Karakteristik Quantum Learning

Karakteristik Quantum Learning

Karakteristik Quantum Learning

Karakteristik Quantum Learning
Karakteristik Quantum Learning
Karakteristik umum yang membentuk sosok pembelajaran kuantum sebagai berikut: 

• Quantum belajar berasal dari psikologi kognitif

Quantum belajar berasal dari psikologi kognitif, fisika kuantum, meskipun tidak semua syarat dan konsep bit kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang mengajar, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum.

• Quantum Learning

Quantum Learning adalah lebih humanistik, bukan positivistis-empiris, “kebinatangan”, dan atau nativistic. Manusia sebagai peserta didik menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, motivasi kekuasaan, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara optimal, atau optimal. Hadiah dan hukuman dipandang tidak ada karena semua usaha manusia terpuji.

• Quantum Learning lebih constructivistic

Quantum Learning lebih constructivistic, daripada positivistik-empiris, Behavioristik, dan atau maturasionistic. Oleh karena itu, menurut pendapat penulis, naungan konstruktivisme dalam pembelajaran kuantum relatif kuat. Bahkan dapat dikatakan di sini bahwa pembelajaran kuantum merupakan salah satu refleksi dari filsafat konstruktivisme kognitif, konstruktivisme sosial tidak.

• Quantum Learning menggabungkan usaha [mengintegrasikan]

Quantum Learning menggabungkan usaha [mengintegrasikan], menyinergikan, dan faktor rumit seperti manusia potensi diri-pembelajar dengan lingkungan [kesehatan fisik dan mental] sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa pembelajaran kuantum tidak terpisah dan tidak membedakan antara res cogitans dan res extenza, antara apa yang dalam dan apa yang di luar. Dalam pandangan pembelajaran kuantum, mental-fisik lingkungan dan kemampuan pikiran manusia atau diri sama-sama penting dan saling mendukung.
• Quantum Learning berfokus pada kualitas dan interaksi yang bermakna, bukan hanya transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam pembelajaran kuantum. Oleh karena itu, penekanan pembelajaran kuantum pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi kualitas dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi kualitas dan bermakna yang dapat mengubah energi pikiran dan kemampuan peserta didik bakat alami ke dalam lampu yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
• Quantum belajar mempercepat penekanan besar pada pembelajaran dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Berikut pemercepatan belajar diasumsikan sebagai sebuah lompatan kuantum. Singkatnya, menurut kuantum pembelajaran, proses pembelajaran harus berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, semua hambatan dan rintangan yang dapat memperlambat proses pembelajaran harus dihapus, dihilangkan, atau dieliminasi. Berikut berbagai tips, bagaimana, dan teknik dapat digunakan, untuk penerangan misalnya, iringan musik, suasana menyegarkan, lingkungan yang nyaman, pengaturan tempat duduk santai, dan sebagainya.
• Belajar adalah menekankan sifat kuantum dan proses kewajaran belajar, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan keadilan menyebabkan suasana yang nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang pretensi keartifisialan dan menghasilkan suasana tegang, kaku, dan membosankan.Oleh karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran alami dan adil.
• Quantum kualitas pembelajaran menekankan pentingnya dan proses pembelajaran.Proses belajar tidak signifikan dan bukan kualitas kegagalan menghasilkan, dalam hal tujuan pembelajaran tidak tercapai. Oleh karena itu, semua upaya yang memungkinkan realisasi makna dan belajar kebermutuan harus dilakukan oleh guru atau fasilitator. Dalam konteks ini perlu disajikan oleh pengalaman yang dapat dimengerti dan bermakna bagi peserta didik, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai.
• Quantum Learning memiliki model yang menggabungkan konteks dan isi pembelajaran. Konteks meliputi atmosfer memberdayakan belajar, dasar yang kuat, lingkungan yang menarik atau dukungan, dan desain pembelajaran yang dinamis. Isi meliputi presentasi dari belajar yang sangat baik, memfasilitasi, keterampilan yang fleksibel belajar keterampilan-untuk-belajar, dan kehidupan. Konteks dan konten tidak dapat dipisahkan, saling mendukung, yang memainkan seperti orkestra simfoni.Pemisahan dua hanya akan membawa kegagalan pembelajaran. Kekompakan dan kesesuaian keduanya secara fungsional akan membawa kesuksesan belajar yang tinggi; permainan simfoni yang sempurna pepatah dimainkan dalam sebuah orkestra.
• Pelajaran fokus pada pembentukan keterampilan akademis prestasi kuantum, keterampilan [dalam] hidup, dan fisik atau materi. Ketiga harus diperhatikan, diperlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran, tidak hanya salah satu dari mereka. Dikatakan bahwa karena pembelajaran yang berhasil tidak hanya pembentukan keterampilan akademis dan prestasi fisik peserta didik, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan kecakapan hidup belajar. Untuk itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat direalisasikan kombinasi harmonis keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisik.
• Quantum belajar nilai-nilai dan keyakinan menetapkan sebagai bagian penting dari proses belajar. Tanpa nilai-nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna. Oleh karena itu, pelajar harus memiliki nilai-nilai dan keyakinan tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Selain itu, proses pembelajaran harus menanamkan nilai-nilai dan keyakinan positif dalam diri peserta didik. Nilai dan keyakinan negatif akan membawa kegagalan proses pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda pembelajaran; kesalahan atau kegagalan bukan tanda bodoh atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan ganjaran (hukuman dan ganjaran) tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai-nilai positif dan keyakinan perlu terus dikembangkan dan diperkuat. Nilai-nilai positif yang lebih kuat dan stabil dan kepercayaan yang dianut oleh peserta didik kemungkinan akan berhasil dalam belajar tinggi. Dikatakan, karena “nilai-nilai ke dalam gelas melalui mana kita memandang dunia.
• Quantum belajar mengutamakan keragaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keragaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Oleh karena itu, dalam pembelajaran kuantum berkembang ucapan: Selamat datang keberagaman dan kebebasan, selamat tinggal keseragaman dan ketertiban! Ini adalah di mana kebutuhan diakui keragaman gaya belajar siswa atau peserta didik, kegiatan pengembangan peserta didik yang beragam, dan menggunakan berbagai tips dan metode pembelajaran. Di sisi lain perlu disingkirkan penyeragaman gaya belajar pembelajar, aktivitas pembelajaran di kelas, dan tips penggunaan dan metode pengajaran.
• Quantum belajar mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran untuk membuat belajar dapat mengambil hasil berlangsung lebih nyaman dan lebih optimal.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian, bahkan merupakan suatu keharusan bagi seorang peneliti. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data, yaitu metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi.

1.    Metode Observasi

Metode observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala pisis untuk kemudian dilakukan pencatatan.  Dalam kaitannya dengan penelitian ini penulis langsung terjun ke lapangan menjadi partisipan  (observer partisipatif) untuk menemukan dan mendapatkan data yang berkaitan dengan fokus penelitian, yaitu, Tinjauan hukum  Islam terhadap sistem ganti rugi pengiriman barang yang hilang atau rusak.

2.    Metode Interview

Metode wawancara adalah pengumpulan data dengan jalan atau cara berdialog langsung dengan para responden secara lisan.  Jadi metode wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan kepada responden dan  dalam kegiatan wawancara berlangsung pewawancara harus dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lokasi wawancara. Sedangkan sasaran wawancara sebagai responden dalam penelitian ini adalah pimpinan perusahaan, manajer, dan para karyawan. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara bebas terpimpin. Dalam pelaksanaanya pewawancara membwa pedoman wawancara yang hanya merupakan garis besar tentang hal yang dipertanyakan yaitu sistem ganti rugi pengiriman barang yang hilang atau rusak.

3.    Metode dokumentasi

Yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah sekumpulan berkas yakni mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen,  agenda dan sebagainya. Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa metode dokumentasi dapat diartikan sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya. Adapun data yang dapat dikumpulkan melalui metode dokumentasi ini

Sumber: https://www.ayoksinau.com/

Penyebaran Budaya India Hindu Buddha di Indonesia

Penyebaran Budaya India Hindu Buddha di Indonesia

Penyebaran Budaya India Hindu Buddha di Indonesia

 

Penyebaran Budaya India Hindu Buddha di Indonesia
Penyebaran Budaya India Hindu Buddha di Indonesia

Pengaruh budaya India di Indonesia yang dimaksud oleh tulisan ini sesungguhnya hendak memberi gambaran sejumlah pengaruh kebudayaan India yang datang dan melakukan kontak dengan penduduk kepulauan nusantara di masa lalu. Kebetulan, orang-orang India yang melakukan kontak tersebut beragama Hindu dan Buddha. Di masa awal ini, Islam belum terorganisasi secara formal sebagai agama di jazirah Arabia. Pengaruh India tidak hanya pada tataran agama. Pengaruh juga meliputi bahasa, bangunan, teknologi, aksara, politik, ataupun sistem sosial. Kendati secara tertulis pengaruh tersebut sekurangnya telah tercatat sejak 400-an Masehi, tetapi masih dapat diidentifikasi dalam budaya Indonesia saat ini. Jill Forshee bahkan mencatat, sejak abad pertama Masehi kontak-kontak antara masyarakat asli Indonesia dengan India bersifat intensif. Kontak terutama melalui jalur hubungan laut.

Koentjaraningrat menyatakan bahwa sebelum kontak dengan India, penduduk asli Indonesia telah mengembangkan pranata sosial Negara. Negara ini dibuktikan adanya prasasti Muara Kaman yang menunjukkan eksistensi kerajaan Kutai dengan rajanya Kudungga. Orang-orang Indonesia kemudian melakukan kontak dengan para pedagang dan pemimpin agama (pendeta) dari India. Selain Kutai, juga berdiri kerajaan-kerajaan asli di Jawa Barat tepatnya di tepi sungai Cisadane, Bogor.

Koentjaraningrat beranggapan kerajaan-kerajaan tersebut sudah hidup makmur lewat kontak dagangnya dengan India Selatan. Raja-rajanya lalu mengadaptasi sejumlah konsep Hindu (komponen non material budaya) ke dalam struktur kerajaannya. Mereka mengundang para Brahmana beraliran Wisnu dan Brahma dari India Selatan. Mereka memberi konsultasi dan nasehat mengenai struktur dan upacara-upacara keagamaan, termasuk bentuk, organisasi, dan upacara-ucapara kenegaraan menurut sistem India Selatan. Dari anggapan ini, maka sesungguhnya pengaruh India tidak datang lewat penaklukan melainkan permintaan (by request, by consent). Orang-orang Indonesia justru mengundang mereka karena ada kehendak untuk maju dan membuka diri. Lewat undangan inilah, kesusasteraan dan agama India masuk ke Indonesia. Namun, yang menerima pengaruh adalah lapisan atas kekuasaan dan masyarakat di sekitar istana. Masyarakat biasa hampir kurang tersentuh oleh pengaruh ini.

Akibat pengaruh India, struktur sosial Indonesia seperti desa yang awalnya egaliter perlahan berubah dengan masuknya konsep kenegaraan India Selatan yang hirarkis. Raja mulai dianggap turunan dewa. Namun, pengaruh hirarkis ini juga tidak dapat dipukul rata. Ia terutama diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di pedalaman Indonesia yang mengandalkan pertanian dan irigasi sebagai basis ekonominya. Masyarakat atau kerajaan di pesisir pantai tidak terlampau terpengaruh oleh sistem India Selatan ini. Contoh negara pesisir adalah Sriwijaya di mana perdagangan menjadi basis ekonomi andalan. Dalam Negara yang demikian, tidak diperlukan wilayah pertanian, petani yang banyak, serta wilayah pedalaman yang luas untuk menanam bahan pangan oleh sebab barang konsumsi dapat diperoleh lewat interaksi pertukaran (perdagangan). Sriwijaya pun lebih terpengaruh oleh Buddha yang lebih menekankan self-conscience dan individualitas. Tidak terlalu banyak peninggalan berupa candi di Sriwijaya jika dibandingkan dengan wilayah Jawa.

