PEMBATALAN DAN PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN

PEMBATALAN DAN PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN

PEMBATALAN DAN PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN

PEMBATALAN DAN PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN
PEMBATALAN DAN PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN

 

Pengertian pembatalan dalam uraian ini mengandung dua macam kemungkinan alasan, yaitu pembatalan karena tidak memenuhi syarat subyektif, dan pembatalan karena adanya wanprestasi dari debitur.

Pembatalan dapat dilakukan dengan tiga syarat yakni:
1) Perjanjian harus bersifat timbale balik (bilateral)
2) Harus ada wanprestasi (breach of contract)
3) Harus dengan putusan hakim (verdict)

Pelaksanaan Perjanjian

Yang dimaksud dengan pelaksanaan disini adalah realisasi atau pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak- pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya. Pelaksanaan perjanjian pada dasarnya menyangkut soal pembayaran dan penyerahan barang yang menjadi objek utama perjanjian. Pembayaran dan penyerahan barang dapat terjadi secara serentak. Mungkin pembayaran lebih dahulu disusul dengan penyerahan barang atau sebaliknya penyerahan barang dulu baru kemudian pembayaran.

Pembayaran

1) Pihak yang melakukan pembayaran pada dasarnya adalah debitur yang menjadi pihak dalam perjanjian

2) Alat bayar yang digunakan pada umumnya adalah uang

3) Tempat pembayaran dilakukan sesuai dalam perjanjian

4) Media pembayaran yang digunakan

5) Biaya penyelenggaran pembayaran

Penyerahan Barang

Yang dimaksud dengan lavering atau transfer of ownership adalah penyerahan suatu barang oleh pemilik atau atas namanya kepada orang lain, sehingga orang lain ini memperoleh hak milik atas barang tersebut. Syarat- syarat penyerahan barang atau lavering adalah sebagai berikut:

1) Harus ada perjanjian yang bersifat kebendaan

2) Harus ada alas hak (title), dalam hal ini ada dua teori yang sering digunakan yaitu teori kausal dan teori abstrak

3) Dilakukan orang yang berwenang mengusai benda

4) Penyerahan harus nyata (feitelijk)

Penafsiran dalam Pelaksanaan Perjanjian

Dalam suatu perjanjian, pihak- pihak telah menetapkan apa- apa yang telah disepakati. Apabila yang telah disepakati itu sudah jelas menurut kata- katanya, sehingga tidak mungkin menimbulkan keraguan- keraguan lagi, tidak diperkenankan memberikan pengewrtian lain. Dengan kata laintidak boleh ditafsirkan lain (pasal 1342 KUHPdt). Adapun pedoman untuk melakukan penafsiran dalam pelaksanaan perjanjian, undang- undang memberikan ketentuan- ketentuan sebagai berikut:

1) Maksud pihak- pihak
2) Memungkinkan janji itu dilaksanakan
3) Kebiasaan setempat
4) Dalam hubungan perjanjian keseluruhan
5) Penjelasan dengan menyebutkan contoh
6) Tafsiran berdasarkan akal sehat

Sumber : https://merkbagus.id/

SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN

SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN

SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN

SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN
SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN

 

Menetapkan kapan saat lahirnya perjanjian mempunyai arti penting bagi :
a) kesempatan penarikan kembali penawaran;
b) penentuan resiko;
c) saat mulai dihitungnya jangka waktu kadaluwarsa;
d) menentukan tempat terjadinya perjanjian.

Berdasarkan Pasal 1320 jo 1338 ayat (1) BW/KUHPerdata dikenal adanya asas konsensual, yang dimaksud adalah bahwa perjanjian/kontrak lahir pada saat terjadinya konsensus/sepakat dari para pihak pembuat kontrak terhadap obyek yang diperjanjikan.
Pada umumnya perjanjian yang diatur dalam BW bersifat konsensual. Sedang yang dimaksud konsensus/sepakat adalah pertemuan kehendak atau persesuaian kehendak antara para pihak di dalam kontrak. Seorang dikatakan memberikan persetujuannya/kesepakatannya (toestemming), jika ia memang menghendaki apa yang disepakati.
Mariam Darus Badrulzaman melukiskan pengertian sepakat sebagai pernyataan kehendak yang disetujui (overeenstemende wilsverklaring) antar pihak-pihak. Pernyataan pihak yang menawarkan dinamakan tawaran (offerte). Pernyataan pihak yang menerima penawaran dinamakan akseptasi (acceptatie).
Jadi pertemuan kehendak dari pihak yang menawarkan dan kehendak dari pihak yang akeptasi itulah yang disebut sepakat dan itu yang menimbulkan/melahirkan kontrak/perjanjian.

Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk menentukan saat lahirnya kontrak yaitu:
a. Teori Pernyataan (Uitings Theorie)
Menurut teori ini, kontrak telah ada/lahir pada saat atas suatu penawaran telah ditulis surat jawaban penerimaan. Dengan kata lain kontrak itu ada pada saat pihak lain menyatakan penerimaan/akseptasinya.
b. Teori Pengiriman (Verzending Theori).
Menurut teori ini saat pengiriman jawaban akseptasi adalah saat lahirnya kontrak. Tanggal cap pos dapat dipakai sebagai patokan tanggal lahirnya kontrak.
c. Teori Pengetahuan (Vernemingstheorie).
Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat jawaban akseptasi diketahui isinya oleh pihak yang menawarkan.
d. Teori penerimaan (Ontvangtheorie).
Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat diterimanya jawaban, tak peduli apakah surat tersebut dibuka atau dibiarkan tidak dibuka. Yang pokok adalah saat surat tersebut sampai pada alamat si penerima surat itulah yang dipakai sebagai patokan saat lahirnya kontrak.

Sumber : https://www.anythingbutipod.com/

Karakter Anak Perlu Dibangun Sejak Dini

Karakter Anak Perlu Dibangun Sejak Dini

Karakter Anak Perlu Dibangun Sejak Dini

Karakter Anak Perlu Dibangun Sejak Dini
Karakter Anak Perlu Dibangun Sejak Dini

Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemdikbud ini mengulas

tentang ancaman yang mengitari anak seperti kekerasan, narkoba, pornografi, tindakan amoral dan radikalisme. Hal ini disampaikan Enah Suminah ketika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Karakter yang digelar Ikatan Alumni Magister Manajemen Pendidikan Islam bekerjasama dengan Pascasarjana PTIQ di Aula Kampus PTIQ, belum lama ini.

“90 persen otak berkembang sebelum 5 tahun untuk membangun jaringan sel. Karena itu dalam periode ini, orang tua dan anggota lingkungan lain perlu melakukan internalisasi nilai kepada anak yaitu dengan cara habituasi dan pemodelan,” ujar Enah.

Dia menekankan tentang pentingnya membangun karakter pada anak. “

Kehilangan uang tidak kehilangan apa-apa, kehilangan kesehatan hanya kehilangan separuh hidup, tapi kehilangan karakter sama dengan kehilangan semuanya,” tegasnya.

Sementara itu, Susanto, dalam presentasinya sebagai narasumber kedua membahas tentang kekerasan pada anak. Sebagai ketua KPAI, Susanto menyampaikan tentang pentingnya menjauhi kekerasan pada anak, baik itu kekerasan verbal, psikis, fisik, maupun simbolik.

Mengutip, UU no 35 tahun 2014 pasal 1 tentang perlindungan anak, beliau mendefinisikan kekerasan sebagai setiap perbuatan yang menimbulkan kesengsaraan/penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran.

Sebelumnya Darwis Hude, selaku Direktur Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta

dalam pembukaan menjelaskan tentang makna fitrah yang disebut dalam hadis bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.

“Fitrah ialah bermakna potensi. Dan potensi ini ada tiga macam, yaiut biogenetis, sosiogenetis, dan tiogenetis,” papar beliau.

Seminar ini dihadiri 200 peserta yang berasal dari guru TK, RA dan PAUD se Jabodetabek. Selain mereka, seminar ini juga dihadiri oleh guru TPQ, guru MI dan MTs serta mahasiswa dan dosen PTIQ jakarta juga tidak mau ketinggalan ikut memeriahkan.

 

Baca Juga :

PGRI: Tes CPNS Diskriminatif bagi Guru Honorer

PGRI Tes CPNS Diskriminatif bagi Guru Honorer

PGRI: Tes CPNS Diskriminatif bagi Guru Honorer

PGRI Tes CPNS Diskriminatif bagi Guru Honorer
PGRI Tes CPNS Diskriminatif bagi Guru Honorer

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mendesak pemerintah dan DPR

segera merevisi UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), karena diskriminatif terhadap guru honorer.

Guru honorer yang mengabdi lama dan terdata hendaknya dapat mengikuti tes CPNS hingga berusia 45 tahun, dari usianya sebelumnya hanya 35 tahun. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi, pada wartawan di Jakarta, Rabu (19/9) malam,

“Pertimbangannya karena mereka telah puluhan tahun mengabdi dan puluhan tahun tidak ada perekrutan. Mereka menunggu kesempatan yang tak kunjung tiba,” ujar dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Unifah Rosyidi mengatakan guru honorer membutuhkan kejelasan status.

Jika mereka tidak diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), pemerintah harus mempertimbangkan nasib mereka dengan memberi status sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).

Unifah menuturkan, desakan para guru honorer disebabkan karena regulasi calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang membatasi usia tertentu tidak berpihak kepada mereka. Sebagian besar guru honorer ini telah mengabdi selama lebih dari 10 tahun mengisi kekosongan guru karena pemerintah tidak melakukan rekruitmen guru.

