Tekan Penyebaran Virus, Jamaah Umroh Divaksin

Tekan Penyebaran Virus, Jamaah Umroh Divaksin

Tekan Penyebaran Virus, Jamaah Umroh Divaksin

Tekan Penyebaran Virus, Jamaah Umroh Divaksin
Tekan Penyebaran Virus, Jamaah Umroh Divaksin

BANDUNG- Berbagai upaya terus dilakukan oleh sejumlah instansi

, baik pemerintah daerah, pihak swasta maupun perusahaan yang bergerak di bidang biro perjalanan, dalam menyikapi merebaknya virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang saat ini sudah menelan ratusan korban jiwa di seluruh dunia, termasuk di Timur Tengah.
Seperti yang dilakukan oleh biro perjalanan Panghegar Tour and Travel. Untuk mengentisipasi kemungkinan calon Jemaah Umroh yang akan berangkat ke Arab Saudi , terkena virus Mers, biro perjalanan tersebut membekali mereka dengan pemberian vaksin.

Presiden Komisaris Panghegar Taour and Travel,

Hilwan Saleh mengatakan, upaya pemberian vaksin merupakan hal yang wajib dilakukan oleh pihaknya sebagai langkah antisipasi penularan virus tersebut.

“Dengan kita tahu kondisi lebih awal jadi persiapan kita lebih baik lagi. Biasanya Jemaah Haji dan Umroh selalu dibekali dengan anti virus dalam bentuk vaksin dan ini merupakan hal yang wajib bagi kita,” ujarnya.

Dengan pemberian vaksin tersebih dahulu menurut Hilwan

, bisa menangtisipasi sehingga pada waktu Jemaah berada di tanah suci mereka bisa terhindar dari penyebaran dari virus tersebut.

“Dengan kondisi fisik Jemaah yang bagus dan dibekali vaksin, Insya Allah Jemaah bisa menangkal virus itu,” ucap Hilwan, kepada , di ruang kerjanya, di Hotel Panghegar, Jalan Merdeka, Kamis (08/05).

Sebelumnya diberitakan, Dinas Kesehatan Kota Bandung meminta kepada masyarakat Bandung yang akan Umroh serta biro perjalanan yang ada di Bandung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus yang ditularkan melalui hewan unta itu.

 

Sumber :

https://www.mindstick.com/Articles/95820/understanding-of-speaking-skills-and-forms-platforms-objectives-and-examples

Pemerintah Pusat Nilai Program USAID PRIORITAS Jabar Berhasil

Pemerintah Pusat Nilai Program USAID PRIORITAS Jabar Berhasil

Pemerintah Pusat Nilai Program USAID PRIORITAS Jabar Berhasil

Pemerintah Pusat Nilai Program USAID PRIORITAS Jabar Berhasil
Pemerintah Pusat Nilai Program USAID PRIORITAS Jabar Berhasil

BANDUNG- Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Wahyuddin Zarkasyi

menyatakan dirinya memberikan apresiasi terhadap siswa SDN 2 Rajamandalakulon, Cipatat, yang penuh percaya diri memperagakan proses pembelajaran kelas dunia.
Menurut Wahyudin, para siswa mampu memperagakan proses pembuatan pembangkit listrik sederhana dari bahan-bahan daur ulang, setelah sebelumnya mereka melakukan pengamatan ke PLTA

“Kepercayaan diri siswa ini merupakan bukti sahih bahwa program USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students) berdampak positif,” ujar Wahyuddin.

Wahyudin mengatakan, saat ini Disdik Jabar tengah memperkuat pendidikan dasar,

baik mutu maupun aksesnya dengan mendukung implementasi Kurikulum 2013 dalam rangka memperkuat pendidikan dasar itu.

“Kehadiran program USAID PRIORITAS sangat tepat waktu dan tepat sasaran, membantu kami memperkuat pendidikan dasar, khususnya dalam hal pembelajaran, tatakelola, dan manajemen pendidikan dasar.” Kata Wahyudin, pada kegiatan Provincial Showcase, lokakarya keberhasilan program USAID PRIORITAS beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Barat, Erna Irnawati

mengatakan, bahwa setelah berjalan satu tahun lebih, Kab/Kota mitra USAID PRIORITAS telah memperlihatkan dampak positif dari program, melalui kegiatan showcase

“Semua kab/kota di Jabar yang menjadi mitra USAID PRIORITAS menunjukkan dampak program melalui simulasi pembelajaran, talkshow, dan pameran praktik yang baik. Kita berharap kegiatan ini dapat menginspirasi para pemangku kepentingan pendidikan dasar di Jabar,”

Stuart Weston, Direktur USAID PRIORITAS, menghargai kerja keras segenap mitra USAID PRIORITAS di Jabar dalam mendukung keberhasilan program.