Sebaliknya, di Jawa pengaruh Hindu yang menekankan pada kolektivitas dan hirarki berkembang pesat. Ini akibat basis ekonomi Jawa di mana nuansa pertaniannya begitu kental. Contoh dari ini adalah kerajaan Mataram Hindu, Kediri, Singasari, ataupun Majapahit. Mereka adalah Negara-negara agraris. Letaknya di daerah-daerah subur lembah sungai, sekitargunung berapi, dan rakyatnya hidup dari bercocok tanam. Akibat surplus beras, mulailah kerajaan-kerajaan Jawa ini, misalnya Singasari, berekspansi keluar wilayah dengan mencari Negara-negara bawahan di kepulauan Nusantara. Politik tersusun secara hirarkis, di mana pendeta adalah pemimpin spiritual dan raja bertindak selaku pemimpin dunia. Pemberkatan seorang raja harus dilakukan pendeta. Namun, susunan ini hanya berlangsung di level atas (palace circle) sementara masyarakat biasa (terutama daerah pesisir pantai) hampir tidak tersentuh oleh kebiasaan ini. Barangkali ini pula yang mengakibatkan pengaruh-pengaruh lain (semisal Islam dan individualitas Barat) masuk dengan mudahnya ke kalangan masyarakat Indonesia.

 

1. Pengaruh di Bidang Bahasa

 

Kini masih sering ditemukan nama atau kata seperti pustaka, karya, guru, sastra, indra, wijaya, ataupun semboyan-semboyan seperti Kartika Eka Paksi ataupun Jalesveva Jayamahe. Kata-kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta. Penggunaan kata dari bahasa tersebut merupakan bukti hingga kini pun pengaruh India masih terasa di bumi Indonesia. Salah satu penyebabnya, budaya India merupakan budaya asing pertama yang oleh moyang Indonesia dinilai progresif. Proses asimilasi dan akulturasi budaya India durasinya paling lama di Indonesia. Hasil asimilasi dan akulturasi tersebut lalu diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Jika bukti tertulis yang hendak dikedepankan dalam masalah bahasa, maka prasasti Muara Kaman, yang berlokasi di Kalimantan Timur, 150 kilometer ke arah hulu Sungai Mahakam, dapat diambil selaku titik tolak tertua. Prasasti tersebut dicanangkan tahun 400 Masehi. Hal yang menarik adalah, prasasti menyuratkan hadirnya dua budaya berbeda: Asli Indonesia dan pengaruh India. Indikatornya adalah nama-nama raja yang terpahat. Prasasti Muara Kaman menceritakan Raja Kudungga punya putra bernama Açwawarman. Açwawarman punya tiga putra dan yang paling sakti di antara ketiganya adalah Mulawarman. Nama Açwawarman dan Mulamarman berasal dari bahasa Sanskerta, sementara Kudungga bukan. Kudungga kemungkinan besar adalah nama yang berkembang di Kutai sebelum datangnya pengaruh India dan agama Hindu.

Sanskerta adalah bahasa yang dibawa oleh orang-orang India, sementara Pallawa adalah huruf untuk menuliskannya. Secara genealogis, Sanskerta termasuk rumpun bahasa Indo Eropa. Termasuk ke dalam rumpun ini bahasa Jerman, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Celtic, Gaul, dan Indo Iranian. Di Asia, rumpun bahasa Indo Iranian adalah yang terbesar, termasuk ke dalamnya bahasa Iranian dan Indo Arya. Sanskerta ada di kelompok Indo Arya.

Mengenai fungsinya, Sanskerta merupakan bahasa utama disiplin agama Hindu dan Buddha. Dari sana, Sanskerta kemudian meluas penggunaannya selaku bahasa pergaulan dan dagang di nusantara, sebelum digantikan Melayu. James T. Collins mencatat signifikansi penggunaan bahasa Sanskerta di nusantara. Menurutnya, bauran antara bahasa sanskerta dengan melayu (sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia) sudah berlangsung ratusan tahun. Ini terbukti sejak abad ke-7 para penganut agama Buddha di Tiongkok sanggup berlayar hanya untuk mengunjungi pusat ilmu Buddha di Sriwijaya (Sumatera Selatan).[3]

Menurut Collins, kunjungan ini akibat masyhurnya nusantara sebagai basis pelajaran agama Buddha dan bahasa Sanskerta. I-Ching, seorang biksu Buddha dari Tiongkok, bahkan menulis dua buku berbahasa Sanskerta di Palembang. Ia menasihati pembacanya untuk terlebih dahulu singgah di Fo-shih (Palembang) untuk mempelajari bahasa dan tata bahasa Sanskerta sebelum mereka melanjutkan ziarah ke kota-kota suci Buddha di India.[4] I-Ching juga mengutarakan bahwa di Palembang sendiri terdapat 1000 orang sarjana Buddha.

Posisi Sriwijaya saat itu sebagai transit perdagangan penting di Selat Malaka sekaligus basis pendidikan bahasa Sanskerta membuat pengaruh bahasa ini jadi signifikan. Sanskerta terutama terdiseminasi lewat perdagangan. Seperti diketahui, Sriwijaya adalah kerajaan yang basis ekonominya perdagangan. Dalam perdagangan interaksi antarorang asing yang menggunakan bahasa berbeda sangat tinggi. Situasi ini membutuhkan sebuah bahasa mediator antarorang dan Sanskerta menjalankan perannya. Namun, lambat-laun bahasa Sanskerta menjadi eksklusif karena berkelindan pula dengan gagasan kasta yang berkembang dalam agama Hindu. Penggunaan Sanskerta lalu terbatasi hanya pada dua kasta pengguna, Brahmana dan Ksatria.

Setelah masuk Indonesia, bahasa Sanskerta dari India, tidak murni lagi. Di Jawa misalnya, muncul bahasa hasil asimilasi Sanskerta dengan budaya lokal yang dikenal dengan Kawi. Bahasa Kawi atau juga dikenal sebagai Jawa Kuna kemudian menyebar ke pulau lain. Di Sumatera Barat bahasa ini berkembang lewat kekuasaan raja-raja vassal Jawa semisal Adityawarman.

Pada kurun ini pula, di nusantara dikenal penggunaan tiga bahasa dengan fungsi spesifik. Pertama Jawa Kuna sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Kedua, Melayu Kuna sebagai bahasa perdagangan di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Ketiga, Sanskerta sebagai bahasa keagamaan. Di era kebudayaan India jadi mainstream di nusantara, Sanskerta merupakan kelompok bahasa elit yang hanya dipakai dalam urusan keagamaan maupun formal pemerintahan. Akibatnya, tidak banyak orang yang menguasai, terlebih kalangan wong alit.

Pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu pun terjadi. Bahasa Melayu – pada perkembangan kemudian – merupakan lingua-franca hubungan dagang antarpulau nusantara menggantikan Sanskerta. Bahasa Melayu juga kelak menjadi dasar dari kelahiran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebab itu, dapat pula dikatakan bahasa Sanskerta ini sedikit atau banyaknya punya pengaruh pula terhadap bahasa Indonesia. Penelusuran pengaruh bahasa Sanskerta terhadap Melayu dicontohkan prasasti Kedukan Bukit, Palembang.[5] Prasasti tersebut ditemukan 29 Nopember 1920 dan diperkirakan dibuat tahun 683 Masehi. Jejak lain penggunaan bahasa Sanskerta juga ditemukan di Talang Tuwo, Palembang (684 M, huruf Pallawa), prasasti Kota Kapur, Bangka (686 M, huruf Pallawa), prasasti Karang Brahi, Meringin, Hulu Jambi (686 M, huruf Pallawa), prasasti Gandasuli, Jawa Tengah (832 M, aksara Nagari), dan prasasti Keping Tembaga Laguna, dekat Manila, Filipina.

Sebagian bahasa Sanskerta diserap ke dalam Melayu. Kemungkinan ada 800 kosa kata bahasa Melayu merupakan hasil penyerapan dari bahasa Sanskerta. Beberapa kosa kata Sanskerta yang diserap ke dalam bahasa Melayu (juga Indonesia) antara lain :

 

Pengaruh Sanskerta terhadap Bahasa Melayu

Selain kata-kata yang sudah diserap di tabel atas, ada pula kosa kata yang sudah digunakan dalam prasasti-prasasti berbahasa Sanskerta sejak tahun 1303 M di wilayah Trengganu (sekarang Malaysia). Kosa kata tersebut adalah: derma, acara, bumi, keluarga, suami, raja, bicara, atau, denda, agama, merdeka, bendara, menteri, isteri, ataupun seri paduka. Selain bahasa, huruf Pallawa yang digunakan untuk menulis kosa kata Sanskerta pun turut menyumbangkan pengaruh para huruf-huruf yang berkembang di Indonesia seperti huruf Bugis, Sunda, ataupun Jawi.

 

2. Pengaruh India di Bidang Arsitektur

 

Arsitektur atau seni bangunan ala masa India juga bertahan hingga kini. Meski tampilannya tidak lagi identik dengan bangunan Hindu-Buddha (candi) yang asli India, tetapi pengaruh Hindu-Buddha tersebut membuat arsitektur bangunan yang ada di Indonesia menjadi khas. Salah satu ciri bangunan Hindu-Buddha adalah berundak tiga. Sejumlah undakan umumnya terdapat di struktur bangunan candi yang ada di Indonesia. Undakan tersebut terlihat paling jelas di Candi Borobudur, bangunan peninggalan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Ciri khas arsitektur candi adalah adanya 3 bagian utama yaitu kepala, badan dan kaki. Ketiga bagian ini melambangkan triloka atau tiga dunia, yaitu: bhurloka (dunia manusia), bhuvarloka (dunia orang-orang yang tersucikan), dan svarloka (dunia para dewa).

 

Struktur Candi

 

Pengaruh sistem tiga tahap kehidupan spiritual manusia bertahan cukup lama. Bahkan ia banyak diadaptasi oleh bangunan-bangunan yang dibangun pada masa yang lebih baru. Bangunan-bangunan yang memiliki ciri seperti ini beranjak dari bangunan sakral (spiritual) semisal masjid maupun bangunan profan (biasa) semisal Gedung Saté di Bandung.

Arsitektur candi lalu mempengaruhi bangunan-bangunan lain yang lebih modern. Misalnya, Masjid Kudus mempertahankan pola arsitektur bangunan Hindu. Masjid yang aslinya bernama Al Aqsa, dibangun Jafar Shodiq (Sunan Kudus) tahun 1549 M. Hal yang unik adalah, menara di sisi timur bangunan masjid menggunakan arsitektur candi Hindu. Selain bentuk menara, sisa lain arsitektur Hindu terdapat pada gerbang masjid yang menyerupai gapura sebuah pura. Juga tidak ketinggalan lokasi wudhu, yang pancurannya dihiasi ornamen khas Hindu.

Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan mengapa Jafar Shodiq menyematkan arsitektur Hindu ke dalam masjidnya. Hipotesis pertama mengasumsikan proyek pembangunan masjid hasil akulturasi budaya Hindu yang banyak dipraktekkan masyarakat Kudus sebelumnya oleh Islam yang tengah berkembang. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi cultural shock yang mengakibatkan alienasi para pemeluk Islam baru sebab tiba-tiba tercerabut budaya asal mereka. Hipotesis kedua menyatakan penempatan arsitektur Hindu akibat para arsitek dan tukang yang membangun masjid hanya menguasai gaya bangunan Hindu. Hasilnya, bangunan yang kemudian berdiri jadi bercorak Hindu.

