dendawijaya, 2005:144) mampu dijelaskan selanjutnya ini:

a. Capital

Komponen Capital mampu dihitung bersama dengan menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio ini digunakan sebagai indikator terhadap kapabilitas bank menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya kerugian-kerugian atas aktivabank bersama dengan menggunakan modalnya sendiri. CAR merupakan perbandingan pada modal sendiri bersama dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).

ATMR merupakan pejumlahan baik itu aktiva neraca maupun aktiva administratif yang telah dikalikan bobotnya masing-masing. Pos-pos yang masuk didalam aktiva pada lain kas, emas, giro terhadap Bank Indonesia, tagihan terhadap bank lain, surat bernilai yang dimiliki, kredit yang disalurkan, penyertaan, aktiva selamanya dan inventaris, ruparupa aktiva, fasilitas kredit yang belum digunakan, jaminan bank, dan kewajiban untuk belanja kembali aktiva bank bersama dengan syarat repurchase agreement. Seluruh aktiva selanjutnya dikalikan bersama dengan bobot risiko yang telah ditetapkan BI kemudian dan disebut bersama dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).

b. Asset

Kinerja keuangan berasal dari aspek asset diukur melalui kualitas aktiva produktifnya. Salah satu rasio yang digunakan adalah Return On Risked Asset (RORA). RORA adalah rasio yang memperbandingkan pada laba kotor bersama dengan besarnya risked assets yang dimiliki. Laba kotor adalah hasil pengurangan pendapatan terhadap cost sedangkan risked assets terdiri atas surat bernilai dan kredit yang disalurkan. Nilai RORA yang tinggi mengindikasikan bahwa pendapatan yang di terima besar agar laba yang diperoleh termasuk optimal dan berpengaruh terhadap kenaikan harga saham.
Analisa Rasio Keuangan Bank bersama dengan Metode CAMEL
c. Management

Menurut Riyadi didalam Merkusiwati (2007), aspek manajemen terhadap penilaian kinerja bank tidak mampu menggunakan pola yang ditetapkan Bank Indonesia, tetapi diproksikan bersama dengan profit margin. Alasannya, semua kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup manajemen permodalan, manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen likuiditas terhadap selanjutnya akan pengaruhi dan bermuara terhadap perolehan laba.

Tingkat kinerja manajemen mampu diukur bersama dengan penghitungan Net Profit Margin (NPM). NPM merupakan rasio keuangan yang mengukur kapabilitas bank didalam menghasilkan net income berasal dari kegiatan operasional pokok bank. Rasio ini menggambarkan tingkat keuntungan (laba) yang diperoleh bank dibandingkan bersama dengan pendapatan yang di terima berasal dari kegiatan operasionalnya (Payamta dan Machfoedz, 1999:87). NPM ini berguna untuk mengukur tingkat kembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya.

Menurut Ang (1997:11) makin besar nilai NPM berarti makin efektif cost yang dikeluarkan yang berarti makin besar tingkat kembalian keuntungan bersih. Nilai NPM berada terhadap rentang 0 sampai 1, makin mendekati 1 maka makin efektif penggunaan biaya, yang berarti bahwa besar tingkat kembalian keuangan (return) yang akan diikuti tingginya harga saham.

d. Earning

ROA atau rasio laba bersih terhadap total aktiva. Menurut Susilo (2000: 37), ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengerti kapabilitas bank menghasilkan keuntungan secara relatif dibandingkan bersama dengan nilai total assetsnya. Rasio ini terlampau penting, mengingat keuntungan yang lumayan diperlukan untuk menjaga sumber-sumber modal bank.

e. Liquidity

Rasio likuiditas (liquidity ratio) mampu diukur bersama dengan menggunakan rasio tidak benar satunya adalah LDR (Loan to Deposit Ratio). LDR merupakan rasio pada kredit bersama dengan dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, maka akan mengimbuhkan indikasi rendahnya kapabilitas likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan dikarenakan kuantitas dana yang diperlukan untuk membiayai kredit makin besar.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :

Pengertian Gender, Kesetaraan Gender dan Istilah Terkait

Pengertian Gender, Kesetaraan Gender dan Istilah Terkait

Pengertian gender dengan penafsiran berbeda-beda kerap mengakibatkan tanggapan yang tidak proporsional. Semoga artikel ini sanggup jadi keliru satu referensi untuk menyamakan persepsi tentang pengertian gender. Kata gender didalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris yang secara harfiah “gender” bermakna model kelamin (John M.Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, cet XII, 1983), h. 265).