PGRI juga mengadakan rapat pleno atas ketidakadilan yang terjadi selama ini berlandaskan pada laporan, desakan, serta tuntutan dari guru honorer dan pengurus PGRI provinsi, kabupaten/kota, cabang, dan ranting di berbagai wilayah di Indonesia terkait dengan proses rekrutemen CPNS yang dirasakan tidak memberikan keadilan bagi guru honorer, Keputusannya, mereka mengirimkan surat kepada Menpan-RB yang ditembuskan kepada Presiden, Mendikbud, Mensesneg, BKN, Menkeu, DPR, DPD dan pihak terkait, untuk memohon agar ada keberpihakan pada guru.

“PGRI mendesak untuk memberikan rasa keadilan segera terbitkan PP tentang P3K bagi guru,

tenaga kependidikan honorer yang berusia 35 tahun ke atas yang terdata baik K1 yang tercecer maupun K2 dan dapat dilakukan oleh Pemda masing-masing,” kata Unifah.

Selanjutnya, Unifah juga meminta pemerintah untuk menyederhanakan aturan dalam PP P3K. Sebab, para guru kontrak hanya sekali memperoleh jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan serta memperoleh kesempatan mengikuti sertifikasi guru. Bagi yang sudah disertifikasi, sertifikatnya diakui untuk mendapat tunjangan profesi guru (TPG).

Selain itu, PGRI meminta dalam jangka pendek agar rekrutmen CPNS ditunda sampai ada regulasi yang mengatur penyelesaian guru dan tenaga kependidikan honorer, baik kategori 1 (K1) yang tercecer belum diangkat maupun kategori 2 (K2) yang namanya sudah ada dalam data base. Terutama yang usianya di atas 35 tahun, telah mengabdi puluhan tahun dan mengisi ruang-ruang kelas akibat 10 tahun tidak ada rekrutmen guru.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/

Fokus Terapkan Zonasi, Sistem PPDB 2019 Diubah

Fokus Terapkan Zonasi, Sistem PPDB 2019 Diubah

Fokus Terapkan Zonasi, Sistem PPDB 2019 Diubah

Fokus Terapkan Zonasi, Sistem PPDB 2019 Diubah
Fokus Terapkan Zonasi, Sistem PPDB 2019 Diubah

Penerapan sistem penerimaan perserta didik baru (PPDB) pada tahun ajaran baru 2017/2018

banyak meninggalkan masalah di lapangan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, untuk PPDB pada tahun selanjutnya tidak akan dilakukan dengan sistem yang sama. Pasalnya, Kemdikbud mengubah skema PPDB.

Dijelaskan Muhadjir, PPDB yang biasanya dibuka menjelang tahun ajaran baru untuk ajaran 2019/2020 tidak terjadi lagi. Dalam hal ini, para siswa sejak awal tahun telah dikelompokkan dan ditentukan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya sesuai dengan zonasi.

“PPDB bukan tidak ada, tetapi sistemnya kami ubah. Jadi tidak ada lagi penerimaan siswa baru

menjelang ajaran baru yang menimbulkan masalah itu. Namun para siswa sejak awal sudah tahu akan melanjutkan ke mana dengan sesuai dengan sistem zonasi,” kata mantan rektor Univeritas Muhammadyah Malang (UMM) pada Pembukaan Rapat Koordinasi Pengembangan Zonasi Dalam Rangka Pemerataan Kualitas Pendidikan Tahun 2018, Region II Jakarta, di hotel Golden Boutique, Jakarta, Senin(17/9) malam.

Muhadjir mengatakan, sejauh ini Kemdikbud telah menetapkan 1.900 zonasi. Namun jumlah tersebut akan bertambah bahkan berkurang sesuai masukan dari kepala dinas pendidikan (kadisdik) dan pemerintah daerah/kota serta provinsi yang sejauh ini ditugaskan untuk mendata daya dukung pendidikan setiap zonasi. Mulai dari ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras) hingga kebutuhan guru.

Menurut Muhadjir, melalui skema zonasi, sekolah dan kadisdik mengantongi data siswa setia

p jenjang dalam satu zonasi. Dalam hal ini, para siswa tersebut sebelum menyelesaikan studinya pada suatu jenjang. Ia telah mengetahui akan melanjutkan pendidikan ke sekolah mana dalam zonasi tersebut termasuk alternatif pilihan keduanya.

Sedangkan, bagi siswa yang merasa ingin memperoleh layanan pendidikan lebih dari yang disiapkan negara, Muhadjir menyarankan untuk melanjutkan pendidikan pada sekolah swasta yang bermutu baik.

Selanjutnya Muhadjir mengatakan, untuk zonasi yang kekurangan ruang kelas dengan daya tampung tinggi untuk menerapkan zonasi. Muhadjir mengaku, pemerintah masih memiliki waktu untuk mempersiapkan hingga tahun ajaran baru dimulai.

