Tikus yang Kelaparan

Tikus yang Kelaparan
Seekor tikus sedang mengalami hari-hari yang buruk. Ia tidak bisa menemukan makanan sama sekali. Setelah mencarinya kesana kemari tetap saja tidak ada makanan, dan ia pun menjadi sangat kurus.

Akhirnya, dia menemukan sebuah keranjang yang penuh dengan jagung. Di dalam keranjang itu ada lubang kecil, tikus itu pun merayap masuk dan berhasil.

Lalu ia mulai memakan jagung tersebut. Karena sangat lapar, ia mulai makan dengan rakus. Ia pun menjadi sangat gemuk dan kesulitan untuk naik keluar dari keranjang itu.

Tikus itu kemudian bertanya kepada tikus lainnya, “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?”

Tikus lain pun menjawab, “Jika kamu ingin memanjat keluar dari keranjang, kamu harus menunggu sampai badanmu kurus lagi.”

Anak kecil itu kaya busa, gampang banget menyerap segala sesuatu yang ia dengar. Nah, daripada mendengar hal-hal yang buruk, mending kamu ceritain aja sebuah cerita dongeng anak lucu.

Kaya kisah si tikus yang kelaparan ini. Dari kisah ini, kamu bisa mengajarinya untuk menjadi orang yang selalu bersyukur, bukan jadi orang yang serakah.

Baca Juga :

Contoh Cerpen Anak Sekolah Rajin Belajar

Contoh Cerpen Anak Sekolah
Rajin Belajar

Hari Senin yang cerah. Setelah anak-anak upacara bendera, mereka menuju kelasnya masing masing untuk mendapat mata pelajaran dari guru. Hari ini ada mata pelajaran matematika, Bahasa indonesia, Bahasa Jawa, dan PPKN.

Mata pelajaran pertama adalah matematika. Ibu guru menyuruh untuk mengerjakan halaman 5 sampai 6. Suasana kelas nampak hening ketika para siswa sedang mengerjakan soal. Kemudian setelah selesai, bu guru berpesan untuk mempelajari materi perkalian dan pembagian dengan soal cerita karena sewaktu-waktu bisa diadakan tes dadakan.

Setelah selesai mendapat pelajaran di sekolah, para siswa pulang. Tika, Dwi, dan Rima pulang bersama jalan kaki karena jarak rumah mereka yang tak jauh dari sekolahan.

“Habis makan siang nanti kita bermain yuk. Di rumahku ada boneka baru yang dibelikan ibuku dari Bandung.” Pinta Rima pada kedua sahabatnya.

“Asyik.” Ucap Dwi dengan penuh kegembiraan.

“Gimana, Tik, kamu bisa ikut tidak?”

“Aku tidak ikut saja. Mau belajar di rumah karena tadi kan ibu guru berpesan untuk belajar karena siap-siap jika ada tes dadakan.” Sanjang Tika dengan polosnya.

Sesampai di rumah masing-masing, Tika langsung ganti baju, makan siang, solat, kemudian istirahat siang sehingga malamnya dia bisa belajar dengan tenang dan konsentrasi. Sesekali dia bertanya kepada kakaknya jika kurang paham dengan materi di buku.

Sedangkan Dwi dan Rima bermain boneka sampai larut sehingga tidak sempat mempelajari materi. Keesokan harinnya mereka berangkat bersama dan sesampai di kelas ternyata memang ada tes dadakan. Dwi dan Rima merasa kesulitan dalam mengerjakan soal dan akhirnya nilainya jelek sehingga harus mengulang tes susulan.

Lain halnya dengan Tika. Dia mendapat nilai terbaik di kelas karena dia sudah belajar dengan rajin sesuai nasehat gurunya. Ibu guru meminta agar Dwi dan Rima belajar dengan temannya, Tika.

“Wah, Tik, selamat ya, nilaimu 10. Besok kita ikut belajar denganmu ya.” ucap Rima pada Tika.