Gender adalah suatu rancangan kultural yang berupaya mengakibatkan pembedaan (distinction) didalam perihal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional pada laki-laki dan perempuan yang berkembang didalam penduduk (Helen Tierney (ed), Women’s Studies Encyclopedia, Vol 1, New York: Green Wood Press, h.153)

Mengacu terhadap pendapat Mansour Faqih, Gender adalah suatu cii-ciri yang melekat terhadap laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional, dan sebagainya. Sementara laki-laki diakui kuat, rasional, jantan, perkasa, dan tidak boleh menangis. Ciri dan cii-ciri itu sendiri merupakan sifat-sifat yang sanggup dipertukarkan. Perubahan ciri dan cii-ciri tersebut sanggup berjalan dari sementara ke sementara dan dari daerah ketempat yang lain, juga perubahan tersebut sanggup berjalan dari kelas ke kelas penduduk yang berbeda. Semua perihal yang sanggup dipertukarkan pada cii-ciri perempuan dan laki-laki yang sanggup sanggup berubah, baik itu sementara maupun kelas (Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 8-9)

Masih didalam buku yang sama, Mansour faqih mengungkap bahwa histori perbedaan gender berjalan lewat sistem yang amat panjang. Perbedaan Gender terbentuk oleh banyak perihal yang disosialisasikan, diajarkan, yang kemudian diperkuat dengan mengkonstruksinya baik secara sosial maupun kultural. Melalui sistem panjang tersebut terhadap akhirnya diyakini sebagai suatu hal yang kodrati baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan, perihal ini kemudian direfleksikan sebagai suatu hal yang diakui alami dan jadi identitas gender yang baku. Identitas gender adalah definisi seseorang tentang dirinya, sebagai laki-laki atau perempuan, yang merupakan hubungan kompleks pada keadaan biologis dan beraneka karakteristik tabiat yang dikembangkan sebagai hasil sistem sosialisasi.

Pengertian gender yang lebih kongkrit dan lebih operasional dikemukakan oleh Nasarudin Umar bahwa gender adalah rancangan kultural yang digunakan untuk berikan identifikasi perbedaan didalam perihal peran, tabiat dan lain-lain pada laki-laki dan perempuan yang berkembang di didalam penduduk yang didasarkan terhadap rekayasa sosial (Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, Jakarta : Paramadina, 2001,h.35)

Lebih lanjut Nasarudin Umar mengatakan bahwa penentuan peran gender didalam beraneka sistem masyarakat, biasanya merujuk kepada tinjauan biologis atau model kelamin. Masyarakat tetap berlandaskan terhadap diferensiasi spesies pada laki-laki dan perempuan. Organ tubuh yang dimiliki oleh perempuan amat berperan terhadap pertumbuhan kematangan emosional dan berpikirnya. Perempuan condong tingkat emosionalnya agak lambat. Sementara laki-laki yang sanggup mengolah didalam dirinya hormon testosterone mengakibatkan ia lebih agresif dan lebih obyektif.

Istilah gender menurut Oakley (1972) bermakna perbedaan atau model kelamin yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Sedangkan menurut Caplan (1987) menegaskan bahwa gendermerupakan perbedaan tabiat pada laki-laki dan perempuan tidak cuman dari susunan biologis, lebih dari satu besar justru terbentuk lewat sistem social dan cultural. Gender didalam pengetahuan sosial diambil kesimpulan sebagai pola relasi lelaki dan perempuan yang didasarkanpada ciri sosial masing-masing (Zainuddin, 2006: 1).