“Pameran, simulasi pembelajaran, dan talkshow ini menunjukkan dengan jelas dampak program di tingkat sekolah dan daerah mitra USAID PRIORITAS,” katanya.

 

Sumber :

http://www.becomegorgeous.com/blogs/hamzziiii/feminism-understanding–history–characteristics–types–strengths–weaknesses-P82048

BPJS Naker Kian Gencar Sosialisasi Program

BPJS Naker Kian Gencar Sosialisasi Program

BPJS Naker Kian Gencar Sosialisasi Program

BPJS Naker Kian Gencar Sosialisasi Program
BPJS Naker Kian Gencar Sosialisasi Program

BANDUNG-Dengan program baru yakni jaminan pensiun, BPJS

Ketenagakerjaan harus terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi menjadi salah satu jurus ampuh untuk memperkenalkan produk atau program sebuah lembaga.

“kami secara masif mensosialisasikan program-program kepada masyarakat,” tandas Kepala BPJS Naker Kantor Cabang Majalaya, Ahmad Gunawan, di tempat kerjanya, Jalan Soekarnohatta Bandung, belum lama ini.

Achmad Gunawan. meneruskan, berdasarkan Undang Undang Ketenagakerjaan

, seluruh pekerja, baik yang bersifat formal maupun non-formal atau bukan penerima upah, wajib menjadi peserta lembaga yang sebelumnya bernama PT Jamsostek (Persero) tersebut. Dasar itu, cetusnya, yang membuat jajarannya membidik para pekerja sektor non-formal, seperti
para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan lainnya.

Mengenai jumlah peserta yang merupakan pekerja non-formal,

Ahmad Gunawan mengungapkan, sejauh ini, terus menunjukkan perkembangan. Jumlahnya, sambung dia, mencapai ratusan. “Karenanya, kami melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepesertaan pekerja sektor non-formal,” tegas dia.

Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan BPJS Kantor Cabang Majalaya secara masih berlangsung di banyak titik wilayah kerjanya, seperti kawasan Cinunuk, Kabupaten Bandung. jo

 

Baca Juga :

 

 

BNN Provinsi Jabar Ungkap Program Kerja

BNN Provinsi Jabar Ungkap Program Kerja

BNN Provinsi Jabar Ungkap Program Kerja

BNN Provinsi Jabar Ungkap Program Kerja
BNN Provinsi Jabar Ungkap Program Kerja

 

BANDUNG. Kepala BNN Provinsi Jabar, Brigjen Pol Drs. Anang Pratanto

, dalam raker bersama Komisi V DPRD Jabar, Selasa (31/3) mengungkapkan program kerja.

Program kerja yang menjadi prioritas adalah Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Dengan program tersebut, diharapkan seluruh komponen masyarakat di Jabar tidak terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang tercermin dari angka prevalensi di tahun 2014 dibawah 2,5 persen.

Adapun rencana strategis P4GN BNNP Jabar pertama, ekstensifikas

i dan intensifikasi pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Kedua, ekstensfikasi dan intensifikasi pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Ketiga, memfasilitasi penyediaan sarana dan rehabilitasi bagi penyalahgunaan dan pecandu narkoba.

Keempat, memberantas sindikat jaringan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba baik dari luar maupun dalam negeri.

Anang, lebih lanjut memaparkan untuk program rehabilitasi pecandu,

BNNP Jabar menargetkan 100.000 pecandu narkoba dapat dilakukan rehabilitasi.

Dari 100.000 pecandu narkoba yang direhabilitasi , 4.484 orang dapat direhabilitasi melalui instansi pemerintah.

Dengan tersebarnya di Jabar Lembaga rehabilitasi komponen masyarakat dengan jumlah lembaga sebanyak 37 lembaga, diharapkan dapat merehabilitasi pecandu narkoba sebanyak 5.054 orang.

 

Sumber :

https://steemit.com/blog/@alistudio/jaring-jaring-kubus

Larangan Penggunaan Pukat

Larangan Penggunaan Pukat

Larangan Penggunaan Pukat

Larangan Penggunaan Pukat
Larangan Penggunaan Pukat

BANDUNG-Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti,

menerbitkan regulasi, yaitu Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tentang
pelarangan pemakaian alat penangkapan ikan pukat hela (Trawls) dan pukat tarik (Sein Nets) di wilayah negara ini.

Dampak terbitnya peraturan tersebut yaitu hasil penangkapan para nelayan anjlok. Merosotnya hasil penangkapan itu, secara otomatis membuat pendapatan kalangan tersebut pun turun.