Pengaruh arsitektur Hindu pun terjadi pada bangunan yang lebih kontemporer semisal Gedung Saté yang terletak di Kota Bandung. Gedung Saté didirikan tahun 1920-1924 dengan arsiteknya Ir. J. Gerber. Jika diamati lebih dekat, maka bagian bawah dinding Gedung Saté memuat ornamen-ornamen khas Hindu. Termasuk pula, menara yang terletak di puncak atas gedung yang mirip menara masjid Kudus atau seperti tumpak yang ada di bangunan suci Hindu di daerah Bali. Tentu saja, arsitektur Gedung Saté tidak semata mendasarkan diri pada arsitektur Hindu. Ia merupakan perpaduan antara arsitektur Belanda dengan Lokal Indonesia.

Bangunan modern lain yang memiliki nuansa arsitektur Hindu ditampakkan Masjid Demak. Arsitektur Hindu pada masjid yang didirikan tahun 1466 M ini misalnya tampak pada atap limas bersusun tiga, mirip candi, yang bermaknakan bhurloka, bhuvarloka, dan svarloka. Namun, tiga makna tersebut diakulturasi kearah aqidah Islam menjadi islam, iman, dan ihsan. Ciri lainnya bentuk atap yang mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Atap tertinggi berbentuk limasan ditambah hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di setiap pura Hindu.

 

3. Pengaruh India di Bidang Kesusasteraan

 

Salah satu peninggalan sastra India yang terkenal diantaranya Ramayana, Mahabarata, dan kisah perang Baratayudha. Sastra India cukup berpengaruh atas budaya asli Indonesia yaitu wayang. Wayang tadinya digunakan sebagai media pemberi nasihat tetua adat terhadap keluarga yang salah satu kerabatnya meninggal dunia. Pada perkembangannya, wayang digunakan sebagai basis pengajaran etika, agama, dan budaya.

Tokoh-tokoh India yang terkenal dalam wayang misalnya Pandawa Lima (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa), Kurawa (Duryudana dan keluarganya), Ramayana (Hanoman, Rama, Sinta), ataupun kisah Bagavadgita (wejangan Sri Kresna atas Arjuna sebelum perang). Local genius Indonesia mengimbangi dominasi tokoh-tokoh wayang asal India dengan menciptakan punakawan. Selain Semar, tokoh-tokoh punakawan Indonesia pun memainkan peran sentral dalam kesenian wayang. Tokoh-tokoh seperti Petruk, Gareng, atapun Bagong berperan selaku pengimbang dalam sejumlah lakon wayang Indonesia. Bahkan, para punakawan seringkali bertindak (secara satir) sebagai penakluk sekaligus pemberi wejangan atas para tokoh asal kesusasteraan India.

Dengan varian tokoh Indianya, kini wayang diakui sebagai budaya asli Indonesia. Local genius Indonesia memperkaya budaya aslinya (wayang) baik dengan tokoh kesusasteraan India maupun tokoh racikan mereka sendiri. Di masa perkembangan Islam, wayang juga digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran baru ini. Lakon semisal Jamus Kalimasada, yang menceritakan kalimat syahadat dengan Semar selaku tokoh yang memberikan pengajaran kepada Pandawa yang berasal dari India, diciptakan. Cerita-cerita yang terkandung dalam kesusasteraan India memiliki nilai moralitas tinggi. Ia menceritakan pertempuran antara kebaikan melawan kejahatan, kelemahan-kelemahan manusia, dan bakti terhadap orang tua serta Negara. Tradisi sastra India justru memperkaya khasanah cerita wayang lokal Indonesia. Berkas peninggalan India Hindu paling jelas terlihat di Bali dan sebagian masyarakat Tengger di Jawa Timur. Bali bahkan menjadi semacam daerah konservasi pengaruh India yang pernah berkembang di kepulauan nusantara. Di Bali, seni bangunan, seni ukir, seni rupa dan tari masih kental nuansa pengaruh peradaban India, di samping tentunya budaya lokal Bali sendiri.

 

Artikel Populer

Proses Integrasi Nasional Indonesia Dan Metode Terjadinya

Proses Integrasi Nasional Indonesia Dan Metode Terjadinya

Proses Integrasi Nasional Indonesia Dan Metode Terjadinya

 

Proses integrasi nasional Indonesia sesungguhnya masih terus berlangsung. Proses integrasi nasional ini masih dalam proses penyelesaian sehingga bentuk bakunya masihlah dicari. Dalam kasus Indonesia pula, terdapat sejumlah penjelasan guna menggambarkan metode terjadinya integrasi nasional. Penjelasan-penjelasan ini memiliki aneka perbedaan titik tekan. Seluruh pendekatan yang tersedia kemudian dapat dipertimbangkan signifikansinya sebagai metode integrasi nasional Indonesia.

 

Proses Integrasi Nasional Indonesia Dan Metode Terjadinya
Proses Integrasi Nasional Indonesia Dan Metode Terjadinya

 

Neopatrimonialisme

 

Pertama adalah penjelasan David Brown tentang metode integrasi Indonesia yang ditentukan elit. Brown menggunakan istilah Neo Patrimonialisme dalam kasus integrasi nasional Indonesia. Untuk memahami Neopatrimonialisme, paling jelas dikontraskan dengan apa yang Max Weber maksud dengan Patrimonialisme, yang menurutnya:

[…] the object of obedience is the personal authority of the individual which he enjoys by virtue of his traditional status. The organized group exercising authority is, in the simplest case, primarily based on relations of personal loyalty, cultivated through a common process of education. The person exercising authority is no a ‘superior’, but a personal ‘chief’. His administrative staff does no consist primarily of officials, but of personal retainers […] What determines the relations of the administrative staff to the chief is not the impersonal obligations of office, but personal loyalty to the chief.

Dalam patrimonialisme, sistem pemerintahan terbangun lewat ikatan antara pimpinan pemerintah tertentu (ketua adat, raja, sultan) atau orang berpengaruh di mana ia diangkat ke dalam posisi tertentu di dalam kekuasaan pusat. Orang-orang ini punya pengikut yang mengikutinya berdasarkan loyalitas personal. Jaringan-jaringan patron-klien ini kemudian mengembangkan loyalitas masing-masing yang awalnya bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional kendati hanya elit (patron) yang memahami perubahan sifat tersebut.

Negara patrimonial sebab itu merupakan puncak dari suatu masyarakat yang dikarakteristikkan oleh hubungan patron-klien tradisional. Negara patrimonial bergantung pada seberapa besar loyalitas rakyat pada pemimpin lokalnya, dan loyalitas para pemimpin lokal kepada pemerintah pusat. Ia mengandalkan stabilitas sistem politik tradisional kedaerahan yang berkembang. Misalnya, ketaatan rakyat Yogyakarta kepada Sultan Hamengkubuwono X dan ketaatan Sultan Hamengkubowono kepada Pemerintah Pusat Republik Indonesia. Ketaatan Sultan kepada pimpinan nasional agak sulit disebut ketaatan dalam bentuk patrimonial.

Patrimonialisme relatif mudah andaikata struktur asli masyarakat tiap-tiap suku bangsa masih beroperasi. Patrimonialisme mengandalkan kuatnya adat dan kebudayaan dalam menjamin integrasi sosial. Atau, ketika ketokohan personal berdasarkan wilayah geografis, suku, ataupun agama masih kuat.

Lalu, apa yang membedakan antara patrimonialisme dengan neopatrimonialisme? Perbedaan utamanya terletak pada perubahan hubungan antara pengikut dan pemimpin. Dalam patrimonialisme, elit patrimonial menyatakan dirinya sebagai kelas istimewa yang menempatkan dirinya sebagai monopol sumber daya sekaligus distributor dominan dalam hal kuasa dan kesejahteraan. Ini dapat terjadi andaikan pemimpin patrimonial mampu menjamin keamanan dan perlindungan yang ia berikan kepada para pengikut. Efektivitas elit patrimonial dalam konteks struktur masyarakat tradisional cukup tinggi dan akan merendah tatkala struktur-struktur tersebut mengalami perubahan.

Dalam neopatrimonialisme, kepadatan moral (moral density) perubahan ikatan tradisional, meningkatnya mobilisasi penduduk (vertikal, horisontal), dan tersebarnya harapan akan demokrasi, membuat para elit patrimonial makin sulit memelihara ikatan patron-klien terhadap massanya. Loyalitas dari para pengikut kini berubah dari sekadar perlindungan dan keamanan menjadi bersifat material (kuasa, uang, kemakmuran). Birokrasi yang legal-rasional mengentarai hubungan elit-massa pada masyarakat neopatrimonial. Neopatrimonial ditandai hadirnya lembaga-lembaga politik modern yang menghendaki impersonalitas. Namun, di Indonesia patrimonialisme sesungguhnya masih berkembang di dalam organ-organ negara yang modern. Elit neopatrimonial kebingungan dalam bertindak: Di satu sisi mereka harus bergerak dalam lingkup organisasi yang legal-rasional, punya serangkaian aturan jelas yang harus ditaati, serta harus bertanggung jawab secara profesional sesuai gambaran wewenang, tetapi di sisi lain mereka – secara subyektif – menganggap organisasi tempatnya bekerja sebagai milik pribadi dan bisa mereka perlakukan sesuai kepentingan pribadinya pula. Terjadi konflik kepentingan dalam diri elit-elit neopatrimonial Indonesia dan ini hampir merata terjadi dari pemerintah pusat hingga lokal.

Dalam konteks neopatrimonial, pemimpin massa yang tadinya (secara tradisional) memiliki pengikut loyal, kini mulai bergeser. Mereka tidak stabil dan konstan lagi dalam menggamit massa-nya sendiri dan kemudian, untuk menyelamatkan posisi, turun tahta menjadi broker politik dari para elit politik puncak (tingkat nasional). Pemimpin yang awalnya menguasai monopoli loyalitas massa suatu daerah kini terpecah. Dalam suatu daerah muncul communal leader yang berbeda dengan pemimpin tradisional. Pemimpin-pemimpin baru ini mengklaim punya massa tertentu dan bersedia membela mereka baik secara material maupun politik: Reward yang diberikan oleh elit neopatrimonial bukan perlindungan melainkan resouces material yang sumbernya – sayangnya – kini bukan dari pemilikan pribadi melainkan milik negara (publik). Akibatnya, muncul gejala l’etat c’est moi (negara adalah saya): Birokrasi-birokrasi negara yang dikelola elit politik dianggap milik pribadi dan seperti inilah watak umum dari elit neopatrimonial di Indonesia.

Ketaatan massa kepada elit neopatrimonial ada sejauh para elit mampu memberi kompensasi material yang mencukupi bagi mereka. Ketaatan massa kepada elit tidak lagi bersifat personal melainkan impersonal. Impersonalitas ini membuat massa mulai tidak peduli kepada personal mana mereka taat melainkan kepada efek-efek impersonal yang mampu mereka berikan seperti kesejahteraan, keamanan, atau keadilan. Integrasi nasional yang dilandaskan pada neo-patrimonialisme ini rentan terhadap konflik. Elit neo-patrimonial dapat dengan mudah memanfaatkan massa-nya demi kepentingannya sendiri.

Integrasi nasional Indonesia dari masa kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan (bahkan dapat disebut hingga masa kini) memperlihatkan model integrasi Patrimonial dan NeoPatrimonial ini. Dalam masyarakat kolektif Indonesia, sulit dipungkiri peran elit politik dalam mengintegrasikan massa mereka dan, buruknya, dalam memecah bangsa ini. Kekecewaan elit politik-lah yang banyak memunculkan peristiwa-peristiwa pemberontakan tatkala Indonesia baru berdiri. Ketika elit patrimonial mulai memudar, kembali elit neopatrimonial (biasanya pengusaha atau tokoh-tokoh masyarakat) mengambil peran. Integrasi Indonesia tidak lebih sebagai integrasi dari para elit neopatrimonial ini.