Menurut para ahli lainnya seperti Hilary M. Lips membatasi gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). H. T. Wilson membatasi gender sebagai suatu basic untuk pilih perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan terhadap kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka jadi laki-laki dan perempuan. Sedangkan Linda L. Lindsey beranggap bahwa seluruh keputusan penduduk tentang penentuan seseorang sebagai laki-laki dan perempuan adalah juga bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminim is a component of gender). Elaine Showalter menegaskan bahwa gender lebih dari semata-mata pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial-budaya (NasaruddinUmar, 2010: 30).

Dari pengertian gender menurut para ahli di atas sanggup disita asumsi bahwa gender adalah seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan tabiat yang melekat terhadap diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan penduduk daerah manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Artinya perbedaan sifat, sikap dan tabiat yang diakui khas perempuan atau khas laki-laki atau yang lebih tenar dengan makna feminitas dan maskulinitas, terlebih merupakan hasil studi seseorang lewat suatu sistem sosialisasi yang panjang di lingkungan masyarakat, daerah ia tumbuh dan dibesarkan

Kesetaraan Gender adalah kalimat yang seringkali kita dengar terucap didalam diskusi ataupun tercantum didalam sejumlah referensi. Apa makna kesetaraan gender? Untuk menjelaskannya, tersebut ini kita ketengahkan sejumlah makna yang erat kaitannya dengan problematika gender tidak cuman makna tersebut.

A. Pengarusutamaan Gender

Pengarusutamaan gender adalah siasat yang digunakan untuk mengurangi kesenjangan pada penduduk laki-laki dan perempuan Indonesia didalam membuka dan mendapatkan faedah pembangunan, dan juga meningkatkan partisipasi dan mengontrol sistem pembangunan.

B. Kesenjangan Gender

Dikatakan berjalan kesenjangan gender bila keliru satu model kelamin berada didalam keadaan tertinggal dibandingkan model kelamin lainnya (Laki-laki lebih banyak dari perempuan atau sebaliknya)

C. Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender adalah kesamaan keadaan bagi laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan peluang dan juga hak-haknya sebagai manusia, sehingga sanggup berperan dan berpartisipasi didalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas) dan juga kesamaan didalam menikmati hasil pembangunan. Terwujudnya kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi pada perempuan dan laki-laki, dan dengan demikianlah mereka mempunyai akses, peluang berpartisipasi, kontrol atas pembangunan dan mendapatkan faedah yang setara dan adil dari pembangunan. Adapun indikator kesetaraan gender adalah sebagai berikut:
AKSES; yang dimaksud dengan aspek akses adalah peluang atau peluang didalam mendapatkan atau pakai sumber daya tertentu. Mempertimbangkan bagaimana mendapatkan akses yang adil dan setara pada perempuan dan laki-laki, anak perempuan dan laki-laki terhadap sumberdaya yang bakal dibuat. Sebagai perumpamaan didalam perihal pendidikan bagi anak didik adalah akses mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan untuk anak didik perempuan dan laki-laki diberikan secara adil dan setara atau tidak.
PARTISIPASI; Aspek partisipasi merupakan keikutsertaan atau partisipasi seseorang atau grup didalam kegiatan dan atau didalam pengambilan keputusan. Dalam perihal ini perempuan dan laki-laki apakah mempunyai peran yang sama didalam pengambilan keputusan di daerah yang sama atau tidak.
KONTROL; adalah penguasaan atau wewenang atau kemampuan untuk mengambil alih keputusan. Dalam perihal ini apakah pemegang jabatan khusus sebagai pengambil keputusan didominasi oleh gender khusus atau tidak.
MANFAAT; adalah faedah yang sanggup dinikmati secara optimal. Keputusan yang disita oleh sekolah menambahkan faedah yang adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki atau tidak.
D. Keadilan Gender

Keadilan gender adalah suatu sistem dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender bermakna tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Ketidakadilan gender (gender inequalities) merupakan sistem dan susunan di mana baik kaum laki-laki dan perempuan jadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender menurut lebih dari satu ahli timbul didalam bentuk:

1. Stereotype

Pelabelan atau penandaan yang seringkali bersifat negatif secara umum dan melahirkan ketidakadilan. Sebagai contoh, perempuan kerap dideskripsikan emosional, lemah, cengeng, tidak rasional, dan sebagainya. Stereotype tersebut yang kemudian menjadikan perempuan sepanjang ini ditaruh terhadap posisi domestik, kerapkali perempuan di identikan dengan urusan masak, mencuci, dan seks (dapur, sumur, dan kasur).