“Untuk masalah daya tampung sekolah kami lakukan indentifikasi sejak awal maka sekolah dan pemerintah daerah mempersiapkan dari jauh-jauh hari kebutuhan sarpras seperti penambahan ruangan, pembangunan gedung baru dan lainnya, sehingga peserta didik dalam zonasi tersebut mendapat hak yang sama,” papar guru besar Universitas Negeri Malang ini.

 

Sumber :

https://daftarpaket.co.id/

Permasalahan Pembelajaran IPA di Sekolah

Permasalahan Pembelajaran IPA di Sekolah

IPA sebagai suatu penopang pembelajaran punyai masalah tersendiri yang turut andil menjadi sebuah problematika muka pendidikan tanah air. Permasalahan ini seolah membuka tabir histori pendidikan yang tak dulu berubah sejalan kemajuan dan perubahan kurikulum. Memang pada dasarnya kurikulum hadir bukan untuk menghilangkan masalah tetapi apakah problematika ini menjadi identitas negeri kita? Oleh Choiri menjelaskan bahwa banyak masalah pembelajaran IPA yang diangkat ke fasilitas tanpa adanya inovasi pembelajaran di kelas, seakan-akan tetap bertahan bahkan jatuh pada lobang yang sama, lantas bagaimana bersama dengan kemajuan yang kami inginkan?

Selain itu pertolongan materi pun wajib diperhatikan, hal ini untuk jauhi kesalahan / kekurangan penerimaan konsep pada anak bersama dengan benar bersama dengan memperhatikan psikologi anak yang di awali berasal dari pembukaan, sampai evaluasi di akhir pembelajaran pertama ini. Pembelajaran artinya di mana penyampaian materi bersama dengan umpama yang terdekat bersama dengan anak supaya akan lebih mudah sadar dan dirasakan lebih bernilai, maksudnya lebih bisa bermanfaat bukan hanya cuman teori dan menyenangkan.

Permasalahan lain yang timbul yaitu tidak adanya fasilitas pembelajaran yang cukup untuk menjelaskan suatu konsep di luar praktikum dan observasi. Hal ini akan mempersulit anak di dalam sadar konsep supaya tak jarang anak sadar di luar konsep yang sesungguhnya menjadi guru wajib kreatif dan inovatif.

Berdasarkan hasil monitoring kelas pada kala pembelajaran IPA, banyak sekali masalah yang keluar yang dialami oleh guru, diantaranya:
1).Guru tidak siap mengajar, di dalam arti kadang-kadang guru belum sadar konsep materi yang diajarkan.
2).Kesulitan sadar pelajaran, guru sering susah di dalam menghidupkan minat belajar anak
3).Kurang optimal di dalam penerapan metode pembelajaran yang ada.
4).Kesulitan memilih dan memilih alat peraga yang cocok bersama dengan materi yang diajarkan.
5).Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa dan sering berwujud verbalistik.

Kegiatan membenahi impuls dan prestasi merupakan kesibukan awal pembelajaran. Kegiatan itu wajib dirancang sebaik bisa saja manfaat mengkoordinasikan murid-murid untuk “siap” belajar, terima pelajaran bersama dengan bertanya dan menggali pengetahuan pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan yang bisa menambahkan impuls bisa dilakukan bersama dengan gunakan beraneka metode dan pendekatan, seumpama metode ceramah (bercerita), peragaan, demonstrasi, dan sosio drama bersama dengan bermain peran, serta metode Tanya jawab.

Pada kesibukan menambahkan motivasi, guru hendaknya menambahkan pertanyaan yang mengarahkan pada materi yang akan dibahas, supaya keluar beraneka opini anak perihal beraneka macam pelajaran. Hal ini penting sekali bagi murid untuk menghilangkan pola pembelajaran DDCH (duduk, dengar, catat dan hapal).

Pola pembelajaran DDCH punyai kelemahan, yaitu:
1).Kurangnya jalinan guru supaya murid bisa menurunkan impuls anak belajar.
2).Murid apatis sebab tidak ada keaktifan keluar di dalam proses pembelajaran.
3).Murid susah sadar konsep materi pelajaran.
4).Munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar.
5).Materi pelajaran yang diserap murid masuk di dalam ingatan jangka pendek alias STM (short time memory).
6).Prestasi pembelajaran IPA condong menurun.

Untuk kurangi beraneka masalah diatas, guru bisa mengembangkan pendekatan pembelajaran “PAKEMI” dan inovatif, pembelajaran aktif, kreatif, enak, menyenangkan.

Pendekatan pembelajaran PAKEMI paling tidak bisa mempunyai angina perubahan di dalam pembelajaran, yaitu:
1).Guru dan murid sama-sama aktif dan berlangsung jalinan timbal balik antar keduanya.
2).Guru dan murid bisa mengembangkan kreativitasnya di dalam pembelajaran.
3).Murid menjadi senang dan nyaman di dalam pembelajaran.
4).Munculnya pembahasan di dalam pembelajaran di kelas.