Pola integrasi nasional bercorak neopatrimonial tentu saja kurang sehat karena mendorong sentimen antarkelompok sesuai garis yang diperkenankan oleh tiap-tiap elit. Indonesia akan rentan perpecahan jika tetap mengandalkan integrasinya pada ketokohan seorang elit neopatrimonial. Namun, terdapat suatu harapan bahwa elit neopatrimonial cenderung berangsur kehilangan klien. Semakin banyak bermunculan elit-elit neopatrimonial baru mendorong mereka saling berkompetisi satu sama lain dan klien akan menilai bahwa kekuatan dan sumber daya seorang elit tidaklah tetap. Hal ini akan mendorong munculnya sikap kritis dari para klien untuk tidak lagi fanatik dalam mendukung seorang elit. Klien dapat secara mudah melakukan swing-support dan kemudian, hanya elit-elit yang mampu memuaskan kebutuhan klien sajalah yang akan beroleh dukungan secara relatif tetap.

 

Teori Dimensi

 

Christine Drake mengutarakan tesis tentang empat faktor yang mendorong integrasi nasional Indonesia.[3]Pertama, dimensi historis-politis yang menekankan kepada persamaan nasib selaku rakyat yang terjajah Hindia-Belanda, yang membangun kesadaran bersama mencapai satu tujuan. Dimensi ini kentara tatkala para pendiri negara Indonesia melakukan kegiatan kampanye dan propaganda kesatuan nasional. Secara garis besar teori ini sangat mirip dengan teori Ernst Renan tentang terciptanya sebuah bangsa.

Dimensi ini telah secara luas dijabarkan dalam bab-bab terdahulu. Dimensi historis-politis interaksi antar elemen komunitas politik nusantara lalu mendorong sejumlah elit untuk membentuk nasion Indonesia. Perlu diakui bahwa terbentuknya Indonesia adalah konsensus elit, bukan sebuah referendum. Namun, elit-elit tersebut kemudian mendiseminasi kesepakatan mereka kepada masing-masing klien mereka (massa masing-masing). Hal ini lumrah saja karena kecenderungan integrasi elit ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di banyak negara lain semisal Malaysia ataupun Irak.

Sehubungan dengan dimensi historis-politik, integrasi yang muncul pra kemerdekaan 1945 adalah bukan subordinasi melainkan kesetaraan. Masing-masing komunitas politik (daerah-daerah) memiliki derajat otonomi (khususnya dalam hal budaya dan ekonomi) yang tinggi. Ketika negara Indonesia coba melakukan subordinasi atas kedua unsur tersebut, isu separatisme kemudian muncul. Kini, Indonesia memiliki perangkat Undang-undang di bawah Konstitusi yang mengatur secara jelas kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Jika dilihat secara mendasar, maka pembagian kewenangan tersebut mirip dengan situasi pra kolonial di mana otonomi komunitas-komunitas politik, khususnya di bidang ekonomi, sangatlah tinggi.

Kedua, dimensi sosiokultural yang termasuk atribut-atribut budaya yang sama, bahasa yang sama, agama yang sama, dan kemudian membimbing pada ikatan bersama untuk bersatu di dalam Indonesia. Bahasa Indonesia yang kini menjadi bahasa resmi Indonesia tidak muncul sekonyong-konyong. Bahasa ini berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu adalah lingua franca yang menjadi bahasa pengantar hubungan penduduk antar pulau-pulau nusantara. Bahasa Melayu sendiri, seperti telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya, menyerap sejumlah unsur budaya yang pernah berkembang di Indonesia yaitu kebudayaan India dan Islam. Dengan demikian, Bahasa Indonesia adalah sebuah bahasa yang penggunaannya bukan up to bottom melainkan bottom to up. Bahasa Indonesia disusun secara induktif, bukan deduktif. Sehingga dapat dinyatakan Bahasa Indonesia adalah milik semua orang Indonesia, bukan hanya milik orang Sumatera, Papua, atau Jawa saja. Hal baiknya dalam konteks integrasi nasional, Indonesia belum pernah mengalami persengketaan soal bahasa nasional ini seperti yang menimpa Malaysia, Pakistan, ataupun Filipina.

Mengenai masalah agama, Islam adalah salah satu elemen kunci perekat. Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia dan Islam hingga kini telah menjalankan perannya sebagai basis kohesi bangsa. Hal ini harus disebutkan karena masalah agama kerap menjadi basis perpecahan sebuah bangsa seperti terjadi di India (sebelum pecah menjadi India, Pakistan, dan Bangladesh), Inggris dan Irlandia (protestan dan katolik), ataupun Libanon (perpecahan antarsekte dan antaragama). Islam di dalam ajarannya tidak lantas menegasikan begitu saja agama dan kepercayaan yang berkembang di luarnya lewat pernyataan untukmu agamamu dan untukku agamaku. Hal ini merupakan pernyataan tegas doktrin toleransi antarumat beragama dan salah satu saham terbesar keutuhan Indonesia yang agama dan kepercayaan penduduknya sesungguhnya selaras dengan pernyataan Islam ini.

Integrasi nasional tidak akan bertahan jika suatu budaya, yang karena punya pendukung terbesar, lantas menegasikan yang kecil. Hal ini sangat krusial bagi Indonesia yang punya ratusan bentuk budaya lokal spesifik. Masing-masing budaya cenderung mempertahankan eksistensinya dan menyikapi upaya penyeragaman budaya sebagai bentuk agresi. Indonesia tidak akan bertahan lama jika bentuk-bentuk agresi budaya dibiarkan terjadi. Dalam konteks ini pula, paradigma masyarakat majemuk perlu diganti dengan paradigma multikultural. Paradigma masyarakat majemuk mengandung bias kolonialisme Barat yang awalnya dimaksudkan demi memecah masyarakat jajahan berdasarkan garis budaya. Paradigma masyarakat majemuk perlu diganti dengan paradigma multikultural yang di Indonesia sesungguhnya telah diwakili semboyan bhinneka tunggal ika.

Ketiga, dimensi interaktif, yaitu tingkat kontak yang terbangun antara orang-orang yang diam di wilayah yang kini menjadi Indonesia, di mana mereka satu sama lain saling berkomunikasi lewat perdagangan, transportasi, telepon, migrasi, dan televisi. Seperti juga telah dipaparkan dalam bab-bab terdahulu, pola perpindahan penduduk di Indonesia sudah sedemikian canggih dalam arti hampir di setiap wilayah Indonesia tidak lagi terdapat monoetnis. Hal ini mendorong interaksi antaretnis yang lebih intens dan diharapkan akan mendorong terciptanya kondisi saling paham antaretnis. Tentu saja, masing-masing etnis akan tetap semaksimal mungkin memelihara adat dan kebiasaan masing-masing. Namun, jika hal tersebut ditunjang oleh perkembangan serupa di sisi paradigma multikultural maka pemeliharan identitas etnis di wilayah domisili etnis lain tidak akan menjadi persoalan sensitif. Justru, masing-masing etnis memiliki kesempatan untuk mempelajari cara-cara hidup yang lebih baik dari etnis satu dan lainnya untuk perkembangan individualitas mereka masing-masing.

Keempat, dimensi ekonomi, yaitu kesalingtergantungan ekonomi antar region-region yang ada di Indonesia. Dimensi keempat ini telah pula dilalui bangsa Indonesia ketika zaman perdagangan rempah-rempah di kepulauan nusantara.[4] Setelah Indonesia berdiri, kesalingtergantungan tersebut justru memperoleh kesempatan untuk diregulasi kembali secara lebih baik. Pemerintah pusat dapat bertindak selaku regulator dan distributor sumber daya langka dan mengalihkannya dari satu wilayah yang berlebih kepada wilayah lain yang kekurangan. Derajat keuntungan Indonesia sebagai sebuah wilayah kesatuan lebih tinggi ketimbang terpecah-pecah ke dalam negara-negara kecil yang berdiri sendiri. Biaya ekonomi perpindahan sumber daya dari wilayah satu ke wilayah lain akan selalu lebih rendah jika wilayah-wilayah tersebut masih bergabung ke dalam satu negara ketimbang berdiri sendiri-sendiri.

 

Teori Proses Industri

 

Anthony Harold Birch coba mencari jawaban bagaimana kelompok etnik dan budaya yang saling berbeda mengikat diri ke dalam sebuah masyarakat nasional dan mendirikan negara nasional.[5] Sebagai proses, integrasi nasional merupakan produk dari kebijakan pemerintah (atau elit) yang disengaja.

Teori proses industri memandang integrasi nasional awalnya tidak direncanakan lewat mobilisasi sosial. Integrasi tidak sengaja ini intinya merupakan hasil dari bagaimana industrialisasi mengundang pekerja meninggalkan desa asal untuk cari kerja di area industri baru. Perpindahan ini menggerogoti komunitas-komunitas sosial asli di area pedesaan dan memobilisasi pekerja untuk terserap di masyarakat nasional yang lebih besar. Hubungan kedaerahan menjadi lemah, bahasa dan dialek lokal makin samar, untuk kemudian digantikan bahasa nasional. Budaya lokal dan kebiasaan turun-temurun kehilangan pendukungnya.

Alat transportasi, juga menyumbang point dalam integrasi nasional. Pembukaan jalan membuat wilayah-wilayah dan penduduk terlebur, berinteraksi, saling pengaruh. Terlebih, media massa kemudian muncul memberikan informasi-informasi baru harian kepada pemirsa yang bisa dicapainya. Anggota-anggota masyarakat yang tadinya berasal dari budaya atau kultur spesifik secara gradual masuk ke dalam terminologi masyarakat yang lebih luas.

 

Integrasi Nasional Indonesia

 

Berdasarkan ketiga teori mengenai integrasi nasional, maka empat argumentasi dapat diajukan dalam menjelaskan proses integrasi nasional Indonesia. Pertama, dalam terminologi keniscayaan sejarah. Dalam pandangan Hegel, masa depan umat manusia terletak dalam organisasi yang disebut negara. Negara merupakan bentuk tertinggi organisasi sosial yang ada di tengah masyarakat. Negara mempersatukan elemen-elemen yang berbeda di level masyarakat ke dalam elemen bersama dan sifatnya lebih tinggi. Namun, terminologi Hegel mengenai negara sebagai bentuk tertinggi dalam proses sejarah rentan diselewengkan. Pemikiran Hegel kerap menjadi alasan pembenar bagi absolutisme negara.

Di dalam Indonesia, konsep Hegel dapat dimanfaatkan dalam konteks negara sebagai regulator tertinggi. Negara Indonesia memainkan ritme hubungan antardaerah sehingga tercipta pola hubungan antardaerah yang saling melengkapi. Jika Indonesia pecah maka bagaimana kondisi wilayah-wilayah yang miskin sumber daya alam? Berdasarkan sejarah pula, komunitas-komunitas politik telah terhubung lewat mekanisme perdagangan nusantara. Komunitas-komunitas politik di Indonesia dahulu tidak mampu memenuhi sendiri kebutuhan riil masyarakatnya. Polanya mirip dengan hubungan antarnegara saat ini. Kini, dengan bersatunya komunitas-komunitas politik ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia maka sumber daya ekonomi (seharusnya) dapat diperdagangkan lebih murah. Paket-paket pembangkit listrik di setiap region dapat dikembangkan dengan sumber-sumber energi yang diperoleh secara komplementatif antar region. Seluruhnya tidak mesti melalui tarif bea impor ataupun permainan harga lazimnya perdagangan antarnegara.

Region-region (daerah) dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia seharusnya makmur secara ekonomi. Kemakmuran inilah sumber legitimasi sahih dan sulit ditentang. Papua seharusnya makmur, Nusa Tenggara Timur seharusnya makmur, seperti halnya Kepulauan Riau dan Bali yang makmur. Pemerintah adalah the solely distributor karena dengan otoritas yang dimilikinya mampu melalukan ekstraksi sumber daya ekonomi dari satu wilayah ke wilayah lain atau dari satu penduduk ke penduduk lain. Apakah ada legitimasi yang lebih tinggi dari suatu proses integrasi selain kemampuan negara memakmurkan seluruh wilayah dan penduduknya? Negara sebagai bentuk tertinggi proses sejarah Hegel hanya dapat diterima jika organisasi ini mampu menjamin kemakmuran bagi wilayahnya secara adil dan berimbang. Tanpa catatan ekonomi ini, eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia akan selalu dapat dipertanyakan.

