Kehidupan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

Kehidupan Masyarakat Indonesia Masa Praaksara

MASYARAKAT INDONESIA MASA PRAAKSARA
Praaksara atau prasejarah merupakan kurun waktu (zaman) terhadap waktu manusia belum mengenal postingan atau huruf. Praaksara disebut terhitung zaman nirleka, yaitu zaman tidak ada tulisan. Setelah manusia mengenal postingan maka disebut zaman sejarah. Berakhirnya zaman prasejarah tiap tiap bangsa berbeda-beda berdasarkan perkembangan tiap tiap bangsa tersebut serta Info yang masuk ke bangsa itu.

Pada awal kehidupannya manusia belum mengenal terdapatnya tulisan. Mereka diperkirakan cuma memakai bhs lisan maupun bhs isyarat sebagai sarana komunikasi didalam kehidupan sehari-hari. Maka tidak ada peninggalan terhadap masa ini yang berwujud tertulis. Untuk menuliskan lagi kehidupan masyarakat prasejarah yang tidak meninggalkan peninggalan yang tertera maka dibutuhkan benda-benda peninggalan masyarakat prasejarah sebagai pendukungnya. Benda-benda prasejarah ada yang berwujud alat-alat dari batu, kayu, tulang, besi, perunggu, tanah dan fosil.
Suatu masyarakat mengupayakan untuk mewariskan kebudayaannya untuk keturunan selanjutnya. Pada masyarakat praaksara pewarisan tersebut dilaksanakan secara lisan. Tradisi ini terlalu terkait bersama dengan tradisi istiadat dan normalitas suatu masyarakat.
Tradisi lisan adalah kesaksian lisan yang disampaikan secara Verbal dari satu generasi ke generasi berikutnya. menurut Jan Vasina makna normalitas lisan disebut Oral Tradition. Ciri-ciri normalitas lisan ialah

Pesan-pesan disampaikan secara lisan (ucapan, nyanyian maupun musik).
Tradisi lisan berasal dari generasi sebelumnya.

Pada masyarakat praaksara yang belum mengenal tulisan, pewarisan masa selanjutnya dilaksanakan bersama dengan cara lisan. Dengan target agar generasi penerus jelas kejadian-kejadian mutlak di masa selanjutnya yang udah dialami oleh leluhurnya. Berikut beberapa cara masyarakat praaksara mewariskan kebudayaannya

a. Melalui keluarga
Lingkungan sosial yang pertama yang dikenal individu sejak lahir adalah Keluarga. Ayah, Ibu dan bagian keluarga lainnya merupakan lingkungan sosial yang secara langsung terjalin bersama dengan individu. Sosialisasi yang dialami individu secara intensif berjalan didalam keluarga. Pengenalan nilai, norma, dan normalitas untuk pertama kali di tererima dari keluarga. Pengaruh sosialisasi yang berasal dari keluarga terlalu besar pengaruhnya bagi pembentukkan dan perkembangan kepribadian individu. Cara sosialisasi didalam keluarga terhadap masyarakat praaksara ialah
1. Adat istiadat
Adat istiadat merupakan normalitas yang dilaksanakan didalam suatu kelompok. Setiap keluarga memiliki tradisi istiadat atau kebiasaan. Tradisi dan tradisi normalitas tersebut diwariskan kepada anak lewat sosialisasi.
2. Cerita dongeng
Cerita dongeng terhitung salah satu cara untuk mewariskan masa lalu. Pada cerita dongeng disisipkan pesan-pesan tentang sesuatu yang dipandang baik untuk dilaksanakan dan yang tidak boleh dilakukan.
Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak terlalu terjadi, diceritakan karena memuat petuah, kebaikan mengalahkan kejahatan, ajaran moral, dan petuah bijak lainnya. Ada dongeng binatang (fabel) di Bali yang tenar bersama dengan nama tokoh Tantri dan di Jawa ada tokoh Si Kancil. Dongeng manusia contohnya Jaka Tarub yang mencuri baju bidadari berasal dari Jawa Timur, dongeng Pasir Kumang dari Jawa Barat, dongeng Raja Pala dari Bali, dongeng Meraksamana dari Papua, dongeng Ande-Ande Lumut dan Brambang Bawang dari Jawa Tengah, dan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dari Jakarta. Dongeng lucu, contohnya, Si Kabayan dari Jawa Barat, Gasin Meuseukin dari Aceh, dan Singa Rewa dari Kalimantan Tengah.

b. Melalui masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan budaya, wilayah, identitas dan berinteraksi didalam suatu jalinan social yang terstruktur. Hal ini disebabkan karena tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa orang lain. Masing-masing masyarakat memiliki adat-istiadat yang tidak serupa satu mirip lain.
1. Adat istiadat
Setiap masyarakat memiliki tradisi istiadat yang tidak serupa satu mirip lain. Adat istiadat dapat jadi sarana untuk mewariskan masa selanjutnya kepada generasi penerus. Masa selanjutnya yang diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya terkadang tidak mirip sama bersama dengan yang berjalan terhadap masa lalu, tetapi mengalami perubahan cocok bersama dengan perkembangan zaman.
2. Pertunjukan Hiburan
Sarjana purbakala Dr.J.L Brandes ( Jan Laurens Andries Brandes ) menyatakan bahwa menjelang masuknya dampak Hindu-Budha atau menjelang kehidupan masyarakat Indonesia mengenal tulisan, udah memiliki 10 unsur pokok kebudayaan asli Indonesia, yaitu :

1)Bercocok tanam padi. Sistem persawahan merasa dikenal bangsa Indonesia sejak zaman Neolitikum, yaitu manusia hidup menetap. Mereka terdorong untuk mengupayakan sesuatu yang membuahkan (food producing). Sistem persawahan dimulai dari sistem ladang simple yang belum banyak memakai teknologi, kemudian meningkat bersama dengan terdapatnya teknologi pengairan sampai lahirlah sistem persawahan.