Akhirnya pembelajaran yang dilakukan kalau menginginkan raih “Sukses” terlalu tergantung pada sebagian faktor, yaitu: guru, murid, obyek yang akan dicapai, pemanfaatan fasilitas pembelajaran, metode diterapkan dan proses evaluasi, pengetahuan yang pas yang dimiliki siswa mengarahkan perhatiannya pada satu atau dua hal spesifik berasal dari semua materi yang tengah dipelajari.

Sumber : https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

Baca Juga :

Permasalahan Pembelajaran IPS di Sekolah

Permasalahan Pembelajaran IPS di Sekolah

Dalam mengembangkan kapabilitas siswa, pendidik perlu bisa mengelola sistem pembelajaran dengan baik. Proses pembelajaran yang baik dan berkwalitas punya faedah dan tujuan untuk mengaktifkan siswa di di dalam kelas dan juga menaikkan pemahaman siswa pada pelajaran. Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas, apabila siswa terlibat secara aktif di dalam sistem pembelajaran di kelas, dan juga meningkatnya pemahaman siswa di di dalam kelas. Untuk menaikkan aktivitas dan pemahaman siswa di di dalam kelas, maka perlu dibuat suatu konsep pembelajaran yang baik.

Pembelajaran IPS khususnya di sekolah dasar, menunjukan indikasi bahwa pola pembelajaran yang di kembangkan oleh guru condong berbentuk teks book oriented, hanya memindahkan ilmu secara utuh yang tersedia di kepala guru kepada kepala murid. Akibatnya guru udah terasa mengajar dengan baik, namun pada sesungguhnya murid tidak belajar.

Disamping itu pola pembelajaran yang demikian menyebabkan siswa jenuh, siwa tidak di ajarkan berpikir logis hanya mementingkan pemahaman dan hafalan. Hal ini yang menyebabkan pelajaran ini kurang di gemari banyak siswa, pembelajaran IPS terkesan tidak menarik bagi siwa karena area lingkupnya yang luas. Sebagian siswa terasa stres dengan pembelajaran ini karena banyaknya materi yang perlu di hafal, supaya kapabilitas berpikir logis, kapabilitas mengingat dan konsentrasi menjadi menurun. Siswa berasumsi pelajaran IPS adalah pelajaran yang monoton dan kurang bervariasi, di perparah ulang sama langkah guru yang mengajarkannya terlampau teoritis dan juga tidak memanfaatkan tempat pembelajaran.

Selain itu, kejenuhan di dalam pembelajaran IPS bakal menyebabkan siswa kurang fokus di dalam belajar. Ketika siswa jenuh, siswa lebih pilih hal-hal yang menurut mereka lebih menyenangkan, seperti mengobrol dengan temannya atau termasuk asik dengan imajinasinya sendiri. Hal seperti itu bakal berpengaruh pada penguasaan materi pelajaran. Siswa tidak bakal menyerap apa yang bakal di paparkan oleh guru apa apabila kondisi siswanya tidak di dalam kondisi siap belajar.

Proses pembelajar yang menggembirakan merupakan keliru satu faktor yang bisa mendukung keberhasilan suatu pembelajaran karena kala pembelajaran itu di jalankan dengan langkah yang menyenangkan, maka materi yang di pelajari bakal ringan di terima dan di memahami dengan baik oleh siswa. Untuk mengatasi pembelajaran IPS supaya tidak monoton dan lebih bervariasi, maka bisa di memanfaatkan tempat pembelajaran. Tujuan pemanfaatan tempat pembelajaran tersebut adalah untuk memperjelas penyampaian materi pelajaran dan juga memfokuskan perhatian siswa pada materi pelajaran. Menciptakan kondisi belajar yang variatif dan aktif sangatlah penting, oleh karena itu pemilihan langkah dengan memanfaatkan tempat pembelajaran yang pas merupakan keliru satu kuncinya.

Ada beberapa perihal yang di keluhkan oleh guru di dalam sistem pembelajaran IPS, misalkan layanan pendukung pembelajaran IPS yang tidak sesuai dengan kebutuhan, ketidaksiapan berasal dari guru yang tersedia di sekolahnya untuk membelajarkan IPS secara modern melalui tempat yang canggih.

Dalam pembelajaran di kelas, guru IPS kurang memanfaatkan metode pembelajaran yang banyak variasi dan tetap kurang memanfaatkan metode diskusi di di dalam kelas. Ada beberapa metode pembelajaran yang perlu divariasikan oleh guru di kelas, apabila bertanya jawab, kartu berpasangan, mind mapping dan lain sebagainya. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru udah baik, namun tetap kurang menggali kapabilitas siswa untuk menemukan ide-ide baru dan berdiskusi.