2. Kekerasan (violence)

Kekerasan berbasis gender, kekerasan tersebut berjalan akibat dari ketidak seimbangan posisi tawar (bargaining position) atau kekuasaan pada perempuan dan laki-laki. Kekerasan berjalan akibat konstruksi peran yang telah mendarah daging terhadap budaya patriarkal yang memasang perempuan terhadap posisi lebih rendah. Cakupan kekerasan ini lumayan luas, diantaranya eksploitasi seksual, pengabaian hak-hak reproduksi, trafficking, perkosaan, pornografi, dan sebagainya.

3. Marginalisasi

Peminggiran terhadap kaum perempuan berjalan secara multidimensional yang disebabkan oleh banyak perihal sanggup bersifat kebijakan pemerintah, tafsiran agama, keyakinan, tradisi dan kebiasaan, atau pengetahuan (Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h.14). Salah satu bentuk paling nyata dari marginalisasi ini adalah lemahnya peluang perempuan terhadap sumber-sumber ekonomi. Proses tersebut mengakibatkan perempuan jadi grup miskin gara-gara peminggiran berjalan secara sistematis didalam masyarakat.

4. Subordinasi

Penomorduaan (subordinasi) ini terhadap dasarnya merupakan kepercayaan bahwa model kelamin khusus diakui lebih mutlak atau lebih utama dibanding model kelamin lainnya (Leli Nurohmah dkk, Kesetaraan Kemajemukan dan Ham, Jakarta: Rahima, h. 13). Hal ini berakibat terhadap kurang diakuinya potensi perempuan sehingga sukar membuka posisi-posisi strategis didalam komunitasnya terlebih terkait dengan pengambilan kebijakan.

5. Beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (double burden)

Adanya asumsi bahwa perempuan mempunyai cii-ciri pelihara dan rajin dan juga tidak cocok untuk jadi kepala keluarga berakibat bahwa seluruh pekerjaan domestik rumah tangga jadi tanggung jawab perempuan (Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, h.21). Untuk keluarga miskin perempuan tidak cuman bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik, mereka juga mencari nafkah sebagai sumber mata pencarian tambahan keluarga, ini menjadikan perempuan perlu bekerja ekstra untuk mengerjakan ke dua bebannya.

Demikian penjelasan pengertian gender dan penekanan bahwa kesetaraan gender adalah tidak adanya diskriminasi didalam perihal akses, berpartisipasi, kontrol atas pembangunan dan mendapatkan faedah yang setara dan adil dari pembangunan suatu bangsa.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :

Pengertian dan 4 Perspektif Balanced Scorecard

Pengertian dan 4 Perspektif Balanced Scorecard

Balanced Scorecard adalah suatu konsep pengukuran kinerja usaha yang menyeimbangkan pengukuran atas kinerja sebuah organisasi usaha yang sepanjang ini dianggap sangat cenderung terhadap kinerja keuangan. Sebelum timbulnya konsep balanced scorecard, yang umum dipergunakan di dalam perusahaan sepanjang ini adalah pengukuran kinerja tradisional yang cuma menitikberatkan terhadap sektor keuangan saja.

Pengukuran kinerja tradisional berikut membawa dampak orientasi perusahaan cuma terhadap keuntungan jangka pendek dan cenderung meremehkan kelangsungan hidup perusahaan di dalam jangka panjang. Pengukuran kinerja yang menitikberatkan terhadap sektor keuangan saja kurang sanggup mengukur kinerja harta-harta tak tampak (intangible assets) dan harta-harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan.

Cukup disadari dewasa ini, bahwa pengukuran kinerja keuangan yang digunakan oleh banyak perusahaan untuk mengukur kinerja eksekutif tidak ulang memadai, sehingga lahirlah konsep “Balanced Scorecard.” Balanced scorecard adalah suatu konsep pengukuran kinerja usaha yang diperkenalkan oleh Robert S. Kaplan (Guru Besar Akuntansi di Harvard Business School) dan David P. Norton (Presiden berasal dari Renaissance Solutions, Inc.).