Kedua, pandangan integrasi nasional sebagai bentuk asimilasi sosial. Integrasi nasional adalah terasimilasinya budaya-budaya yang lebih minor kepada budaya yang lebih mayor. Misalnya, etnis Cina di Indonesia mau tidak mau harus mengasimilasi seluruh atau sebagian dari kultur yang berkembang di Indonesia kebanyakan agar dapat terintegrasi baik di tengah Negara Indonesia. Demikian pula etnis-etnis Arab, agar dapat diterima di Indonesia harus mengasimilasi budaya umum yang berkembang di masyarakat Indonesia. Disintegrasi nasional muncul akibat asimilasi gagal dilakukan. Namun, asimilasi bukanlah satu-satunya pola hubungan mayoritas-minoritas budaya.

Seperti telah dikemukakan di bagian-bagian awal buku, konsep-konsep seperti ras dan etnis sesungguhnya delutif. Konsep ini sesungguhnya menyesatkan karena tidak menunjukkan suatu hal yang definitif dan pasti. Ironisnya, konsep ras dan etnis kerap digunakan secara serampangan hanya demi menciptakan kambing-hitam terpuruknya sebuah negara. Dengan demikian, asimilasi sosial merupakan metode lain dari integrasi nasional yang cukup penting, demikian pula multikulturalisme. Hal yang penting dicatat adalah jika memang asimilasi yang dikehendaki ia bukan dipaksakan semisal etnis Cina yang harus mengganti namanya menjadi Indonesia atau orang keturunan Arab yang harus memakai batik. Proses penggantian harus dilandasi kesadaran sosial mereka sendiri: Kehendak baik untuk sedikit demi sedikit menghapus sekat sosial yang tidak penting demi integrasi nasional yang lebih besar. Hubungan harmonis bisa dibangun lewat multikulturalisme: Masing-masing penganut kebudayaan dipersilakan mempraktekkan budaya khas masing-masing dengan tetap bersetia dalam komunitas politik Indonesia.

Posisi etnis Cina dan India (berikut keturunannya) cukup signifikan dalam memicu perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini sulit dipungkiri berdasarkan fakta bahwa jajaran atas orang terkaya atau perusahaan terkaya Indonesia diantara berada di dalam genggaman mereka. Namun, hendaknya tidak pula dilupakan kehadiran perusahaan mereka telah mampu merekrut sekian banyak tenaga kerja usia produktif Indonesia. Ketika ekonomi Indonesia terpuruk atau kecemburuan sosial meninggi, ironisnya, mereka justru kambing hitam nomor satu. Proses integrasi sosial menghendaki hadirnya negara secara netral, profesional, dan jujur. Negara (khususnya pemerintah) harus mengakui bahwa penghasilan mereka dari pajak perusahaan sebagian diperoleh dari perusahaan-perusahaan warga negara keturunan Cina dan India ini. Pertanyaannya bukanlah apakah para pengusaha tersebut curang melainkan apakah pemerintah telah jujur memungut pajak dari mereka dan mengalokasikannya demi pembangunan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pemerintah pun harus mengakui peran mereka, mengangkat harkat mereka sebagai warganegara yang setara tanpa embel-embel etnis dan ras yang sesungguhnya delutif sehingga mempersulit lagi integrasi mereka ke dalam persatuan nasional Indonesia.

Ketiga, integrasi nasional muncul akibat pemerintah dibentuk berdasarkan atas perasaan kesatuan nasional. Integrasi nasional tidak akan tercipta jika perasaan tersebut belumlah terbangun. Untuk itu, masalah bahasa persatuan, ideologi nasional, merupakan komponen penting di dalam integrasi nasional. Pemerintah memiliki tugas menjamin hal-hal tersebut telah tersosialisasi, baik secara teori maupun praktik.

 

Sumber: https://pendidikan.co.id/

Penyebaran Islam dan Pengaruh Islam atas Kebudayaan Indonesia

Penyebaran Islam dan Pengaruh Islam atas Kebudayaan Indonesia

Penyebaran Islam dan Pengaruh Islam atas Kebudayaan Indonesia

 

Penyebaran budaya Islam di Indonesia berlangsung secara damai dan evolutif. Islam berkembang lewat perantaraan bahasa Arab. Kontak awal Islam dengan kepulauan nusantara mayoritas berlangsung di pesisir pantai, khususnya melalui aktivitas perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang Persia, Arab, dan Gujarat (India). Kontak-kontak ini memungkinkan proses asimilasi, sinkretisasi, dan akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai competing culture India.

Penyebaran Islam dan Pengaruh Islam atas Kebudayaan Indonesia
Penyebaran Islam dan Pengaruh Islam atas Kebudayaan Indonesia

M.C. Ricklefs dari Australian National University menyebutkan dua proses masuknya Islam ke nusantara. Pertama, penduduk pribumi mengalami kontak dengan agama Islam dan kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang asing (Arab, India, Cina) pemeluk Islam menetap di suatu wilayah Indonesia, kawin dengan penduduk asli, dan mengikuti gaya hidup lokal sedemikian rupa sehingga mereka sudah menjadi orang Jawa, Melayu, atau suku lainnya, lalu mendifusikan Islam.

Teori lain masuknya Islam ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, penetrasi Islam dibagi ke dalam tiga jalur yaitu: Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Ketiga jalur didasarkan pada pangkal wilayah persebaran Islam yang memasuki Indonesia. Jalur Utara adalah masuknya Islam dari Persia dan Mesopotamia. Dari sana, Islam bergerak ke timur lewat jalur darat Afganistan, Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menuju Indonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf. Dalam aliran ini, Islam didifusikan lewat pengalaman personal (eksperensial) dalam mendekati Tuhan. Aliran inilah yang paling cepat mendorong konversi penduduk Indonesia ke dalam Islam nusantara. Aceh adalah salah satu basis persebaran Islam Jalur Utara ini.

Jalur Tengah adalah masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjung Arabia (Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya aliran Wahhabi. Pengaruhnya mengena di wilayah Sumatera Barat. Jalur ini terjadi sebab jika bertolak dari Hadramaut, maka dengan perjalanan laut orang-orang Islam langsung sampai ke pantai barat Sumatera. Konflik kaum adat dengan kaum agama dalam Perang Paderi terjadi setelah pengaruh Islam lewat jalur ini.

Jalur Selatan pangkalnya di wilayah Mesir. Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam modern dan Indonesia memperoleh pengaruhnya dalam organisasi keagamaan Muhammadiyah. Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.

Petunjuk tegas munculnya Islam pertama di nusantara adalah nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir yang wafat tahun 608H atau 1211 M, di pemakaman Lamreh, Sumatera bagian Utara. Nisan ini menunjukkan adanya kerajaan Islam pertama nusantara. Mazhab yang berkembang di wilayah Sumatera bagian Utara ini, menurut Ibnu Battuta (musafir Maroko) adalah Syafi’i.

Semakin signifikannya pengaruh Islam di nusantara ditandai berdirinya sejumlah kesultanan. Jean Gelman-Taylor mencatat di Ternate (Maluku) penguasanya melakukan konversi ke Islam tahun 1460. Di Demak, penguasanya mendirikan kota muslim tahun 1470, sementara kota-kota pelabuhan di sekitarnya seperti Tuban, Gresik, dan Cirebon menyusul pada tahun 1500-an. Sekitar tahun 1515 pelabuhan Aceh memiliki penguasa Islam, disusul Madura pada 1528, Gorontalo 1525, Butung 1542. Tahun 1605 penguasa Luwuk, Tallo, dan Gowa (Sulawesi Selatan) masuk Islam dan 1611 semenanjung Sulawesi Selatan telah dikuasai penguasa Islam.

Pada perkembangannya, terjadi proses saling pengaruh antara Islam yang sudah terakulturasi dengan budaya lokal dengan Islam yang baru masuk dari wilayah Timur Tengah. Interaksi tersebut di kemudian hari mulai dirundung konflik penafsiran dan ini terutama semakin mengemuka di saat berkuasanya rezim Ibnu Saud yang menggunakan Wahhabi sebagai paham keislamannya pada awal abad ke-19. Tulisan ini tidak akan menyentuh bagaimana konflik yang berlangsung antara aneka tipologi Islam. Tulisan hanya menghampiri sejumlah pengaruh yang dibawa Islam ke dalam budaya-budaya yang berkembang di Indonesia.

 

1. Masuknya Islam ke Indonesia

 

Durasi penyebaran awal Islam Indonesia dalam kisaran abad ke-7 hingga 13 Masehi. Penyebarnya berasal dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala). Profesi para penyebar umumnya pedagang, mubalig, wali, ahli-ahli tasawuf, guru-guru agama, dan haji-haji. Mereka menyebarkan Islam lewat sejumlah saluran. Saluran-saluran ini berlangsung dalam enam aras, yaitu perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni[5] dan tawaran pembentukan masyarakat egalitarian dalam strata sosial.

Perdagangan. Perdagangan merupakan metode penetrasi Islam paling kentara. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan Islam asing bertemu dan saling bertukar pengaruh. Pedagang asing umumnya berasal dari Gujarat dan Timur Tengah (Arab dan Persia). Mereka melakukan kontak dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan mendifusikan Islam mereka.

Tatkala para pedagang asing menetap – baik sementara waktu ataupun seterusnya – mereka membangun pemukiman yang disebut Pekojan.[6] Banyak di antara pada saudagar Islam yang kaya sehingga menarik hati kaum pribumi, terutama anak-anak kaum bangsawan, untuk menikahi mereka. Masalahnya, para pedagang menganggap pernikahan dengan penganut berhala tidak sah. Mereka mensyaratkan bahwa untuk menikah, penduduk Indonesia harus masuk Islam dengan mengucapkan syahadat terlebih dahulu. Proses pernikahan singkat, tidak melalui upacara yang panjang-lebar, membuat kalangan pribumi semakin menerima keberadaan orang-orang asing berikut agama barunya ini. Mukimnya pedagang Islam dalam kegiatan perdagangan (sekadar transit atau menetap), membuat mereka berkembang biak di sekitar wilayah pelabuhan. Pola ini mampu mengembangkan pemukiman Islam baru (disebut koloni). Ini menjelaskan mengapa Kerajaan Islam nusantara selalu berawal dari wilayah-wilayah pesisir seperti Bone, Banjar, Banten, Demak, Cirebon, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Hitu, ataupun Deli.

Perkawinan. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, perkawinan banyak dilakukan antara pedagang Islam dengan putri-putri adipati. Dalam pernikahan, mempelai pria Islam (juga wanitanya) mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan. Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut cenderung mengikuti agama orang tuanya yang Islam. Perkawinan antara saudagar Islam dengan anak-anak kaum bangsawan, raja, atau adipati menguntungkan perkembangan Islam. Status sosial, ekonomi, dan politik mertua-mertua mereka memungkinkan Islam melakukan penetrasi langsung ke jantung kekuasaan politik lokal (palace circle). Saat sudah berada di aras pusat kekuasaan politik, penerbitan kebijakan-kebijakan yang menguatkan penyebaran Islam mendapat prioritas dalam input, konversi, dan output kebijakan para sultan atau para adipatinya.