Baca Juga :

Hak eksklusif

Hak eksklusif

Hak eksklusif
Hak eksklusif

Beberapa hak eksklusif yang umumnya diberikan kepada pemegang hak cipta adalah hak untuk :

  • Membuat salinan atau reproduksi ciptaan dan menjual hasil salinan tersebut (termasuk, pada umumnya, salinan elektronik),
  • Mengimpor dan mengekspor ciptaan,
  • Menciptakan karya turunan atau derivatif atas ciptaan (mengadaptasi ciptaan),
  • Menampilkan atau memamerkan ciptaan di depan umum,
  • Menjual atau mengalihkan hak eksklusif tersebut kepada orang atau pihak lain.

Yang dimaksud dengan “hak eksklusif” dalam hal ini adalah bahwa hanya pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak cipta.

Di Indonesia, hak eksklusif pemegang hak cipta termasuk “kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apapun”.

Selain itu, dalam hukum yang berlaku di Indonesia diatur pula “hak terkait”, yang berkaitan dengan hak cipta dan juga merupakan hak eksklusif, yang dimiliki oleh pelaku karya seni (yaitu pemusik, aktor, penari, dan sebagainya), produser rekaman suara, dan lembaga penyiaran untuk mengatur pemanfaatan hasil dokumentasi kegiatan seni yang dilakukan, direkam, atau disiarkan oleh mereka masing-masing (UU 19/2002 pasal 1 butir 9–12 dan bab VII). Sebagai contoh, seorang penyanyi berhak melarang pihak lain memperbanyak rekaman suara nyanyiannya.

Hak-hak eksklusif yang tercakup dalam hak cipta tersebut dapat dialihkan, misalnya dengan pewarisan atau perjanjian tertulis (UU 19/2002 pasal 3 dan 4). Pemilik hak cipta dapat pula mengizinkan pihak lain melakukan hak eksklusifnya tersebut dengan lisensi, dengan persyaratan tertentu (UU 19/2002 bab V).

Mengenal Tugu Khatulistiwa _ Titik Nol Equator Di Pontianak

Mengenal Tugu Khatulistiwa _ Titik Nol Equator Di Pontianak

Mengenal Tugu Khatulistiwa _ Titik Nol Equator Di Pontianak

 

 

Mengenal Tugu Khatulistiwa _ Titik Nol Equator Di Pontianak
Mengenal Tugu Khatulistiwa _ Titik Nol Equator Di Pontianak

Tugu Khatulistiwa merupakan tugu yang digunakan sebagai titik/tonggak garis equator di Kota Pontianak, Kalimantan Barat

Kronologis Pembangunan Tugu Khatulistiwa

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941, dari V. en. V oleh Opsiter Weise dikutip dari BIDJRAGENTOT DE GEOGRAPHE dari Chep Van den Topographeschen dien di Nederlandisch Indie : Den 31 Sten Maart 1928 telah datang d Pontianak, satu ekspedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis Equatordi Kota Pontianak, dengan konstruksi sebagai berikut:

Tugu Khatulistiwa pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan tanda panah.

Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah.
Tahun 1938 Tugu asli dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh Opsiter/ arsitek SILABAN dengan ukuran sebagai berikut: Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak belian, berdiameter masing-masing 0,30m, dengan tonggak bagian depan ( 2 buah tonggak ) setinggi 3,05 dari permukaan tanah dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah petunjuk arah setinggi 4,40m.
Tahun 1990, Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah dan duplikat Tugu Khatulistiwa diatasnya dengan ukuran 5x lebih besar dari Tugu aslinya.
Peresmian duplikat Tugu Khatulistiwa dan kubah pada tanggal 21 September 1991 oleh PARDJOKO SURYOKUSUMO Gubernur

Kalimantan Barat.

Konstruksi dan Bangunan Tugu Khatulistiwa yang asli dapat dilihat dalam ruangan dalam kubah.

Titik Kulminasi Matahari

Pada tengah hari yaitu setiap tahunnya tanggal 21-23 Maret dan tanggal 23 September benda-benda tegak yang berada di sekitar Tugu Khatulistiwa tidak memiliki bayangan. Peristiwa tersebut disebut Kulminasi Matahari, dimana matahari tepat berada tegak lurus diatas Khatuliswa.

Peristiwa kulminasi ini hanya terjadi di lima negara, antara lain di Indonesia, Equador, Peru, Columbia, dan Brazil. Namun dari semua negara yang mengalami peristiwa alam tersebut, hanya satu yang benar-benar dilintasi oleh garis khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak, Indonesia.

 

Baca Juga :