Faktor Internal

 Faktor Internal

Faktor internal yang memengaruhi kondisi likuiditas bank syariah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  1. Manajemen Rrsiko Likuiditas

Risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (event) yang dapat menimbulkan kerugian. Manajemen risiko adalah[3] serangkaian prosedur dan teknologi yang digunakan untuk mengidentifikasi,mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank. Risiko likuiditas adalah risiko terjadinya kerugian yang merupakan akibat dari adanya kesenjangan antara sumber pendanaan yang pada umumnya berjangaka pendek dan aktiva yang pada umumnya berjangka panjang. Besar kecilnya risiko likuiditas ditentukan antara lain:

  1. Kecermatan dalam perencanaan arus kas atau arus dana berasarkan prediksi pembiyaan dan pertumbuhan dana termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana.
  2. Ketepatan dalam mengatur struktur dana termasuk kecukupan dana-dana non Profit Loss Sharing (PLS).
  3. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort. Apabila kesenjangan tersebut cukup besar maka akan menurunkan kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya terjadinya risiko likuiditas, yang mana pengelolaan likuiditas bank juga merupakan bagian dari pengelolaan liabilitas.

Dalam mengantisipasi trjadinya risiko likuiditas, aktivitas manajemen risiko yang pada umumnya ditetapkan oleh bank antara lain adalah:

  1. Melaksanakan monitoring secara harian atas besarnya penarikan dana yang dilakukan oleh nasabah baik berua penarikan melalui kliring maupun penarikan tunai.
  2. Meleaksanakan monitoring secara harian atas semua dana masuk baik melalui incoming transfer maupun setoran tunai nasabah.
  3. Membuat analisis penarikan dana bersih terbesar yang oernah terjadi dan membndingkannya dengan penarikan dana bersih rata-rata ssaat ini. Dari analisi tersebut dapat diketahui tingkat ketahanan likuiditass bank.
  4. Selanjutnya bank menetapkan secondary reserve untuk menjaga posisi likuiditas bank, antara lain menetapkan kelebihan dana dalam intrumen keuangan yang likuid.
  5. Menetapkan kebijakan cash holding limit pada kantor-kantor cabang bank.
  6. Melaksanakan fungsi ALCO (asset-liability committee) untuk mengatur tingkat return dan likuiditas bank.
  7. Mengatur struktur portofolio dana.
  8. Mengadakan perjanjian credit line dengan lembaga keuangan lain.

Ø  Pengelolaan Likuiditas

Pengelolaan likuiditas bak dimaksudkan untuk memenuhi tujuan dan terbentuknya likuiditas yang sehat, dengan kondisi sebagai berikut:

  1. Tujuan manajemen likuiditas adalah untuk:
  2. Menjalankan transaksi bisnisnya sehari-hari.
  3. Memenuhi kebutuhan dana mendesak.
  4. Memuaskan permintaan nasabah akan pembiyaan.
  5. Memberikan fleksibelitas dalam meraih kesempatan investasi menarik yang menguntungkan.
  6. Menjaga posisi likuiditas bank agar mampu memenuhi ratio yang ditentukan bank sentral.
  7. Meminimalkan idle fund (dana mengendap).

https://kabarna.id/endless-apk/