“Contoh, di Pantai Selatan, yaitu Garut, hasil penangkapan

nelayan drop 60-65 persen setiap hari. Para nelayan di Rancabuaya, Pameungpeuk, Sandang, dan Cimari, biasanya mampu menangkap ikan hingga 150 ton. Kini, pasca penerbitan peraturan itu, turun menjadi 60 ton,”ungkap Ketua Terpilih DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNS) Jabar, H. Nandang A. Permana, Jumat (3/4).

Nandang menjelaskan, peraturan itu mewajibkan para nelayan menggunakan jaring yang ramah lingkungan. Akan tetapi, lanjutnya, peraturan itu tidak menjelaskan maksud jaring ramah lingkungan. Sebenarnya, ungkap dia, pihaknya sudah bertanya tentang jenis nelayan ramah lingkungan tersebut. Sayangnya, ujar Nandang, pemerintah tidak menyebutkan contohnya. Hal itu, lanjut dia, membingungkan kalangan nelayan.

Nandang menilai kurangnya azas keadilan dalam peraturan tersebut

. Itu karena, jelas dia, peraturan itu berlaku umum sehingga menyamaratakan antara kalangan nelayan yang berperahu besar dan kecil. Padahal, ucap dia, ada perbedaan antara nelayan besar dan kecil. “Situasi ini, jelas berdampak besar, khususnya, bagi kalangan nelayan kecil,” sahut Nandang.

Nandang berpandangan, terbitnya regulasi itu pun tidak melalui uji publik dan peninjauan secara terlebih dahulu dan terkesan terburu-buru serta kurang memperhatikan aspirasi kalangan nelayan. Tidak itu saja, tambahnya, regulasi tersebut tidak tersosialisasikan. Baiknya, tuturnya, sebelum terbit, pemerintah melakukan uji publik dan berlanjut pada sosialisasi. Akibatnya, kata Nandang, kalangan nelayan
terkejut oleh terbitnya peraturan tersebut. jo

 

Sumber :

https://steemit.com/blog/@alistudio/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan

Konsep Aliran dan Sejarah Koperasi

Konsep Aliran dan Sejarah Koperasi

Konsep Aliran dan Sejarah Koperasi

Konsep Aliran dan Sejarah Koperasi
Konsep Aliran dan Sejarah Koperasi

Konsep koperasi dibagi menjadi tiga yaitu

Ada konsep koperasi barat, konsep koperasi sosialis dan konsep koperasi Negara berkembang.
1. Konsep Koperasi Barat
Konsep merupakan organisasi swasta, yang dibentuk secara sukarela oleh orang – orang yang mempunyai persamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta menciptakan keuntungan timbale balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi.

Unsur – unsure Positif Konsep Koperasi Barat.

· Keinginan individu dapat dipuaskan dengan cara bekerjasama antar sesame anggota , dengan saling membantu dan saling menguntungkan.
· Setiap individu dengan tujuan yang sama dapat berpatisipasi untuk mendapatkan keuntungan dan menanggung resiko bersama.
· Hasil berupa surplus / keuntungan didistribusikan kepada anggota sesuai dengan metode yang telah disepakati.
· Keuntungan yang belum didistribusikan akan dimasukkan sebagai cadangan koperasi.

2. Konsep Koperasi Sosialis
Koperasi direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah dan dibentuk dengan tujuan merasionalkan produksi, untuk menunjang perencanaaan nasional.
Menurut konsep ini, koperasi tidaj berdiri sendiri tetapi merupakan subsistem dari system sosialisme untuk mencapai tujuan – tujuan system sosialis – komunis.

3. Konsep Koperasi Negara Berkembang.
· Koperasi sudah berkembang dengan cirri tersendiri, yaitu dominasi campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangannya.
· Perbedaan dengan konsep sosialis, pada konsep sosialus, tujuan koperasi untuk merasionalkan factor produksi dari kepemilikan pribadi ke pemilikan kolektif sedangkan konsep koperasi Negara berkembang, tujuan koperasi adalah meningkatkan kondisi social ekonomi anggotanya.

Latar Belakang Timbulnya Aliran Koperasi.