Tasawuf. Tasawuf merupakan epistemologi Islam yang banyak menarik perhatian kalangan pribumi. Metodenya yang toleran, tidak mengakibatkan cultural shock signifikan, membuat banjir penganut Islam baru. Tasawuf cenderung tidak menciptakan posisi diametral Islam dengan budaya India ataupun tradisi lokal yang dipraktekkan kalangan pribumi. Tokoh-tokoh tasawuf Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, ataupun beberapa tokoh Wali Sanga (termasuk juga Syekh Siti Jenar) mengambil posisi kunci dalam metode penyebaran ini. Lewat tasawuf pula, bentuk Islam yang diperkenalkan menunjukkan persamaan dengan alam pikiran orang-orang Jawa-Hindu, çiwa, dan Buddha. Akibatnya, Islam tidak dipandang sesuatu yang sama sekali asing bagi kalangan pribumi.

Pendidikan. Sebelum Islam masuk, Indonesia dikenal sebagai basis pendidikan agama Buddha, khususnya perguruan Nalendra di Sumatera Selatan. Pecantrikan dan Mandala adalah sekolah tempat para penuntut ilmu di kalangan penduduk pra Islam. Setelah Islam masuk, peran Pecantrikan dan Mandala tersebut diambil alih lalu diberi muatan Islam dalam kurikulumnya. Kini pesantren (Islam) berlaku sebagai pusat pembinaan guru agama, kiai, dan ulama. Selesai pendidikan, lulusan kembali ke kampung dan desa masing-masing untuk menjadi tokoh agama atau mendirikan pesantren sendiri. Misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang mendirikan pesantren di Ampel Denta. Selain itu, pesantren yang didirikan Sunan Giri menjadi terkenal hingga Maluku dan menyebabkan penduduk Maluku (khususnya wilayah Hitu) datang berguru pada Sunan Giri. Atau, para kiai dari Giri diundang mengajar ke Hitu. Biasanya, yang diundang menjadi khatib, modin, atau kadi masyarakat Hitu dan diberi upah cengkih.

Seni. Tidak bisa dipungkiri, seni punya peran signifikan dalam penyebaran Islam. Orang Indonesia sebelum kedatangan Islam terkenal sebagai seniman-seniman jenius yang punya kemashuran tinggi. Lewat seni, Islam mampu menjangkau segmen lebih luas masyarakat pribumi, termasuk para elitnya. Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan wayang sebagai cara dakwah baik atas penduduk biasa maupun elit sosial. Sunan Bonang menggunakan gamelan dalam melantunkan syair-syair keagamaan. Ini belum termasuk tokoh-tokoh lain yang mengadaptasi seni kerajinan lokal dan India yang diberi muatan Islam.

Egalitarianisme. Egalitarianisme akhirnya menempati posisi kunci. Problem utama di budaya sebelumnya adalah stratifikasi sosial berdasarkan kasta. Meski tidak terlampau ketat, Hindu di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi terbentuknya kasta sosial seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Paria. Masyarakat biasa kurang leluasa dengan sistem ini oleh sebab mengakibatkan sejumlah keterbatasan dalam hal pergaulan dan perkawinan. Lalu, Islam datang dan tidak mengenal stratifikasi sosial. Mudah dipahami, orang-orang Indonesia (terutama dari kasta bawah) yang hendak bebas merespon baik agama baru ini.

 

2. Pengaruh Islam di Bidang Bahasa

 

Konversi Islam nusantara awalnya terjadi di sekitar semenanjung Malaya. Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu. Melayu lalu digunakan sebagai bahasa dagang yang banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia. Seiring perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab.[7] Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.

Bersamaan naiknya Islam menjadi agama dominan kepulauan nusantara, terjadi sinkretisasi atas bahasa yang digunakan Islam. Sinkretisasi terjadi misalnya dalam struktur penanggalan Çaka. Penanggalan ini adalah mainstream di kebudayaan India. Secara sinkretis, nama-nama bulan Islam disinkretisasi Agung Hanyakrakusuma (sultan Mataram Islam) ke dalam sistem penanggalan Çaka. Penanggalan çaka berbasis penanggalan Matahari (syamsiah, mirip gregorian), sementara penanggalan Islam berbasis peredaran Bulan (qamariah). Hasilnya pada 1625, Agung Hanyakrakusuma mendekritkan perubahan penanggalan Çaka menjadi penanggalan Jawa yang sudah banyak dipengaruhi budaya Islam. Nama-nama bulan yang digunakan tetap 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Penyebutan nama bulan mengacu pada bahasa Arab seperti Sura (Muharram atau Assyura dalam Syiah), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Çaka sebab saat itu penanggalan harian Çaka paling banyak digunakan penduduk sehingga tidak bisa digantikan begitu saja tanpa menciptakan perubahan radikal dalam aktivitas masyarakat (revolusi sosial).

 

3. Pengaruh Islam di Bidang Pendidikan

 

Salah satu wujud pengaruh Islam yang lebih sistemik secara budaya adalah pesantren. Asal katanya pesantren kemungkinan shastri (dari bahasa Sanskerta) yang berarti orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu. Atau, kata cantrik dari bahasa Jawa yang berarti orang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi. Fenomena pesantren telah berkembang sebelum Islam masuk. Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, kurikulum dan proses pendidikan pesantren diambilalih Islam.

Pada dasarnya, pesantren adalah sebuah asrama tradisional pendidikan Islam. Siswa tinggal bersama untuk belajar ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang disebut Kyai. Asrama siswa berada di dalam kompleks pesantren di mana kyai berdomisili. Dengan kata lain, pesantren dapat diidentifikasi adanya lima elemen pokok yaitu: pondok, masjid, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik (kitab kuning).[8] Seputar peran signifikan pesantren ini, Harry J. Benda menyebut sejarah Islam ala Indonesia adalah sejarah memperbesarkan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi di Indonesia.[9] Melalui pesantren, budaya Islam dikembangkan dan beradaptasi dengan budaya lokal yang berkembang di sekitarnya tanpa mengakibatkan konflik horisontal signifikan.

 

4. Pengaruh Islam di Bidang Arsitektur dan Kesenian

 

Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Masjid-masjid awal yang dibangun pasca penetrasi Islam ke nusantara cukup berbeda dengan yang berkembang di Timur Tengah. Salah satunya tidak terdapatnya kubah di puncak bangunan. Kubah digantikan semacam meru, susunan limas tiga atau lima tingkat, serupa dengan arsitektur Hindu. Masjid Banten memiliki meru lima tingkat, sementara masjid Kudus dan Demak tiga tingkat. Namun, bentuk bangunan dinding yang bujur sangkar sama dengan budaya induknya. Perbedaan lain, menara masjid awalnya tidak dibangun di Indonesia. Menara dimaksudkan sebagai tempat mengumandakan adzan, seruan penanda shalat. Peran menara digantikan bedug atau tabuh sebagai penanda masuknya waktu shalat. Setelah bedug atau tabuh dibunyikan, mulailah adzan dilakukan. Namun, ada pula menara yang dibangun semisal di masjid Kudus dan Demak. Uniknya, bentuk menara di kedua masjid mirip bangunan candi Hindu. Meskipun di masa kini telah dilengkapi menara, bangunan-bangunan masjid jauh di masa sebelumnya masih mempertahankan bentuk lokalnya, terutama meru dan limas bertingkat tiga.

Pusara. Makam adalah lokasi dikebumikannya jasad seseorang pasca meninggal dunia. Setelah pengaruh Islam, makam seorang berpengaruh tidak lagi diwujudkan ke dalam bentuk candi melainkan sekadar cungkup. Lokasi tubuh dikebumikan ini ditandai pula batu nisan. Nisan merupakan bentuk penerapan Islam di Indonesia. Nisan Indonesia bukan sekadar batu, melainkan terdapat ukiran penanda siapa orang yang dikebumikan.

Seni Ukir. Ajaran Islam melarang kreasi makhluk bernyawa ke dalam seni. Larangan dipegang para penyebar Islam dan orang-orang Islam Indonesia. Sebagai pengganti kreativitas, mereka aktif membuat kaligrafi serta ukiran tersamar. Misalnya bentuk dedaunan, bunga, bukit-bukit karang, pemandangan, serta garis-garis geometris. Termasuk ke dalamnya pembuatan kaligrafi huruf Arab. Ukiran misalnya terdapat di Masjid Mantingan dekat Jepara, daerah Indonesia yang terkenal karena seni ukirnya.

Seni Sastra. Seperti India, Islam pun memberi pengaruh terhadap sastra nusantara. Sastra bermuatan Islam terutama berkembang di sekitar Selat Malaka dan Jawa. Di sekitar Selat Malaka merupakan perkembangan baru, sementara di Jawa merupakan kembangan sastra Hindu-Buddha. Sastrawan Islam melakukan gubahan baru atas Mahabarata, Ramayana, dan Pancatantra. Hasil gubahan misalnya Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Seri Rama, Hikayat Maharaja Rawana, Hikayat Panjatanderan. Di Jawa, muncul sastra-sastra lama yang diberi muatan Islam semisal Bratayuda, Serat Rama, atau Arjuna Sasrabahu. Di Melayu berkembang Sya’ir, terutama yang digubah Hamzah Fansuri berupa suluk (kitab yang membentangkan persoalan tasawuf). Suluk gubahan Fansuri misalnya Sya’ir Perahu, Sya’ir Si Burung Pingai, Asrar al-Arifin, dan Syarab al Asyiqin.

 

Baca Juga: https://www.gurupendidikan.co.id/

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN MENURUT AHLI

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN MENURUT AHLI

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN MENURUT AHLI

METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Menurut tujuannya, riset diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: (1) riset dasar (pure research atau basic research); dan (2) riset terapan (applied research), yang dibagi menjadi: (a) riset evaluasi (evaluation research); (b) riset pengembangan (research and development atau R & D); dan (c) riset aksi (penelitian tindakan).

RISET DASAR

Secara epistemologis, metodologi riset barkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Dalam riset dasar, dikenal dua kelompok paradigma yang dominan, yaitu: (1) paradigma positivistik (metode kuantitatif); dan (2) paradigma fenomenologis/interpretif (metode kualitatif).
Paradigma positivistik menggunakan proses riset yang konvensional-linier, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) fenomena-fenomena sosial/pendidikan diamati secara parsial, yaitu dengan cara mereduksi sejumlah variabel yang dianggap kurang penting dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang dimaksud; (2) berpandangan bahwa fenomena-fenomena kehidupan manusia di lingkungan sosialnya bersifat mekanistik dan berlaku universal; (3) proses riset menggunakan logika berpikir rasional dan deduktif; (4) menekankan pada uji hipotesis dan mengejar generalisasi; (5) fenomena-fenomena yang diamati sifatnya teratur/tidak random, sehingga dapat diprediksikan; (6) berpandangan bahwa teori bebas nilai dan menganut kebenaran tunggal (nomotetis); dan (7) memisahkan teori dan praktik.
Di lain pihak, paradigma fenomenologis (interpretif) dalam praktik pelaksanaan riset sering dianggap sebagai proses riset yang bersifat siklikal, berpandangan bahwa realitas (fenomena) tidak tunggal, tetapi bersifat jamak (plural). Tujuan utama riset fenomenologis adalah untuk memperoleh pemahanan terhadap makna (meaning), karena menurut pandangan fenomenologis fenomena (perilaku) yang sama akan mempunyai makna yang berbeda pada konteks kultural yang berbeda. Di dalam mengembangkan pemahaman makna terhadap fenomena tersebut, riset fenomenologi mendasarkan pada gambaran apa adanya menurut interpretasi subyek (folk model).
Paradigma positivistik, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kuantitatif merupakan pendekatan yang paling banyak dikenal dalam penelitian berbagai bidang ilmu, termasuk pendidikan, karena merupakan pendekatan yang paling tua.
Pendekatan ini diadopsi dari penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti Fisika dan Biologi, yang kemudian diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan. Pendekatan ini mendasarkan pada suatu asumsi nomotetis, yaitu bahwa sesuatu kebenaran itu tunggal dan akan berlaku di manapun tanpa terikat dengan konteks eko-kulturnya. Paradigma ini telah mewarnai berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan kita selama ini.
Paradigma fenomenologis, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kualitatif datang di Indonesia lebih belakangan dibanding paradigma positivistik, sehingga kehadirannya banyak menghadapi tantangan dari kubu positivistik. Paradigma ini berpandangan bahwa kebenaran itu tidak tunggal, tetapi dialektik, yang akan sangat tergantung pada konteks dan kultur masyarakat. Ciri lain dari penelitian ini adalah bahwa pengamatannya dilakukan pada skopa yang sempit tetapi mendalam.