Balanced Scorecard terdiri berasal dari dua kata yakni kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Kartu skor adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang. Kata berimbang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kinerja personel diukur secara berimbang berasal dari dua aspek: keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern. Dari definisi berikut Mulyadi (2001:1) berpendapat bahwa secara simpel pengertian Balanced Scorecard adalah kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja bersama memperhatikan keseimbangan segi keuangan dan non keuangan, jangka panjang dan jangka pendek, intern dan ekstern.

Home » Kajian Pustaka » Kinerja Keuangan » Pengertian dan 4 Perspektif Balanced Scorecard
KAJIAN PUSTAKA KINERJA KEUANGAN
Pengertian dan 4 Perspektif Balanced Scorecard

Balanced Scorecard adalah suatu konsep pengukuran kinerja usaha yang menyeimbangkan pengukuran atas kinerja sebuah organisasi usaha yang sepanjang ini dianggap sangat cenderung terhadap kinerja keuangan. Sebelum timbulnya konsep balanced scorecard, yang umum dipergunakan di dalam perusahaan sepanjang ini adalah pengukuran kinerja tradisional yang cuma menitikberatkan terhadap sektor keuangan saja.

Pengukuran kinerja tradisional berikut membawa dampak orientasi perusahaan cuma terhadap keuntungan jangka pendek dan cenderung meremehkan kelangsungan hidup perusahaan di dalam jangka panjang. Pengukuran kinerja yang menitikberatkan terhadap sektor keuangan saja kurang sanggup mengukur kinerja harta-harta tak tampak (intangible assets) dan harta-harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan.

Cukup disadari dewasa ini, bahwa pengukuran kinerja keuangan yang digunakan oleh banyak perusahaan untuk mengukur kinerja eksekutif tidak ulang memadai, sehingga lahirlah konsep “Balanced Scorecard.” Balanced scorecard adalah suatu konsep pengukuran kinerja usaha yang diperkenalkan oleh Robert S. Kaplan (Guru Besar Akuntansi di Harvard Business School) dan David P. Norton (Presiden berasal dari Renaissance Solutions, Inc.).

Balanced Scorecard terdiri berasal dari dua kata yakni kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Kartu skor adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang. Kata berimbang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kinerja personel diukur secara berimbang berasal dari dua aspek: keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern. Dari definisi berikut Mulyadi (2001:1) berpendapat bahwa secara simpel pengertian Balanced Scorecard adalah kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja bersama memperhatikan keseimbangan segi keuangan dan non keuangan, jangka panjang dan jangka pendek, intern dan ekstern.

Pengertian Balanced Scorecard menurut Sukardi (2003:8-14) merupakan proses pengukuran kinerja yang berfokus terhadap aspek keuangan dan non keuangan bersama memandang 4 perspektif balanced scorecard, yakni keuangan, pelanggan, pembelajaran dan perkembangan karyawan, serta proses usaha internal.

Balanced Scorecard didefinisikan oleh Luis (2007:16) sebagai suatu alat manajemen kinerja (performance management tool) yang sanggup menopang organisasi untuk menterjemahkan visi dan kiat ke di dalam aksi bersama memakai sekumpulan indikator finansial dan non finansial yang kesemuanya terkait di dalam suatu interaksi karena akibat.

Dari beragam definisi sanggup diartikan bahwa Balanced Scorecard adalah proses pengukuran kinerja yang berfokus terhadap aspek keuangan dan non keuangan bersama memandang empat perspektif, yakni keuangan, pelanggan, pembelajaran dan perkembangan karyawan, serta proses usaha internal yang sanggup menopang organisasi untuk menerjemahkan visi dan kiat ke di dalam aksi di mana seluruh perspektif berikut terkait di dalam suatu interaksi karena akibat.

Secara umum, terkandung empat macam kinerja usaha yang diukur di dalam balanced scorecard, yaitu:
Perspektif keuangan
Perspektif pelanggan atau konsumen
Perspektif proses internal bisnis
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
4 Perspektif Balanced Scorecard berikut tiap-tiap sanggup dijelaskan berikut ini.