· Aliran Yardstick
– Dijumpai pada Negara – Negara yang berideologi kapitalis atau yang menganut perekonomian liberal.
– Koperasi dapat menjadi kekuatan untuk mengimbangi, menetralisasikan dan mengoreksi.
– Pemerintah tidak melakukan campur tangan terhadap jatuh bangunnya koperasi di tengah – tengah masyarakat . maju tidaknya koperasi terletak di tangan anggota koperasi sendiri.
– Pengaruh aliran ini sangat kuat, terutama dinegara-negara barat dimana industry berkembang dengan pesat seperti di AS, Perancis, Swedia, Denmark, Jerman, Belanda.
· Aliran Sosialis
– Koperasi dipandang sebagai alat yang paling efektif untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, disamping itu menyatukan rakyat lebih mudah melalui organisasi koperasi.
– Pengaruh aliran ini banyak dijumpai di Negara – Negara Eropa Timur dan Rusia.
· Aliran Persemakmuran (Commonwealth)
– Koperasi sebagai alat yang efisien dan efektif dalam meningkatkan kualitan ekonomi masyarakat.
– Koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat berkedudukan strategi dan memegang peranan utama dalam struktur perekonomian masyarakat.
– Hubungan pemerintah dengan gerakan koperasi bersifat “Kemitraan (Partnership)’’, dimana pemerintah bertanggung jawab dan berupaya agar iklim pertumbuhan koperasi tercipta dengan baik.

 

Sejarah Perkembangan Koperasi.

1. Sejarah Lahirnya Koperasi

· 1844 di Rochdale Inggris, lahirnya koperasi modern yang berkembang dewasa
ini.
· 1844 di Rochdale Inggris, lahirnya koperasi modern yang berkembang dewasa
ini.
· 1862 dibentuklah pusat koperasi pembelian “The Cooperative Whole Sale
(CWS) “
· 1818 – 1888 Koperasi berkembang di Jerman di pelopori oleh Ferdinand
Lasalle, Fredrich W.Raiffesen.
· 1808 – 1883 koperasi berkembang di Denmark dipelopori oleh Herman Schulze
· 1896 di London Terbentuklah ICA (Internasional Cooperative Alliance) maka
koperasi telah menjadi suatu gerakan internasional.

2. Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia

1895 di Leuwiliang didirikan pertama kali koperasi di Indonesia (Sukoro, “Seratus tahun koperasi di Indonesia “1920 diadakan Cooperative Commissie yang diketahui oleh Dr. JH. Boeke Adviseur Voor Volks – Credietwezen.

Tujuan Koperasi

Sesuai UU No. 25/1992 Pasal 3 adalah Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Sisa Hasil Usaha (SHU)

SHU Koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

Pola Manajemen Koperasi

Manajemen adalah suatu proses perencanaan , pengorganisasianpengarahan, dan pengawasan usaha – usaha para nggota organisasi dan pengguna sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi.
Keberhasilan koperasi ditentukan oleh factor : Contoh Teks Editorial
1. Partisipasi anggota
2. Propesionalisme manajemen
3. Faktor eksternal.
G. Jenis dan betuk koperasi
Jenis Koperasi menurut bidang usahannya :
· Koperasi Konsumsi
· Koperasi kredit atau koperasi simpan pinjam
· Koperasi Produksi
· Koperasi Jasa
· Koperasi Serba Usaha atau koperasi Unit Desa (KUD).
Jenis Koperasi menurut banyaknya usaha yang dilakukan :
· Koperasi Tunggal Usaha (Single Purpose)
· Koperasi Serba Usaha (Multi Purpose)

Karakteristik Penelitian Eksperimen

Karakteristik Penelitian Eksperimen

Karakteristik Penelitian Eksperimen

Karakteristik Penelitian Eksperimen
Karakteristik Penelitian Eksperimen

 

Pengertian Komparasi

Penelitian Komparasi adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui dan atau menguji perbedaan dua kelompok atau lebih. Penelitian komparasi juga adalah penelitian yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan menemukan hubungan sebab-akibatnya.
Metode komparasi adalah suatu metode yang digunakan untuk membandingkan data-data yang ditarik ke dalam konklusi baru. Komparasi sendiri dari bahasa inggris, yaitu compare, yang artinya membandingkan untuk menemukan persamaan dari kedua konsep atau lebih.
Dengan menggunakan metode komparasi ini peneliti bermaksud untuk menarik sebuah konklusi dengan cara membandingkan ide-ide, pendapat-pendapat dan pengertian agar mengatahui persamaan dari ide dan perbedaan dari standar pelayanan minimal Bus Trans Jogja dan Peraturan Menteri 29 tahun 2015.
Komparasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbandingan. Menurut Winarno Surakhmad dalam bukunya Pengantar Pengetahuan Ilmiah (1986 : 84), komparasi adalah penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisis tentang hubungan sebab akibat, yakni memilih faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan faktor lain.
Menurut Nazir (2005: 58) penelitian komparasi adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.
Studi komparasi adalah suatu suatu bentuk penelitian yang membandingkan antara variable-variabel yang saling berhubungan dengan mengemukakan perbedaan-perbedaan ataupun persamaan-persamaan dalam sebuah kebijakan dan lain-lain.