RISET TERAPAN

Riset terapan, merupakan riset untuk menguji dan menerapkan teori untuk pemecahan permasalahan yang riil, mengembangkan dan menghasilkan produk, dan memperoleh informasi untuk dasar dalam pembuatan keputusan.
Penelitian terapan (applied research) dan penelitian dasar (pure research) mempunyai perbedaan dalam orientasi atau tujuan penelitian. Basic research bertujuan untuk menguji dan mengakumulasikan teori, sehingga menekankan standar keilmuan yang tinggi dan berusaha memperoleh hasil yang valid menurut ukuran metode ilmiah.
Sementara itu, penelitian terapan menekankan pada kemanfaatan secara praktis hasil penelitian untuk mengatasi masalah yang kongkrit, serta menemukan produk baru yang bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu, applied research juga dapat memberikan manfaat langsung untuk mengambil keputusan seperti keputusan untuk memulai sebuah program baru, menghentikan, memperbaiki atau mengganti program yang sedang berjalan.

Riset Pengembangan

Riset pengembangan atau Research and Development (R & D), bertujuan untuk mengembangkan, menguji kemanfaatan dan efektivitas produk (model) yang dikembang-kan, baik produk teknologi, material, organisasi, metode, alat-alat dan sebagainya.
Sebagai riset terapan, riset pengembangan bertujuan bukan untuk menghasilkan teori. Oleh karena itu, dalam penelitian pengembangan sangat dimungkinkan untuk menggunakan multi pendekatan dan multi metode.

Riset Aksi (Penelitian Tindakan)

Riset aksi (penelitian tindakan) mendasarkan pada paradigma teori kritis. Para penganut paradigma teori kritis berusaha untuk mempersatukan teori dan praksis.
Mereka pada umumnya memilih bidang garapan yang bersifat advokatif dan pemberdayaan (empowering). Di kalangan penganut teori kritis, teori deskriptif sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para penganut positivistik itu keliru, karena tidak memiliki dampak apapun terhadap usaha perbaikan praktik-praktik pendidikan ataupun peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Riset Evaluasi

Riset evaluasi merupakan salah satu bentuk dari penelitian terapan (applied research). Oleh karena itu, dibandingkan dengan jenis penelitian terapan yang lain, riset evaluasi mempunyai kesamaan, baik dalam pemilihan pendekatan, metodologi, penentuan subyek, sampling maupun prosedur risetnya. Kegiatan riset (riset konvensional) dan riset evaluasi mempunyai tujuan yang berbeda. Riset konvensional bersifat conclusion oriented (berorientasi pada kesimpulan), sedangkan riset evaluasi mempunyai ciri decision oriented, yaitu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi/data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan/perumusan kebijakan.

PENELITIAN EKSPERIMEN

Metode penelitian eksperimen pada umumnya digunakan dalam penelitian yang bersifat laboratoris. Namun, bukan berarti bahwa pendekatan ini tidak dapat digunakan dalam penelitian sosial, termasuk penelitian pendidikan. Jadi, penelitian eksperimen yang mendasarkan pada paradigma positivistik pada awalnya memang banyak diterapkan pada penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti biologi dan Fisika, yang kemudian diadopsi untuk diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan.
Pada dasarnya, pada semua penelitian dengan menggunakan paradigma positivistik, akan menghadapi dua pertanyaan besar, yaitu: (1) apakah hasil penelitian ini benar atau dapat dipercaya?; dan (2) apakah kita dapat menggeneralisasikan hasil penelitian ini kepada sejumlah subyek yang kondisinya dianggap sama dengan subyek yang kita teliti ?
Permasalahan nomor (1) adalah berkaitan dengan validitas internal suatu hasil penelitian, sedangkan permasalahan yang berkaitan dengan pertanyaan nomor (2) menyangkut validitas eksternal suatu hasil penelitian. Penelitian eksperimen pada umumnya lebih menekankan pada pemenuhan validitas internal, yaitu dengan cara mengontrol/mengendalikan/mengeliminir pengaruh faktor-faktor di luar yang dieksperimenkan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Pengertian Etnografi Dan Grounded Theory Menurut Ahli

Pengertian Etnografi Dan Grounded Theory Menurut Ahli

Pengertian Etnografi Dan Grounded Theory Menurut Ahli

Pengertian Etnografi Dan Grounded Theory Menurut Ahli
Pengertian Etnografi Dan Grounded Theory Menurut Ahli

PENELITIAN ETNOGRAFI DAN GROUNDED THEORY

Etnograli merupakan cabang antropologi yang digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan dan menganalisis unsur kebudayaan suatu masyarakat atau suku bangsa. Etnografi, dalarr kegiatannya memerikan (mengungkap) uraian terperinci mengenai aspek cara berperilaku dan cara berpikir yang sudah membaku pada orang yang dipelajari, yang dituangkan dalam bentuk tulisan, foto, gambar atau film. Kebudayaan meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan perilaku dan pemikiran serta keyakinan suatu masyarakat. Ha yang dipelajari bisa berupa bahasa, mata pencaharian, sistem teknologi, organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, bahasa dan religi. Untuk memahami unsur-unsur kebudayaan tersebut, peneliti biasanya tinggal bersama masyarakat yang diteliti dalam wa<tu yang cukup ama untuk mewawancarai, mengamati, dan mengumpulkan dokmen-dokumon tentang obyek yang diteliti.
Dengan bahasan terhadap tulisan-tulisan tersebut, mereka berusaha untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia mula muncul di muka bumi sanpai ke masa terkini. Mereka bekerja keras mengungkap relaita yang tercapat dalam sua au komunitas masyarakat dan menyusun secara sistematis deskripsi budaya-budaya pada masyarakat tersebut.
Menjelarg akhir abad ke-19, muncul pandangan baru dalam ilmu antropologi. Kerangka evolu si masyarakat dan budaya yang disusun oleh para ahli teori terdahulu kini dipandang sebagai tindakan yaig tidak realistis, tidak diukung oleh bukti yang nyata. Dari sini kemudian muncul pemikiran baru bahwa seorang antropolog harus melihat sendiri kelompok masyarakat yang menjadi objek kajiannya, jika dia ingin mendapatkan teori yang lebih mantap. Irilah asal mula pemikiran tentang perlunya kajian lapangan etnografi dalam antropologi.
Teknik etnografi utama pada masa awal ini adalah wawancara yang panjang, berkalikali, dengan beberapa informan kunci, yaitu orang-orang tua dalam masyarakat tersebut yang kaya dentjan cerita tentaig masa lampau, tentang kehidupan yang “nyaman” pada suatu masa dahulu. Orientasi teoretis para peneliti terutama berkaitan dengan perubahan sosial dan kebu jayaan.
Berdasakan uraian di alas, makalah ini berisi kajian sederhana mengenai penelitian etnografi yang dimulai dari sejarah munculnya penelitian etnografi sampai dengan prosedur melaksanakan penelitian etnografi berdasarkan referensi tokoh-tokoh etnografi yang berkompeten.

Pengertian Etnografi

Istilah etnografi berasal dari kata Yunani ethnos yang berarti ‘orang’ dan graphein yang berarti ‘t jlisan’. Istilah itu kemudian diartikan sebagai sejenis tulisan yang menggunakan bahan-bahan dari penelitian lapangan untuk menggambarkan kebudayaan manusia. Menurut Spradley (1980: 6-8) kebudayaan merupakan seluruh pengetahuan yang dipelajari manusia dan digunakan untuk menginterpretasi pengalaman dan membentuk tingkah laku, dan ethrografi merupakan penelitian yang membahas kebudayaan, baik yang eksplisit maupun implisit.
Etnografi adalah deskripsi tertulis mengenai organisasi sosial, aktivitas sosial, simbol dan sumber material dan karakteristik praktik interpretasi suatu kelompok manusia tertentu.
(Duranti, 1997: 85). Mengacu pada pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa, penelitian etnografi merupakan penelitian mengenai aktivitas sosial dan, perilaku masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu. Etnografi merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait jengan antropologi, yang mempelajari dan mendeskripsikan peristiwa budaya, yang monyajkan pandangan hidup subjek yang menjadi obyek studi. Deskripsi itu diperoleh oleh peneliti dengan cara berpartisipasi secara langsung dan lama terhadap kehidupan sosial suatu masyarakat.

Istilah etnografi

Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi. Etnografi merupakan embrio dari antopologi, yaitu lahir pada tahap pertama dari perkembangannya, yaitu sebelum tahun ‘ 800-an. Etnografi merupakan hasil-hasil catatan penjelajah Eropa ketika mencari rempah-rempah ke Indonesia. Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalanannya, antara lain berisi tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut (Koentjaraningrat, 1989: 1). Charles Wnnick (1915: 193) mendefinisikan etnografi sebagai…the study of individual culture s. It is primarily k deschptive and non interprestative study….
Etnografi berarti belajar tentang jantung dari ilmu antropologi, khususnya antropologi sosial. Ciri-ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang holistic-integrative, thmk descnption, dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan native’s point cf vie/v. Teknik pengumpulan data yang utama adalah partipasi dan wawancara terbuka dan mendalam, yang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama, bukan kunjungan singrat dengari daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survai.
Secara bahasa, etnografi berarti potret suatu masyarakat. Menurut Marvin Harris and Orna Johnson (/.000), penelitian etnografi adalah gambaran tertulis tentang suatu budaya, yaitu adat, kepercayaan, dan perilaku- berdasarkan pengamatan peneliti yang terjun langsung ke lapangan. Etnografi adalah metode penelitian sosial yang tergantung sepenuhnya pada pengamatan peneliti secara dekat sehingga ia perlu membekali diri dengan kemampuan bahasa, budaya, dan pengetahuan mendalam tentang wilayah/bidang penelitian,dan penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan penelitian..
Fettermgn (dsilam Genzjk, 2003) mendefinisikan etnografi sebagai “…the art and science of deserting a group or culture. The description may be of a small tribal group in an exotic land or i\ classroom in middle-class suburbia.” Secara lebih terperinci, American Anthropological Association (2002) mendefinisikan etnografi sebagai: “… the description of cultural systems or an aspect of culture based on fieldwork in which the investigator is immersed in the ongoing everyday activities of the designated community for the purpose of describing the social context, relationships and processes relevant to the topic under consideration.” Penelitian etnografi memusatkan perhatian pada keyakinan, bahasa, nilai-nilai, ritual, adat istiadat dan tingkah laku sekelompok orang yang berinteraksi dalam suatu lingkungan sosial-ekcnomi, religi, politik, dan geografis. Analisis etnografi bersifat induktif dan dibangun berdasarkan perspektif orang-orang yang menjadi partisipan penelitian. Menurut Emzir (2008: 153-154), peneliti etnografer dapat dianalogikan dengan seorang penjela ah hutan. Tujuan utama si penjelajah bukanlah untuk menemukan sesuatu di dalam hutan tetapi membuat deskripsi suatu wilayah hutan tersebut (analog dengan tujuan etnografer meneskripsikan sebuah wilayah kultural). Untuk mencapai tujuan itu, si penjelajahan dmwali dengan pertanyaan umum: Apakah ciri-ciri utama wilayah tersebut?
Untuk mempero eh jawaban terhadap pertanyaan ini si penjelajah berjalan ke satu arah dan mengumpulkan informasi tentang pepohonan, jenis tanah, atau hewan-hewan yang ditemuinya di sskitar rute tersebut. Kemudian dia bisa menapaki sebuah rute baru, dan ketika menemukan sebuah danau dia mengelilinginya untuk mengumpulkan informasi dan berupaya menggunakan rute yang sudah dikenalnya untuk mengukur jarak danau dari tepi hutan. Selama menjelajah, dia akan sering membaca kompas, membuat catatan tentang tanda-tanda yang menonjol, dan membuat umpan balik dengan cara menghubung-hubungkan informasi tertentu dengan informasi lain serta memodifikasi informasi awal sesuai dengan perkembangan informasi yang diperoleh. Setelah beberapa minggu, penjelajah mungkin mengalam kesulitan untuk menjawab pertanyaan. “Apa yang Anda temukan?”. Namun ketika ditanya tentang gambaran wilayah hutan tersebut, dia akan mampu menjelaskan secara panjang lebar.