Perspektif keuangan selalu digunakan di dalam Balance Scorecard, karena ukuran keuangan memperlihatkan apakah perencanaan dan pelaksanaan kiat perusahaan menambahkan perbaikan atau tidak bagi peningkatan keuntungan perusahaan. Perbaikan-perbaikan ini tercermin di dalam sasaran-sasaran yang secara spesifik terkait bersama keuntungan yang terukur, perkembangan usaha, dan nilai pemegang saham.

Pengukuran kinerja keuangan pertimbangkan adanya tahapan berasal dari siklus kehidupan bisnis, yaitu: growth, sustain, dan harvest (Kaplan dan Norton, 2001). Tiap tahapan memiliki sasaran yang berbeda, sehingga penekanan pengukurannya pun berlainan pula.

1. Growth (bertumbuh)

Tahap perkembangan menjadi step awal di dalam siklus kehidupan bisnis. Pada step ini perusahaan berupaya untuk memakai sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan perkembangan bisnisnya. Selain itu, perusahaan dapat menanamkan investasi sebanyak-banyaknya, meningkatkan product baru, membangun sarana produksi, meningkatkan kemampuan beroperasi, merebut pangsa pasar, dan membawa dampak jaringan distribusi. Di di dalam step ini mungkin besar perusahaan dapat selalu di dalam kondisi rugi, karena step ini perusahaan memfokuskan untuk penanaman investasi yang dinikmati di dalam jangka panjang nanti.

2. Sustain (bertahan)

adalah tahapan ke-2 di mana perusahaan masih laksanakan investasi dan reinvestasi bersama menandakan tingkat pengembalian terbaik. Pada step ini perusahaan masih mempunyai daya tarik yang bagus bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Dalam step ini perusahaan kudu sanggup mempertahankan pangsa pasar yang telah dimiliki dan kudu memperhatikan mutu product dan pelayanan yang lebih baik sehingga secara bertahap dapat mengalami perkembangan berasal dari th. ke tahun.

Tujuan keuangan terhadap step ini umumnya lebih berorientasi terhadap profitabilitas. Tujuan yang mengenai bersama profitabilitas sanggup dinyatakan bersama memakai ukuran yang mengenai bersama laba operasional. Untuk mendapatkan profitabilitas yang baik tentunya para manajer kudu bekerja keras untuk memaksimalkan pendapat yang dihasilkan berasal dari investasi modal, tetapi untuk unit usaha yang telah memiliki otonomi diminta tidak cuma mengelola arus pendapatan, namun juga tingkat investasi modal yang telah ditanamkan di dalam unit usaha yang bersangkutan. Tolak ukur lain yang kerap digunakan terhadap step ini, andaikan ROI, profit margin, dan operating ratio.

3. Harvest (Menuai)

Tahap ini merupakan step pendewasaan bagi sebuah perusahaan, karena terhadap step ini perusahaan tinggal menuai berasal dari investasi yang ditunaikan terhadap tahap-tahap sebelumnya, yang kudu ditunaikan terhadap step ini adalah perusahaan tidak ulang laksanakan investasi, namun cuma memelihara sehingga perusahaan berjalan bersama baik.

Filosofi manajemen terkini telah memperlihatkan peningkatan pengakuan atas pentingnya kastemer focus dan kastemer satisfaction. Perspektif ini merupakanleading indicator. Jadi, jika pelanggan tidak bahagia maka mereka dapat mencari produsen lain yang sesuai bersama kebutuha n mereka. Kinerja yang tidak baik dariperspektif ini dapat menurunkan jumlah pelanggan di jaman depan kendati pas ini kinerja keuangan nampak baik.