Macam-macam penelitian komparasi

1. Penelitian Non-hipotesis
Dalam penelitian non-hepotesis peneliti mengadakan komparasi fenomena dengan standarnya. Oleh karena itu, sebelum memulai penelitian kancah, harus ditetapkan dahulu standarnya. Tentu saja penentuan standar ini harus  dilakukan berdasarkan landasan yang kuat misalnya hukum, peraturan, hasil lokakarya, dan sebagainya. Selanjutnya standar ini dijadikan sejauh mana fenomena mencapai standar.
2. Penelitian Berhipotesis
Ditinjau dari analisis data, perbadaan antara penelitian non-hipotesis dengan penelitian berhipotesis terletak pada belum dan telah dirumuskannya kesimpulan sementara oleh peneliti.
Dalam peneliti non-hipotesis, peneliti belum mempunyai ancer-ancer jawaban. Penelitian mulai dengan melakukan penelitiannya, akhirnya sampai pada suatu kesimpulan yang didasarkan atas data yang diperoleh setelah melalui proses analisis. Sebenarnya langkah bagi penelitian hipotesis pun sama seperti langkah penelitian non-hipotesis, sampai dengan analisis datanya. Setelah diperoleh angka akhir dari analisis barulah peneliti menengok kembali kepada hipotesis yang telah dirumuskannya.

Ciri-ciri dan Langkah-langkah Penelitian Komparasi

1. Ciri-ciri Penelitian Komparasi
Penelitian komparatif bersifat data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai dependent variables) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan dan maknanya.

Langkah-langkah pokok Penelitian Komparasi

  • Definisikan masalah.
  • Lakukan penelaahan kepustakaan.
  • Rumuskan hipotesis-hipotesis.
  • Rumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan.
  • Rancang cara pendekatannya:
  1. Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan.
  2. Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
  3. Tentukan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.
  • Validasikan teknik untuk mengumpulkan data itu, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat.
  • Kumpulkan dan analisis data.
  • Susun laporannya.

Baca Juga : 

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN
PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

 

METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Menurut tujuannya, riset diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: (1) riset dasar (pure research atau basic research); dan (2) riset terapan (applied research), yang dibagi menjadi: (a) riset evaluasi (evaluation research); (b) riset pengembangan (research and development atau R & D); dan (c) riset aksi (penelitian tindakan).

RISET DASAR

Secara epistemologis, metodologi riset barkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Dalam riset dasar, dikenal dua kelompok paradigma yang dominan, yaitu: (1) paradigma positivistik (metode kuantitatif); dan (2) paradigma fenomenologis/interpretif (metode kualitatif).
Paradigma positivistik menggunakan proses riset yang konvensional-linier, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) fenomena-fenomena sosial/pendidikan diamati secara parsial, yaitu dengan cara mereduksi sejumlah variabel yang dianggap kurang penting dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang dimaksud; (2) berpandangan bahwa fenomena-fenomena kehidupan manusia di lingkungan sosialnya bersifat mekanistik dan berlaku universal; (3) proses riset menggunakan logika berpikir rasional dan deduktif; (4) menekankan pada uji hipotesis dan mengejar generalisasi; (5) fenomena-fenomena yang diamati sifatnya teratur/tidak random, sehingga dapat diprediksikan; (6) berpandangan bahwa teori bebas nilai dan menganut kebenaran tunggal (nomotetis); dan (7) memisahkan teori dan praktik.
Di lain pihak, paradigma fenomenologis (interpretif) dalam praktik pelaksanaan riset sering dianggap sebagai proses riset yang bersifat siklikal, berpandangan bahwa realitas (fenomena) tidak tunggal, tetapi bersifat jamak (plural). Tujuan utama riset fenomenologis adalah untuk memperoleh pemahanan terhadap makna (meaning), karena menurut pandangan fenomenologis fenomena (perilaku) yang sama akan mempunyai makna yang berbeda pada konteks kultural yang berbeda. Di dalam mengembangkan pemahaman makna terhadap fenomena tersebut, riset fenomenologi mendasarkan pada gambaran apa adanya menurut interpretasi subyek (folk model).
Paradigma positivistik, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kuantitatif merupakan pendekatan yang paling banyak dikenal dalam penelitian berbagai bidang ilmu, termasuk pendidikan, karena merupakan pendekatan yang paling tua.
Pendekatan ini diadopsi dari penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti Fisika dan Biologi, yang kemudian diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan. Pendekatan ini mendasarkan pada suatu asumsi nomotetis, yaitu bahwa sesuatu kebenaran itu tunggal dan akan berlaku di manapun tanpa terikat dengan konteks eko-kulturnya. Paradigma ini telah mewarnai berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan kita selama ini.
Paradigma fenomenologis, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kualitatif datang di Indonesia lebih belakangan dibanding paradigma positivistik, sehingga kehadirannya banyak menghadapi tantangan dari kubu positivistik. Paradigma ini berpandangan bahwa kebenaran itu tidak tunggal, tetapi dialektik, yang akan sangat tergantung pada konteks dan kultur masyarakat. Ciri lain dari penelitian ini adalah bahwa pengamatannya dilakukan pada skopa yang sempit tetapi mendalam.