Objek Etnografi

Objek etiografi adalah kebudayaan yang memiliki unsur ekplisit dan implisit.
Penelitian tentang unsur-unsur kebudayaan yang eksplisit dapat dilakukan dengan mudah karena unsur-unsur kebudayaan seperti itu relatif terungkap oleh partisipan secara sadar.
Sebaliknya, penelitian berhubungan dengan unsur-unsur kebudayaan yang implisit, yang tercipta dan dipahami secara tidak sadar oleh pemiliknya, maka data dan makna harus disimpulkan secara hati-hati berdasarkan penuturan dan tingkah laku para patisipan. Hal inilah yang membuat seorang etnografer perlu terlibat dalam kehidupan masyarakat yang diteliti dengan berperan sebagsi pengamat berparisipasi (participant-observer). Spradley (1980: 51) menekankan: “participation allows you to experience activities directly, to get the feel of what events are like, and to record your own perceptions.”
Menulis tentang masyarakat, penulisannya mengacu pada studi deskriptif. Dalam perkembangannya, etnografi tidak hanya merupakan paparan saja, tanpa interpretasi.

MENGANALISIS PEMENTASAN DRAMA

MENGANALISIS PEMENTASAN DRAMA

MENGANALISIS PEMENTASAN DRAMA

MENGANALISIS PEMENTASAN DRAMA
MENGANALISIS PEMENTASAN DRAMA

Menganalisis pementasan drama berarti menganalisis unsur – unsur dalam pementasan drama tersebut. Hal – hal yang berkaitan dengan tekhnik pementasan drama sebagai berikut :

Tata rias

Tata rias adalah cara mendadani pemain. Tata rias dalam pementasan drama memiliki tugas sebagai berikut :

  1. Memperjelas apa yang akan dinyatakan peran
  2. Memperjelas sifat atau kepribadian pemain
  3.    Pakaian atau kostum

Tata busana adalah pengaturan pakaian pemain baik bahan, model, maupun cara mengenakannya.

Tata panggung

Tata panggung adalah keadaan panggung yang dibutuhkan untuk pemain drama

Tata bunyi

Tata bunyi di gunakan untuk membantu menggambarkan situasi yang terjdi dalam pementasan drama

Selain tekhnik pementasan drama, anda dapat menilai hal – hal berikut :

a1.      Penjiwaan pemain dalam memerankan karakter yang dimainkan

b2.      Ekspresi yang digunakan pemain

c3.       Gerak gerik pemain

d4.      Lafal yang digunakan pemain

e5.      Intonasi yang digunakan pemain

Volume suara yang digunakan pemain

Di dalam drama terkandung karakteristik yang kas. Karakteristik tersebut adalah :

  1. Dasar karya satra drama adalah kehidupan manusia dengan serbanekanya
  2.     Plot dalam drama sepenuhnya terletak pada kemampuan aktor dalam mewujudkan hasil penafsirannya atas tokoh yang di peraninya
  3.     Cara menikmati drama yaitu dengan cara menontonnya
  4.     Unsur esensial drama lengkap dengan cara dipentaskan
  5.     Mengutamakan unsur tingkah laku yang konkret dan dialog
  6.     Unsur drama terdiri atas lakon cerita , pemain, tempat, dan penonton
  7.     Naskah drama terdiri atas wawancang dan kramagung

 

Baca Artikel Lainnya:

Pengertian Tasawuf

Tasawuf

Pengertian Tasawuf

Tasawuf
Tasawuf

Pengertian tasawuf

     Pengertian tasawuf antara lain :

  1. Shafa (suci) disebut safa karena kebersian batin sufi dan kebersihan tindakannya.
  2. Shaff (barisan), karena para sufi mempunyai iman yang kuat , jiwa yang bersih dan senatiasa memilih barisan terdepan dalam salat berjamaah
  3. Saufanah : karena banyak sufi yang memakai pakaian yang berbulu yang terbuat dari bulu domba yang kasar
  4. Shuffah (serambi tempat duduk) : yakni suffah mesjid madinah yang disediakan bagi tuna wisna di kalangan muhajirin pada masa rasulullah SAW
  5. Shafwah (yang terpilih atau terbaik) : sufi adalah orang yang terpilih diantara hamba allah karena ketulusan amal mereka kepadanya
  6. Theosopi (yunani, theo = tuhan, shopos = hikmah) : yang berarti hikmah / kearifan ketuhanan
  7. Shuf (bulu domba) : karena para sufi biasanya memakai pakaian dari bulu domba yang kasar

Tokoh-tokoh tasawuf :

  1. Aljunaid- albaghdadi (297 H/910M)
  2. Abu ahmad ruwain bin ahmad (303 H/916M)
  3. Bisyr bin haris al-hafi (227 H/842 M)
  4. Muhammad aljurairi (311 H/924 M)
  5. Abu al kasim aljurairi (465 H/1073 M)
  6. Abu yazid al bustami (261 H/875 M)
  7. Makruf al karkhi (200 H/816 M)
  8. Zunnun al inistri (334 H/946 M)
  9. Al hallaj (309 H/922 M)
  10.  Ibnu arabi (638 H/1241 M)
  11.  Zakaria al anshari (852 H/1448 M – 925 H/1519 M)
  12. Karakteristik tasawuf
  13. Tasawuf diartikan sebagai pengalaman mistik
  14. Pengetahuan dalam tasawuf bersifat pasti dan meyakinkan bukan bersifat spekulatif
  15. Tasawuf merupakan visi lansung terhadap sesuatu, bukan melalui
  16. Tasawuf mampu melihat sesuatu lansung dari hakikatnya.

         Berdasarkan objeck dan sasarannya tasawuf di klafikasikan menjadi 3 macam, yaiutu :

  1. Tasawuf akhlaki yaitu tasawuf yang snagat menekannkan nilai-nilai etis (moral)
  2. Tasawuf amali yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan nilai-nilai ibadah. Tujuannya agar di peroleh penghayatan dalam setiap melakukan ibadah
  3. Tasawuf falsafi yaitu tasawuf yang menekankan pada masalah-masalah yang metafisik.
  4. Maqamat sebagai upaya peningkatan akhlak

            Tujuan tasawuf adalah berada sedekat mungkin di sisi allah dengan mengenalnya secara lansung dan tenggelam dalam kemaha easaannya yang mutlak.

  1. Zuhud

    Zuhud artinya menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia

  1. Mahabbah

     Mahabbah artinya mencintai segala sesuatu karna allah

  1. Fana’ dan baka’ (lewat penghancur muncullah kekekalan)

      Fana’ artinya sirna, sedangkan baka’ artinya kekal, fana’ dn baka’ yaitu sirnanya sifat yang tercela dan munculnya sifat yang terpuji.

  1. Ittihad

      Pegalaman kesatuan seorang suri

  1. Halul

     Bertempatnya sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan

  1. Wahdatul wujud

     Semua wujud hanya memiliki sebuah realitas, realitas tunggal itu hanya allah SWT.

 

Sumber : https://sel.co.id/

Kegunaan Informasi Akuntansi Bagi Pemakai

Kegunaan Informasi Akuntansi Bagi Pemakai

Kegunaan Informasi Akuntansi Bagi Pemakai

Kegunaan Informasi Akuntansi Bagi Pemakai

Kegunaan Informasi Akuntansi Bagi Pemakai – Informasi akuntansi yang diinformasikan dalam bentuk laporan keuangan perusahaan merupakan media komunikasi antara kegiatan usaha perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan atas posisi keuangan dan perkembangan usaha perusahaan. Informasi akuntansi memiliki kegunaan yang sangat bergantung pada pemakainya.

Berikut ini adalah kegunaan informasi akuntansi bagi :

Pimpinan perusahaan

  1. Sebagai bukti pertanggungjawaban kepada pemilik perusahaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengelola perusahaan
  2. Sebagai alat penilaian atas pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan, baik secara keseluruhan, bagian-bagian maupun individu-individu yang diberi wewenang dan tanggung jawab.
  3. Sebagai alat untuk mengukur tingkat biaya kegiatan-kegiatan usaha yang dilaksanakan perusahaan
  4. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengendalikan kegiatan perusahaan
  5. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program kegiatan pada periode mendatang
  6. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan
  7. Untuk mengetahui kondisi perusahaan dan posisi keuangan perusahaan

Pemilik perusahaan

Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas atau perusahaan yang pimpinannya diserahkan kepada orang lain, laporan keuangan sangat dibutuhkan oleh pemilik perusahaan. Laporan keuangan bagi pemilik perusahaan berfungsi sebagai :

  1. Alat penilaian atas hasil yang telah dicapai oleh pimpnan perusahaan
  2. Dasar penentuan taksiran keuntungan yang akan diterima di masa mendatang dan taksiran perkembangan harga saham yang dimilikinya

Kreditor dan calon kreditor

Kreditor adalah orang atau badan yang memberikan pinjaman berupa uang atau barang kepada perusahaan. Bagi para kreditor dan calon kreditor, laporan keuangan berfungsi sebagai bahan pertimbangan dan keputusan dalam pemberian kredit, karena dari hasil analisis laporan keuangan dapat diketahui apakah perusahaan yang akan diberi pinjaman dapat mengembalikan pinjaman pada saat jatuh tempo atau tidak. Dari laporan keuangan dapat diketahui pula apakah pinjaman yang diberikan cukup mendapat jaminan atau tidak.

Investor dan calon investor

Orang atau badan yang menanamkan modal pada suatu perusahaan disebut dengan investor. Penanaman modal dapat dilakukan dengan dua cara yaitu membeli sebagian dari modal saham perusahaan atau memberikan pinjaman kepada perusahaan yang bersangkutan yang didukung oleh surat obligasi.

Bagi investor maupun calon investor, laporan keuangan berguna sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi pada sutu perusahaan. Selain itu laporan keuangan berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan keuntungan atau membayar deviden kepada investor.

Instansi pemerintah

Instansi pemerintah yang berkepentingan terhadap laporan keuangan diantaranya :

  • Kantor Pelayanan Pajak

Bagi Kantor Pelayanan Pajak, laporan keuangan perusahaan berfunsi sebagai dasar penentuan pajak penghasilan yang menjadi tanggungan perusahaan.

  • Badan Pengembangan Pasar Modal (Bapepam)

Bapepam menggunakan laporan keuangan sebagai alat pengawasan keuangan perusahaan yang menjual sahamnya melalui pasar modal.

  • Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Laporan keuangan digunakan untuk kepentingan pengumpulan data statistik.

Karyawan

Karyawan juga berkepentingan terhadap laporan keuangan, karena laporan keuangan berfungsi sebagi berikut :

  1. Untuk mengetahui tungkat kemampyuan perusahaan dalam membayar gaji dan jaminan sosial lainnya.
  2. Untuk menilai perkembangan serta prospek perusahaan dalam rangka penentuan pilihan langkah yang harus dilakukan sehubungan dengan  kelangsungan kerjanya.
  3. Sebagai dasar penilaian tingkat kelayakan bonus yang diterimanya dibanding dengan keuntungan perusahaan pada periode yang bersangkutan.

Sumber: https://duniapendidikan.co.id/