Oleh Kaplan dan Norton (2001) perspektif pelanggan dibagi menjadi dua kelompok pengukuran, yaitu: kastemer core measurement dan kastemer value prepositions. Customer Core Measurement memiliki beberapa komponen pengukuran, yaitu:
Market Share (pangsa pasar); Pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi: jumlah pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
Customer Retention (retensi pelanggan); Mengukur tingkat di mana perusahaan sanggup mempertahankan interaksi bersama konsumen.
Customer Acquisition (akuisisi pelanggan); mengukur tingkat di mana suatu unit usaha sanggup menarik pelanggan baru atau memenangkan usaha baru.
Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan); Menaksir tingkat kepuasan pelanggan mengenai bersama beberapa syarat kinerja spesifik di dalam value proposition.
Customer Profitability (profitabilitas pelanggan); mengukur keuntungan yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan product atau jasa kepada konsumen.
Sedangkan Customer Value Proposition merupakan pemicu kinerja yang terkandung terhadap core value proposition yang didasarkan terhadap atribut sebagai berikut:

1. Product or pelayanan attributes

Meliputi faedah berasal dari product atau jasa, harga, dan kualitas. Pelanggan memiliki preferensi yang berbeda-beda atas product yang ditawarkan. Ada yang utamakan faedah berasal dari produk, kualitas, atau harga yang murah. Perusahaan kudu mengidentifikasikan apa yang di inginkan pelanggan atas product yang ditawarkan. Selanjutnya pengukuran kinerja ditetapkan berdasarkan perihal tersebut.

2. Konsumen relationship

Menyangkut perasaan pelanggan te rhadap proses pembelian product yang di tawarkan perusahaan. Perasaan kastemer ini sangat terpengaruh oleh responsivitas dan komitmen perusahaan terhadap pelanggan mengenai bersama persoalan pas penyampaian. Waktu merupakan komponen yang perlu di dalam persaingan perusahaan. Konsumen umumnya berasumsi penyelesaian order yang cepat dan tepat pas sebagai aspek yang perlu bagi kepuasan mereka.

3. Image and reputasi

Menggambarkan faktor-faktor in tangible yang menarik seorang kastemer untuk terkait bersama perusahaan. Membangun image dan reputasi sanggup ditunaikan melalui iklan dan memelihara mutu seperti yang dijanjikan.

Analisis proses usaha internal perusahaan ditunaikan bersama memakai analisis value-chain. Disini manajemen mengidentifikasi proses internal usaha yang kronis yang kudu diunggulkan perusahaan. Scorecard di dalam perspektif ini terlalu mungkin manajer untuk memahami seberapa baik usaha mereka berjalan dan apakah product dan atau jasa mereka sesuai bersama spesifikasi pelanggan. Perspektif ini kudu didesain bersama hati-hati oleh mereka yang paling memahami misi perusahaan yang mungkin tidak sanggup ditunaikan oleh konsultan luar.

Kaplan dan Norton (1996) membagi proses usaha internal ke di dalam tiga tahapan, yaitu:

1. Proses inovasi

Dalam proses penciptaan nilai jadi bagi pelanggan, proses inovasi merupakan tidak benar satu kritikal proses, di mana efisiensi dan efektifitas serta ketepatan pas berasal dari proses inovasi ini dapat mendorong terjadinya efisiensi ongkos terhadap proses penciptaan nilat jadi bagi pelanggan. Dalam proses ini, unit usaha menggali pemahaman perihal kebutuhan berasal dari pelanggan dan menciptakan product dan jasa yang mereka butuhkan. Proses inovasi di dalam perusahaan umumnya ditunaikan oleh bagian marketing sehingga tiap-tiap ketetapan pengeluaran suatu product ke pasar telah mencukupi beberapa syarat pemasaran dan sanggup dikomersialkan (didasarkan terhadap kebutuhan pasar). Aktivitas marketing inimerupakan kesibukan perlu di dalam memilih keberhasilan perusahaan, khususnya untuk jangka panjang.

2. Proses Operasi

Proses operasi adalah proses untuk membawa dampak dan menyampaikan product atau jasa. Aktivitas di di dalam proses operasi terbagi ke di dalam dua bagian: 1) proses pembuatan produk, dan 2) proses penyampaian product kepada pelanggan. Pengukuran kinerja yang mengenai di dalam proses operasi dikelompokkan terhadap waktu, kualitas, dan biaya.