RISET TERAPAN

Riset terapan, merupakan riset untuk menguji dan menerapkan teori untuk pemecahan permasalahan yang riil, mengembangkan dan menghasilkan produk, dan memperoleh informasi untuk dasar dalam pembuatan keputusan.
Penelitian terapan (applied research) dan penelitian dasar (pure research) mempunyai perbedaan dalam orientasi atau tujuan penelitian. Basic research bertujuan untuk menguji dan mengakumulasikan teori, sehingga menekankan standar keilmuan yang tinggi dan berusaha memperoleh hasil yang valid menurut ukuran metode ilmiah.
Sementara itu, penelitian terapan menekankan pada kemanfaatan secara praktis hasil penelitian untuk mengatasi masalah yang kongkrit, serta menemukan produk baru yang bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu, applied research juga dapat memberikan manfaat langsung untuk mengambil keputusan seperti keputusan untuk memulai sebuah program baru, menghentikan, memperbaiki atau mengganti program yang sedang berjalan.
1. Riset Pengembangan
Riset pengembangan atau Research and Development (R & D), bertujuan untuk mengembangkan, menguji kemanfaatan dan efektivitas produk (model) yang dikembang-kan, baik produk teknologi, material, organisasi, metode, alat-alat dan sebagainya.
Sebagai riset terapan, riset pengembangan bertujuan bukan untuk menghasilkan teori. Oleh karena itu, dalam penelitian pengembangan sangat dimungkinkan untuk menggunakan multi pendekatan dan multi metode.
2. Riset Aksi (Penelitian Tindakan)
Riset aksi (penelitian tindakan) mendasarkan pada paradigma teori kritis. Para penganut paradigma teori kritis berusaha untuk mempersatukan teori dan praksis.
Mereka pada umumnya memilih bidang garapan yang bersifat advokatif dan pemberdayaan (empowering). Di kalangan penganut teori kritis, teori deskriptif sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para penganut positivistik itu keliru, karena tidak memiliki dampak apapun terhadap usaha perbaikan praktik-praktik pendidikan ataupun peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

3. Riset Evaluasi

Riset evaluasi merupakan salah satu bentuk dari penelitian terapan (applied research). Oleh karena itu, dibandingkan dengan jenis penelitian terapan yang lain, riset evaluasi mempunyai kesamaan, baik dalam pemilihan pendekatan, metodologi, penentuan subyek, sampling maupun prosedur risetnya. Kegiatan riset (riset konvensional) dan riset evaluasi mempunyai tujuan yang berbeda. Riset konvensional bersifat conclusion oriented (berorientasi pada kesimpulan), sedangkan riset evaluasi mempunyai ciri decision oriented, yaitu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi/data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan/perumusan kebijakan.

PENELITIAN EKSPERIMEN

Metode penelitian eksperimen pada umumnya digunakan dalam penelitian yang bersifat laboratoris. Namun, bukan berarti bahwa pendekatan ini tidak dapat digunakan dalam penelitian sosial, termasuk penelitian pendidikan. Jadi, penelitian eksperimen yang mendasarkan pada paradigma positivistik pada awalnya memang banyak diterapkan pada penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti biologi dan Fisika, yang kemudian diadopsi untuk diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan.
Pada dasarnya, pada semua penelitian dengan menggunakan paradigma positivistik, akan menghadapi dua pertanyaan besar, yaitu: (1) apakah hasil penelitian ini benar atau dapat dipercaya?; dan (2) apakah kita dapat menggeneralisasikan hasil penelitian ini kepada sejumlah subyek yang kondisinya dianggap sama dengan subyek yang kita teliti ?
Permasalahan nomor (1) adalah berkaitan dengan validitas internal suatu hasil penelitian, sedangkan permasalahan yang berkaitan dengan pertanyaan nomor (2) menyangkut validitas eksternal suatu hasil penelitian. Penelitian eksperimen pada umumnya lebih menekankan pada pemenuhan validitas internal, yaitu dengan cara mengontrol/mengendalikan/mengeliminir pengaruh faktor-faktor di luar yang dieksperimenkan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Pengertian Metode dan Metodologi

