Al-Qur’an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa

Al-Qur’an Sebagai Solusi dalam Membangun Kecerdasan Emosional Siswa

Kecakapan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Kecerdasan emosional dapat diajarkan dan akan memberikan peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi intelektual. Kecerdasan emosional sangat diperlukan untuk menanggulangi tumbuhnya sifat mementingkan diri sendiri, mengutamakan tindak kekerasan, dan sifat-sifat jahat yang lain. Orang yang memiliki kecerdasan emosional dapat mengendalikan diri, memiliki kontrol moral, memiliki kemauan yang baik, dapat berempati (mampu membaca perasaan orang lain), serta peka terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain sehingga memiliki karakter (watak) terpuji dan membangun hubungan antar pribadi yang lebih harmonis.[2][2] Di dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersabar supaya kita mendapatkan pertolongan dari-Nya. Sifat sabar berkaitan dengan kecerdasan emosional. Maka perintah sabar yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an merupakan pembelajaran bagi manusia agar mereka dapat mengembangkan kercerdasan emosionalnya. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (Q.S. Al-Baqarah: 45)
Mintalah pertolongan kepada Allah, untuk menghilangkan sifat-sifat pemalsuan, takabbur, dan keras hati kamu.[3][3]
Allah SWT berfirman dalam ayat lain yang berkaitan dengan kata sabar yang berhubungan dengan moral dan etika. Adapun moral dan etika yang baik adalah ciri dari kecerdasan emosional. Bunyi ayat Al-Qur’an tersebut yaitu:
Artinya: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”.(QS.Ar-Rad:22)
Ayat di atas menunjukkan bahwa ajaran moral dan etika dalam Islam memiliki kekhasan bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Atau dengan kata lain memiliki sibgah rabbaniyyah (celupan warna ketuhanan), baik dari segi sumbernya maupun tujuannya. Sumbernya adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan tujuannya adalah mencapai keridaan-Nya.
Sabar adalah upaya menahan diri berdasarkan tuntutan akal dan agama, atau menahan diri dari segala sesuatu yang harus ditahan menurut pertimbangan akal dan agama. Dengan demikian sabar adalah kata yang memiliki makna umum. Namanya bisa beragam sesuai perbedaan obyeknya. Jika menahan diri dalam keadaan mendapat musibah disebut sabar, kebalikannya adalah al-jaza’u (sedih dan keluh kesah).[4][4]
Kedua ayat di atas mengandung pelajaran tentang bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa dengan sabar dan shalat akan menghilangkan sifat-sifat pemalsuan, takabbur, dan keras hati. Sedangkan penjelasan dari ayat yang lainnya menerangkan bahwa sabar merupakan upaya menahan diri dari segala sesuatu yang harus ditahan menurut pertimbangan akal dan agama. Dari keterangan tersebut dapat diartikan bahwa sifat sabar merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan emosional dalam diri seseorang.
Adapun membangun kecerdasan emosional siswa berarti bertujuan membangun kesadaran dan pengetahuan anak dalam upaya mengembangkan kemampuan nilai-nilai moral dalam dirinya. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan mampu mengatasi beban hidup yang berat menjadi ringan. Termasuk mampu mengatasi semua kekurangan, stres, dan depresi. Kecerdasan emosional membimbing dan menciptakan motivasi untuk menjalani berbagai aktivitas sehingga terbentuk pribadi yang tangguh secara mental dan fisik, yang siap berjuang untuk meraih prestasi terbaik di dalam hidupnya.
Sedangkan tanpa kesadaran emosi, tanpa kemampuan untuk mengenali dan menilai perasaan serta bertindak jujur menurut perasaan tersebut, kita tidak dapat bergaul secara baik dengan orang lain, tidak dapat membuat keputusan dengan mudah, dan sering terombang-ambing, dan tidak menyadari diri sendiri.[5][5]
Kenakalan pelajar adalah sebagian contoh dari kurangnya kecerdasan emosional pada diri mereka. Masalah lain yang muncul ialah bertalian dengan perilaku sosial, moralitas, dan keagamaan misalnya: 1). Keterikatan hidup dalam gang (peers group) yang tidak terbimbing mudah menimbulkan juvenile deliquency (kenakalan remaja) yang berbentuk perkelahian antar kelompok, pencurian, perampokan, prostitusi, dan bentuk-bentuk perilaku antisosial lainnya 2). Konflik dengan orang tua, yang mungkin berakibat tidak senang di rumah, bahkan minggat (melarikan diri dari rumah) 3). Melakukan perbuatan-perbuatan yang justru bertentangan dengan norma masyarakat atau agamanya, seperti menghisap ganja, narkotika, dan sebagainya.[6][6] Dari masalah ini, peran orang tua dan guru sangat penting dalam pembentukan karakter yang baik kepada anak agar perilaku buruk tersebut tidak terjadi pada diri mereka.

Peran Orang Tua dan Guru dalam Membangun EQ pada diri Siswa

Orang tua merupakan pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.[7][7] Selain pendidikan pertama bagi anak-anaknya, orang tua juga adalah teladan pertama yang menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak adalah orang tuanya. Mereka pulalah yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak.[8][8]
Apabila orang tua tidak mendidik anak dengan baik maka akan berakibat buruk bagi psikologi anak. Beberapa kesalahan dalam mendidik anak di antarnya terlalu royal membelikan hadiah kepada anak, terlalu menuntut, terlalu membebani anak dengan masalah yang belum tepat pada usianya, tidak ada waktu untuk mereka, membanding-bandingkan anak, berperilaku yang tidak selayaknya di hadapan anak, dan kurang bisa menahan emosi di hadapan anak. Dampak atau akibat yang ditimbulkan dari kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah mereka menjadi anak yang manja, tidak dapat mengembangkan potensi dirinya karena tuntutan orang tua yang berlebihan, tidak dapat menyelesaikan permasalah diri sendiri, tidak dapat mengatur waktu dengan baik, pilih-kasih dalam bergaul, dan tidak mampu mengelola emosi mereka dengan baik.

SUmber: https://www.gurupendidikan.co.id/usaha-barbershop/