Kebiasaan Belajar

  1. Kebiasaan Belajar

Berbagai hasil penelitian menunjukan, bahwa hasil belajar mempunyai hasil kolerasi positif dengan kebiasaan belajar atau studty habit. Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis. Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali mereka melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena kebiasaan mengandung motivasi yang kuat. Pada umumnya setiap orang bertindak berdasarkan force of habit sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan.

  1. Konsep Diri

Konsep diri adalah pandangan seseorang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi pikiran dan perasaannya,

serta bagaimana perasaan tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Konsep diri seseorang mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia diterima dan diinginkan kehadirannya oleh keluarganya.

Konsep diri ini menurut Erikson[11] berkembang melalui lima tahap, yaitu :

  • Perkembangan dari sesnse of trust vs sense of mistrust, yaitu pada anak usia 1-2 tahun.
  • Perkembangan dari sense of anatomy vs shame and doubt, terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Pada masa ini memungkinkan anak untuk mandiri.
  • Perkembangan dari sense of initiative vs sense of guilt, pada anak yang berusia 4-7 tahun.
  • Perkembangan dari sense of industry vs inferiority, pada usia 7-11 tahun.
  • Perkembangan dari sense of identity diffusion, pada remaja biasanya sangat besar minatnya terhadat diri sendiri.

Lebih lanjut dikatakan, konsep diri terbentuk karena empat faktor, yaitu:

  • Kemampuan (kompetence).
  • Perasaan mempunyai arti bagi orang lain (significance to others).
  • Kebijakan (virtues).
  • Kekuatan (power).

Selain faktor-faktor di atas, masih ada faktor lain yang menjadi pengaruh kesiapan belajar seseorang, yaitu[12] :

  1. Faktor Internal