Pengertian Metode dan Metodologi

Pengertian Metode dan Metodologi

Pengertian Metode dan Metodologi
Pengertian Metode dan Metodologi

 

Pengertian Metode dan Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian.
Sementara ini banyak orang mencampuradukkan pengertian antara metode penelitian dengan metodologi penelitian, sehingga masih sering dijumpai dalam salah satu bab dari hasil karya tulis atau penelitian berjudul metodologi penelitian, padahal isinya adalah metode penelitian. Dengan penjelasan tersebut, dapat dibedakan apakah yang akan ditulis metode penelitian atau metodologi penelitian pada setiap karya ilmiah yang dikerjakan.
Menurut pengertian orang ramai atau orang kebanyakan, kadang-kadang istilah metode penelitian dan metodologi penelitian tidak dibedakan secara berarti. Kemungkinan istilah tersebut dipertukarkan sesuka hati, serta penggunaannya sama sekali tidak diperhatikan. Pada suatu saat kemungkinan akan digunakan istilah metode penelitian, pada saat yang lain kemungkinan akan digunakan istilah metodologi penelitian untuk menjelaskan maksud atau kondisi yang sama.

Secara umum, pengertian metode penelitian (research method) adalah

Suatu metode atau cara tertentu yang dipilih secara spesifik untuk memecahkan masalah yang diajukan dalam sebuah penelitian. Sebenarnya banyak cara atau metode yang dilakukan untuk melakukan sebuah penelitian, namun untuk memenuhi syarat parsimony (cara yang paling efisien dalam sebuah penelitian) untuk mengatasi kendala-kendala yang dilakukan peneliti namun masih tetap dijaga ciri khas penelitian yaitu adanya karakter keilmiahan, serta validitas dan reliabilitas, maka metode penelitian tertentu harus dipilih dan diterapkan secara spesifik. Cara atau metode dapat menjelaskan bagaimana penelitian itu dilakukan, bagaimana data itu diperoleh, dengan metode statistik khusus apa data dianalisis, bagaimana menguji suatu hipotesis penelitian, dan kalau menggunakan metode elektik (metode gabungan terbaik dari beberapa metode penelitian), maka bagaimana penelitian secara spesifik dilakukan.

Metodologi Penelitian berasal dari kata “metode”

yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, dan “logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian metodologi penelitian (research methods) adalah ilmu yang menerangkan bagaimana sebaiknya dan seharusnya penelitian itu dilaksanakan. Jadi, metode penelitian akan datang kemudian setelah seorang peneliti memahami secara benar-benar ilmu meneliti itu sendiri (metodologi penelitian), yaitu bagaimana sebuah penelitian harus dilakukan agar memenuhi kaidah-kaidah keilmiahan (scientifical reasoning).

Dalam berbagai buku tentang penelitian dijumpai berbagai definisi

atau batasan akan istilah-istilah metode penelitian (research method) dan metodologi penelitian (research methodology). Untuk lebih memperkaya khasanah pengetahuan tentang definisi atau batasan serta persamaan atau perbedaan istilah metode penelitian dan metodologi penelitian, beberapa sumber menjelaskannya sebagai berikut :
Metode Penelitian menurut Subagyo (1997 : 2) adalah “suatu cara atau jalan untuk mendapatkan kembali pemecahan terhadap segala permasalahan yang diajukan. Di dalam penelitian diperlukan adanya beberapa teori untuk membantu memilih salah satu metode yang relevan terhadap permasalahan yang diajukan, mengingat bahwa tidak setiap permasalahan yang diteliti tentu saja berkaitan dengan kemampuan si peneliti, biaya dan lokasi. Pertimbangan tersebut mutlak diperlukan, dan penelitian tidak dapat diselesaikan dengan sembarang metode penelitia”.
Sedangkan menurut Sugiyono (1999 : 1) Metode Penelitian adalah “cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional artinya bahwa penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk di akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris artinya bahwa cara-cara yang yang dilakukan itu dapat diamati oleh indra manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan (Bandingkan : hal-hal yang dilakukan paranormal). Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logi”.

Pengertian metodologi penelitian menurut Hidayat dan Sedarmayanti (2002 : 25) adalah

Pembahasan mengenai konsep teoritik berbagai metode, kelebihan dan kekurangan, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Pengetian metodologi adalah “pengkajian terhadap langkah-langkah dalam menggunakan sebuah metode”. Sedangkan pengertian metode penelitian adalah mengemukakan secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitiannya. Metodologi adalah metode ilmiah yaitu langkah-langkah yang sistematis untuk memperoleh ilmu, sedangkan metode adalah prosedur atau cara mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah sistematis tersebut.