Pembelajaran IPS yang tetap jarang memanfaatkan aktivitas diskusi, bukan merupakan kasus utama di dalam sistem pembelajaran di kelas. Ada beraneka macam kasus yang sering dialami oleh guru IPS di di dalam kelas, apabila siswa belum aktif di di dalam kelas yang ditandai dengan siswa jarang mengeluarkan pendapat maupun bertanya, siswa ribut sendiri dengan temannya sementara sistem pembelajaran, dan siswa belum aktif di dalam aktivitas kelompok.

Jadi, untuk menaikkan kualitas pembelajaran IPS di sekolah, semua faktor perlu berperan maksimal seperti kualitas guru yang perlu maksimal untuk kenyamanan pembelajaran dan media-media yang bisa mendukung pemahaman siswa pada materi yang di ajarkan.

Sumber : https://materisekolah.co.id/contoh-teks-eksplanasi-pengertian-ciri-struktur-kaidah-kebahasaan-dan-contoh-lengkap/

Baca Juga :

Sejarah Penulisan: Dari Zaman Yunani Sampai Abad XX

Sejarah Penulisan: Dari Zaman Yunani Sampai Abad XX

Pendahuluan
Sejarah moderen sepanjang ini diakui berasal dari eropa, sehingga sejarah historiografi eropa yang paling kerap dibicarakan. Selain itu juga menyatakan perubahan pendekatan, pendekatan retorika, pendekatan sejarah kritis, dan pendekatan ilmu sosial.

Sejarah historiografi eropa dapat dicermati sebagai gejala yang terikat oleh waktu (time bound) dan terikat oleh kebudayaan (culture bound) zamannya.

Zaman Yunani dan Romawi
Penulis sejarah dari Yunani yang tenar adalah Herodotus (ca. 484-425 SM), Thucydides (ca. 456-396 SM), dan Polybius (ca. 198-117 SM).

Penulis sejarah Romawi adalah Julius Caesar (100-44 SM), Sallustius (ca. 86-34 SM), Livius (59 SM-17 M), dan Tacitus (ca. 55-120 M).

Zaman Kristen Awal dan Zaman Pertengahan
Kemenangan kristen di eropa membawa pengaruh yang luas, juga didalam penulisan sejarah. Kebudayaan yunani dan romawi yang berwujud paganisme dan bertumpu terhadap kapabilitas akal diakui hasil setan dan ditolak, digantikan oleh kebudayaan kristen yang bertumpu terhadap agama dan supernaturalisme. Sejarah dan teologi tidak dapat dipisahkan.

Penulisan sejarah di eropa terhadap zaman kristen awal dan zaman pertengahan membawa dua pusat yaitu, gereja dan negara, bersama pendeta dan raja sebagai pelaku utama.

Hasilnya berwujud annals, chronicles, sejarah lazim dan biografi.

Annals, adalah catatan peristiwa penting, kebanyakan didalam kalimat pendek
Chronicles adalah menggambarkan peristiwa yang lebih luas
Sejarah lazim berwujud sistematis dan disusun berdasarkan topik
Biografi ditulis berdasarkan pengalaman, kebanyakan oleh orang yang ditugaskan untuk itu.

Abad XVI: Zaman Renaissans, Reformasi dan Kontra-Reformasi
Para penulis sejarah renaissans mencerminkan cita-cita renaissans yang lihat impuls pagan dan kebudayaan klasik yunani-romawi sebagai model. Teologi tidak kembali jadi fokus dan lukisan tentang keajaiban sudah berkurang. Tetapi jangan dibayangkan itu sama bersama impuls kebudayaan modern. Renaissans lihat ke belakang, tetapi kebudayaan moderen lihat ke depan. Pada kebanyakan historiografi zaman ini memanfaatkan bahasa latin.

Zaman renaissans, reformasi dan kontra reformasi yang berlangsung kurang lebih terhadap abad ke 16 membawa tema yang sama, sama sekali bersama alasan yang berbeda, bersama zaman di awalnya yaitu sejarah agama dan sejarah politik.

Abad XVII: Zaman Penemuan Daerah Baru
Penemuan daerah-daerah baru terhadap abad ke-15, ke-16, dan ke-17 membawa pengaruh mutlak bagi pertumbuhan historiografi eropa. Hampir semua bangsa eropa yang membawa akses ke laut menyumbang pertumbuhan historiografi. Pada zaman ini sejarah sosial jadi tema utama.

Abad XVIII: Zaman Rasionalisme dan Pencerahan
Rasionalisme terhadap abad ke-17 sebagaimana dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) dari prancis, francis bacon (1561-1626) dari inggris, dan baruch spinoza (1632-1677) dari belanda, baru memengaruhi historiografi terhadap abad ke-18. Sikap universal kaum rasionalis sudah meluaskan pandangan orang eropa secara geografis. Topik yang cocok bersama pandangan universal itu ialah sejarah peradaban. Ada 3 aliran utama yaitu yang radikal yang dipelopori oleh Voltaire, yang moderat dan konservatif dipelopori oleh Montesquieu, dan yang sentimental dipelopori oleh Rousseau.