3. Proses Pelayanan Purna Jual

Proses ini merupakan jasa pelaya nan terhadap pelanggan sesudah penjualan produk/jasa berikut dilakukan. Aktivitas yang berjalan di dalam tahapan ini, andaikan penanganan garansi dan perbai kan penanganan atas barang rusak dan yang dikembalikan serta pemrosesan pembayaran pelanggan. Perusahaan sanggup mengukur apakah upayanya di dalam pelaya nan purna menjual ini telah mencukupi harapan pelanggan, bersama memakai tolak ukur yang bersifat kualitas, biaya, dan pas seperti yang ditunaikan di dalam proses operasi. Untuk siklus waktu, perusahaan sanggup memakai pengukuran pas berasal dari pas keluhan pelanggan diterima hingga keluhan berikut diselesaikan.

Baca Juga :

Kuliah Tamu Biologi IPB: Spesies Endemik Banyak Ditemukan di Dataran Tinggi Sulawesi

Kuliah Tamu Biologi IPB Spesies Endemik Banyak Ditemukan di Dataran Tinggi Sulawesi

Kuliah Tamu Biologi IPB: Spesies Endemik Banyak Ditemukan di Dataran Tinggi Sulawesi

Kuliah Tamu Biologi IPB Spesies Endemik Banyak Ditemukan di Dataran Tinggi Sulawesi
Kuliah Tamu Biologi IPB Spesies Endemik Banyak Ditemukan di Dataran Tinggi Sulawesi

Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

(Dept. Biologi FMIPA IPB) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertajuk “IPB – SRC 990/EFForTS Seminar Series (ICESS)” di Ruang Seminar Utama Departemen Biologi FMIPA IPB, Rabu (26/9/2018) .

Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Fabian Brambach yang merupakan seorang peneliti dari University of Goettingen, Jerman. Pada kuliah tamu kali ini topik yang disampaikan oleh Dr. Fabian Brambach yaitu “Diversity, Endemism and Biogeography of Trees Along an Elevation Forest Gradient in Sulawesi”.

Topik yang disampaikan tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilaksanakan oleh SRC 990/EFForTS dengan beberapa universitas antara lain University of Goettingen, IPB, Universitas Jambi, dan Universitas Tadulako.

Dalam kuliah tamu yang dipandu oleh Dr Yohanna C. Sulistyaningsih, M.Si , Dr Fabian Brambach

menjelaskan, pulau Sulawesi merupakan salah satu area geologis yang paling kompleks. Hal ini dikarenakan proses terbentuknya yang diakibatkan berbagai kejadian alam sekaligus.

“Kelestarian dari pulau Sulawesi juga cenderung masih terjaga, salah satu faktornya adalah kondisi geografis tersebut yang menyebabkan akses menuju hutan masih agak sulit dijangkau bila dibandingkan dengan Sumatera dan Kalimantan,” jelas Dr Fabian.

Kuliah tamu tersebut juga turut membahas terkait sebaran spesies tanaman yang tersebar di Sulawesi. Di hadapan peserta yang mayoritas mahasiswa pascasarjana, Dr.Fabian memaparkan bahwa hasil temuan mereka menunjukkan bahwa persebaran tanaman di Sulawesi bahwa 12 persen diantaranya berasal dari dataran Australia sisanya berasal dari Asia dan endemik.

“Pengamatan kami juga menunjukkan bahwa spesies endemik lebih banyak terlihat

di dataran tinggi. Hasil tersebut kami dapatkan dengan mengambil sampel dari 16 ribu individu yang terdiri dari 1.300 spesies tumbuhan. Pendekatan saintifik yang kami gunakan antara lain ilmu Phylogenetic , data dari fosil tumbuhan serta data pola distribusi yang juga membantu kami menyelesaikan riset ini,” paparnya.

Dr. Fabian juga mengisahkan sedikit perjalanannya selama riset tersebut. Ia berada di Sulawesi kurang lebih selama 1,5 tahun. Selama di sana banyak sekali pihak yang membantu, salah satunya, Dr. Sri S Tjitrosoedirdjo.

“Dr. Sri merupakan peneliti asal IPB yang sangat baik kepada saya dan tim. Setelah ini, saya bersama tim SRC 990/EFForTS akan terus menghasilkan riset-riset kolaborasi bersama berbagai pihak di Indonesia terkait persebaran keanekaragaman tumbuhan hingga tahun 2023,” Jawab Dr. Fabian Brambach

 

Baca Juga :