Langkah-langkah sistematis yang dimaksud adalah :

  • Mengidentifikasi dan merumuskan masalah.
  • Menyusun kerangka berfikir.
  • Merumuskan hipotesis.
  • Melakukan pembahasan.
  • Membuat kesimpulan dan saran.
Sedangkan metodologi penelitian yang didefinisikan Teguh (1999 : 9) adalah “ilmu atau studi yang berhubungan dengan penelitian, sedangkan penelitian (research) menunjukkan kegiatan pelaksanaan dari metodologi penelitian. Pelajaran yang memperbincangkan metode-metode ilmiah untuk research tersebut disebut Metodologi Penelitian. Penelitian merupakan penyaluran hasrat ingin tahu (curiousity) manusia dalam taraf keilmuan”.
Selanjutnaya metodologi penelitian menurut Hillway (1956 : 5) adalah “a method of study by which, through the careful and exchausative of all ascertainable evidance bearing upon a definable problem, we reach a solution to the problem”.
Metodologi Penelitian adalah ilmu tentang metode, dan bilamana dirangkai menjadi Metodologi Penelitian, maknanya adalah ilmu tentang metode yang dapat dipergunakan dalam melakukan kegiatan penelitian. Metodologi Penelitian juga dapat diartikan sebagai ilmu untuk mengungkapkan dan menerangkan gejala-gejala alam dan gejala-gejala sosial dalam kehidupan manusia, dengan mempergunakan prosedur kerja yang sistematis, terartur, tertib dan dapat dipergunakan secara ilmiah (Nawawi, 1994 : 8).
Pendapat Soehardjo (2003 : 32) metodologi adalah bagian dari estimologi (sub-field of estimology), disebut sebagai ilmu untuk menemukan (the science to find out). Sedangkan metode adalah cara untuk menemukan atau cara berbuat.

Anggota DPR Cari Solusi Persoalan Pasar Cihargeulis

Anggota DPR Cari Solusi Persoalan Pasar Cihargeulis

Anggota DPR Cari Solusi Persoalan Pasar Cihargeulis

 

Anggota DPR Cari Solusi Persoalan Pasar Cihargeulis
Anggota DPR Cari Solusi Persoalan Pasar Cihargeulis

 

BANDUNG- Pendapatan menurun yang dialami oleh pedagang Pasar Cihaurgeulis,

Kota Bandung, adalah karena banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang menutup pintu masuk ke pasar. Selain itu fisik bangunan yang juga sudah tidak memadai menjadi sebab kurangnya minat orang berbelanja.

Demikian pantauan langsung Ledia Hanifa, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI asal daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat I (Kota Bandung-Kota Cimahi), saat melakukan reses ke Pasar Cihargeulis, Sabtu (7/11).

Kunjungan reses yang singkat di bulan November ini

untuk menyerap aspirasi dari konstituennya, yaitu pedagang Pasar Cihaurgeulis. Untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada, Politisi PKS ini tak lupa ini mengikutsertakan pihak PD Pasar Kota Bermartabat, DPC PKS

Ledia menjelaskan dengan banyaknya PKL yang menutup pintu masuk ke pasar, membuat pedagang di kios resmi mengalami penurunan pendapat secara signifikan. Padahal, pedagang kios resmi yang turun pendapatannya tersebut, rutin membayar iuran ke Pemkot Bandung. Sebaliknya, yang tidak resmi, penghasilannya tetap bahkan bertambah. “Pengelola pasar harus kelola ini dengan bijak,” tegas Wakil Ketua Komisi VIII yang menangani persoalan sosial ini.

Ledia juga menyoroti bangunan fisik Pasar Cihargeulis yang sudah tidak aman untuk ditempati. “Bangunan pasar di lantai 2 ini tidak aman untuk pedagang. Lantai atas kosong, tak menghasilkan pedapatan bagi pedagangnya,” jelas Ledia.

Selain itu, Ledia juga mencarikan solusi atas permasalahan sampah

agar diintegrasikan dengan program pengolahan sampah. “Sampah yang berton-ton menumpuk ini bisa dikelola menjadi kompos atau biogas yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Ledia.

Ledia berharap dengan adanya pengelolaan yang tepat dan bijak dari PD Pasar Bermartabat Kota Bandung selalu perusahaan daerah, dapat menguntungkan pedagang kecil di Pasar Cihargeulis Kota Bandung.

“Pengelolaan yang tepat selain meningkatkan pendapatan perusahaan, juga memeratakan pendapatan pedagang,” harap alumnus Master Psikologi Terapan dari Universitas Indonesia ini dalam siaran persnya yang disampaikan kepada jabarprov.go.id, Minggu (8/11). (enal)

 

Baca Juga :