Abad XIX: Zaman Romantisisme, Nasionalisme, dan Liberalisme
Historiografi didalam abad XIX ditandai bersama ciri-ciri sebagai berikut: (1) penghargaan kembali terhadap zaman pertengahan, (2) timbulnya filsafat sejarah, (3) timbulnya teori “orang besar”, (4) timbulnya nasionalisme dan (5) timbulnya liberalisme sebagai akibat revolusi inggris terhadap abad ke-17, revolusi amerika, revolusi prancis, perang kemerdekaan prusia, dan revolusi terhadap 1830 dan juga 1848.

Akhir Abad XIX dan Abad XX: Sejarah Kritis dan Sejarah Baru
Sejarah baru utamakan pentingnya ilmu-ilmu sosial. Kalau historiografi klasik utamakan rhetorik, tetapi historiografi moderen utamakan kritik, maka sejarah baru utamakan ilmu sosial. Sejak itu ada pendekatan kembali sejarah dan ilmu-ilmu sosial.

Sekalipun ada kecenderungan balik yang utamakan sejarah naratif, seperti terhadap sejarah mentalitas dan sejarah kebudayaan, jadi sejarah kembali terhadap rhetorik, tapi pendidikan ilmu sosial selamanya penting.

Baca Juga :

Proses Fotosintesis Lengkap

Proses fotosintesis dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu faktor-faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi lingkungan atau faktor-faktor yang tidak secara langsung mempengaruhi, misalnya, tekanan fungsi-fungsi tertentu dari organ-organ yang penting untuk proses fotosintesis.

Proses ini secara efektif berlaku untuk kondisi lingkungan yang meliputi keberadaan sinar matahari, suhu sekitar dan konsentrasi karbon dioksida (CO2). Ini disebut faktor pembatas dan memiliki pengaruh langsung pada laju fotosintesis.

Faktor pembatas ini dapat mencegah laju fotosintesis dari mencapai kondisi optimal bahkan jika kondisi lain untuk fotosintesis telah meningkat, itulah sebabnya faktor pembatas ini sangat mempengaruhi laju fotosintesis dengan mengendalikan laju fotosintesis yang optimal.

Proses Fotosintesis Lengkap

Lebih lanjut, faktor-faktor seperti translokasi karbohidrat, usia daun dan ketersediaan nutrisi yang mempengaruhi fungsi organ penting dalam fotosintesis juga secara tidak langsung mempengaruhi laju fotosintesis.

Beberapa faktor utama yang dapat mempengaruhi laju fotosintesis:

Intensitas cahaya
Tingkat maksimum fotosintesis ketika banyak cahaya.

Konsentrasi karbon dioksida
Semakin besar karbon dioksida di udara, semakin banyak bahan yang digunakan tanaman untuk melakukan fotosintesis.

Suhu
Enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optik. Secara umum laju fotosintesis meningkat dengan peningkatan suhu hingga batas toleransi enzim.

Kandungan air
Kekeringan atau kekurangan air dapat menyebabkan penutupan stomata dan menghambat laju penyerapan karbon dioksida, sehingga mempengaruhi laju fotosintesis.

Konten fotosintesis (hasil fotosintesis)
Ketika kadar fotosintesis seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis meningkat. Jika kadar fotosintesis naik atau bahkan jenuh, laju fotosintesis akan menurun.

Fase pertumbuhan
Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tanaman yang berkecambah daripada pada tanaman dewasa. Ini bisa disebabkan oleh fakta bahwa tanaman yang berkecambah membutuhkan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis
Pada awal abad ke-120, Frederick Frost Blackman dan Albert Einstein mempelajari efek intensitas cahaya (emisi) dan suhu pada tingkat asimilasi karbon.

Dalam transmisi tetap, tingkat asimilasi karbon meningkat dengan meningkatnya suhu. efek ini hanya dapat dilihat pada level pemancar tinggi. Pada pemancar yang lebih rendah, peningkatan suhu tidak banyak berpengaruh pada tingkat asimilasi karbon.
Pada suhu tetap, laju asimilasi karbon lebih bervariasi dengan emisi, pada awalnya meningkat seiring dengan peningkatan emisi secara bersamaan. Namun, pada tingkat penularan yang lebih tinggi, hubungannya tidak berlangsung lama dan laju asimilasi karbon berubah secara konstan.
Poin penting dari dua percobaan ini adalah:

Eksperimen Blackman menunjukkan konsep faktor pembatas. Penghalang lain adalah panjang gelombang cahaya. Cyanobacteria, yang hidup beberapa meter di atas tanah, tidak dapat memperoleh panjang gelombang tepat yang digunakan untuk menghasilkan pemisah yang diinduksi foton dalam pigmen fotosintesis tradisional. Untuk membatasi masalah ini, serangkaian protein dengan pigmen yang berbeda mengelilingi pusat reaksi. Ini disebut fikobilisome.
Secara global, reaksi fotokimia tidak dipengaruhi oleh suhu. Namun, percobaan ini dengan jelas menunjukkan bahwa suhu dapat mempengaruhi laju asimilasi karbon, sehingga ada dua rangkaian reaksi dalam proses asimilasi karbon. Ini adalah tahap ‘fotokimia’ tergantung pada suhu dan cahaya tetapi bukan udara.
Tingkat karbon dioksida dan fotorespirasi
Ketika konsentrasi karbon dioksida meningkat, tingkat gula yang dihasilkan oleh reaksi tergantung cahaya meningkat hingga dibatasi oleh sebab-sebab lain: RuBisCO, suatu enzim yang meningkatkan karbon dioksida dalam reaksi dalam gelap, meningkatkan oksigen dan karbon. Ketika konsentrasi karbon dioksida tinggi, RuBisCO akan menunjukkan karbon dioksida. Namun, dengan konsentrasi karbon dioksida rendah, RuBisCO akan meningkatkan oksigen dan bukan karbon dioksida. Proses ini, yang disebut fororespirasi, menggunakan energi tetapi tidak menghasilkan gula.

Aktivitas RuBisCO oxygenase tidak menguntungkan bagi tanaman karena alasan berikut:

Salah satu produk dari aktivitas oksigennya adalah fosfoglikolat (2 karbon) dan bukan 3-fosfat

Sumber : https://santinorice.com/

Penegakan Hukum Krusial dalam Literasi Penggunaan Media

Penegakan Hukum Krusial dalam Literasi Penggunaan Media

Penegakan Hukum Krusial dalam Literasi Penggunaan Media

Penegakan Hukum Krusial dalam Literasi Penggunaan Media
Penegakan Hukum Krusial dalam Literasi Penggunaan Media

Media massa arus utama (mainstream) mempunyai tantangan besar untuk tetap menjadi penjaga

pintu gerbang informasi (the gatekeeper) terkait maraknya berita hoaks yang masih masif beredar.

Media massa arus utama harus bisa bersaing dalam menyuarakan kebenaran dan mendistribusikan informasi dalam bentuk berita yang bisa dipertanggung jawabkan secara kaidah jurnalistik

“Semua orang bisa jadi wartawan. Tapi belum tentu semuanya baik, ada yang anti Pancasila, dan lainya. Apa yang terjadi? Media sosial dibanjiri konten yang isinya sampah, yakni hoaks. Oleh karena itu masyarakat perlu diberi literasi tentang apa yang disebut hoaks, bagaimana regulasinya, ada UU ITE dan lain-lain,” kata staf ahli Menteri Kominfo bidang Hukum Hendri Subiakto dalam diskusi “Literasi Media Sebagai Alat Pemersatu Bangsa”, di Jakarta, Jumat (12/7/2019) petang.

Diskusi publik yang diadakan Generasi Milenial se-Jabodetabek ini menghadirkan pemimpin media a

rus utama yakni Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Aditya Laksamana Yudha, Ali Akbar Pemimpin Redaksi Harian Terbit, Jodi Yudhono Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO), dan dihadiri delegasi mahasiswa-mahasiswi berbagai universitas se-Jabodetabek.

Hendri menyebutkan, perkembangan era digital yang ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan, telah mengubah cara-cara dan pola komunikasi masyarakat, dan menjadikan arus informasi mengalir deras dan cepat.

Menjelang dan sesudah pesta demokrasi tahun ini Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif, masyarakat terpapar oleh jutaan informasi tidak terverifikasi.

Banyak pihak, atau golongan tertentu yang menggunakan mesin hoaks secara masif. Ada kubu yang konsisten memproduksi hoaks untuk mendapatkan dukungan. Tak ayal, warga terpolarisasi, terkubu-kubu, bahkan banyak persaudaraan retak.

Untuk itu menurut Hendri penanganan hoaks harus mencakup dari hulu, seperti literasi melalui diskusi publik.

Kedua ada di tengah, misalnya ada yang membuat lembaga tertentu untuk menunjukkan mana yang hoaks dan bukan, termasuk fact checker. Lalu ada Masyarakat Anti Fitnah, yang bisa diajak berdiskusi. “Yang terakhir adalah penegakan hukum,” kata Hendri.

Hendri menambahkan pemerintah kini tengah menggodok sanksi bagi platform media sosial atau chatting yang membiarkan hoaks beredar.

“Di sini juga kita tekankan kepada platformnya, kalau ada hoaks, yang beredar di facebook, mereka akan kita ingatkan supaya mereka punya mekanisme tidak membiarkan platformnya dipakai,” tegasnya

 

Baca Juga :