2)Mengenal komitmen dasar permainan wayang, bersama dengan maksud untuk mendatangkan roh nenek moyang.
Kesenian wayang pada mulanya berpangkal terhadap pemujaan roh nenek moyang. Semula wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang terhadap malam hari. Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan agar muncul bayangan boneka seolah-olah hidup. Jika dalang kemasukan roh nenek moyang, sang dalang akan menyuarakan suara nenek moyang yang memuat nasihat-nasihat kepada anak cucu mereka. Setelah kedatangan hinduisme ke nusantara maka kisah nenek moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata. Bonekanya kemudian diganti bersama dengan wujud tokoh didalam cerita Mahabharata. Fungsinya pun beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya menyaksikan dari depan tirai.

3)Mengenal seni gamelan yang terbuat dari perunggu.
Seni gamelan ada kaitannya bersama dengan seni wayang. Seni gamelan ini dipakai untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu musim bercocok tanam udah usai masyarakat kuno itu sebabkan alat musik gamelan, mengembangkan seni membatik, dan mengadakan pertunjukan wayang semalam jenuh untuk dapat dicermati oleh masyarakat di sekitarnya.

4)Pandai membatik (tulisan hias)
Seni membatik merupakan kerajinan sebabkan gambar terhadap kain. Cara menggambarnya mempergunakan alat canting yang diisi bahan cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang udah dipanaskan, selanjutnya diekspresikan terhadap kain cocok motifnya.

5)Pola susunan masyarakat macapat
Sistem mocopat adalah suatu kepercayaan yang didasarkan terhadap pembagian empat penjuru arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Sistem mocopat dikaitkan bersama dengan pendirian bangunan, pusat kota atau pemerintah (istana), alun-alun, daerah pemujaan, pasar, dan penjara. Peletakan bangunan tersebut dibuat skema bersudut empat di mana tiap tiap sudut membawa kemampuan dan kemampuan secara magis. Itulah sebabnya mengapa tiap tiap desa terhadap zaman kuno selalu diberi sesaji terhadap waktu-waktu tertentu, bahkan hari pasaran menurut perhitungannya terhitung dikaitkan bersama dengan sistem mocopat, yaitu 1) arah barat di letakkan pon jatuh hari Senin dan Selasa, 2) arah timur di letakkan legi jatuh hari Jumat, 3) arah selatan di letakkan pahing jatuh hari Sabtu dan Minggu, 4) arah utara di letakkan wage jatuh hari Rabu dan Kamis, dan 5) arah tengah di letakkan kliwon jatuh hari Jumat dan Sabtu. Jadi pola susunan masyarakat mocopat merupakan suatu kepercayaan didalam menata dan memasang suatu bangunan yang bersudut empat, bersama dengan susunan ibu kota pusat pemerintahan terdapat alun-alun di sekitar istana, serta ada bangunan daerah pemujaan, pasar, dan penjara.

6)Telah mengenal alat ganti didalam perdagangan
Sistem ekonomi bersama dengan mengenal perdagangan, Kebutuhan hidup manusia selalu menuntut untuk dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat kuno saling bertukar barang (barter) dari satu lokasi ke lokasi lain.

7)Membuat barang-barang dari logam, terutama perunggu

8)Memiliki kemampuan yang tinggi didalam pelayaran.
Kemampuan berlayar dan berdagang bersama dengan memakai angin musim, bahkan mereka udah berani mengarungi laut luas. Nenek moyang bangsa Indonesia berkunjung dari Yunan sebelum saat Masehi. Mereka udah pintar mengarungi laut dan mesti memakai perahu untuk sampai di Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara, mengingat keadaan geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan memakai perahu untuk capai kepulauan lainnya. Salah satu ciri perahu yang dipergunakan nenek moyang kami adalah perahu cadik, yaitu perahu yang memakai alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri perahu. Pembuatan perahu kebanyakan dilaksanakan secara gotong royong oleh kaum laki-laki. Setelah masa per- undagian, kegiatan pelayaran terhitung jadi meningkat. Perahu bercadik yang merupakan alat angkut tertua selalu dikembangkan sebagai alat transportasi serta perdagangan. Bukti terdapatnya kemampuan dan kemajuan berlayar tersebut terpahat terhadap relief candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8. Relief tersebut melukiskan tiga tipe perahu, yaitu 1) perahu besar yang bercadik, 2) perahu besar yang tidak bercadik, dan 3) perahu lesung

9)Mengenal ilmu astronomi
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) udah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia udah mengenal ilmu ilmu dan memakai teknologi angin musim sebagai tenaga penggerak didalam kegiatan pelayaran dan perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali musim, ilmu astronomi terhitung udah dimanfaatkan sebagai saran arah didalam pelayaran, yaitu Bintang Biduk Selatan dan Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menyatakan arah utara. Kemampuan astronomi dan angin musim ini udah mengantarkan mereka berlayar ke barat sampai di Pulau Madagaskar, ke timur sampai di Pulau Paskah, dan ke selatan sampai di Selandia Baru serta ke arah utara sampai di Kepulauan Jepang. Pengetahuan astronomi terhitung digunakan didalam pertanian bersama dengan memakai Bintang Waluku sebagai tandanya awal musim hujan.

10)Susunan masyarakat yang teratur
Nenek moyang kami hidup berkelompok. Mereka bersepakat untuk hidup secara bersama, hidup gotong royong, dan demokratis. Mereka menentukan seorang pemimpin yang diakui dapat memelihara masyarakat dari berbagai masalah terhitung masalah roh agar seorang pemimpin diakui memiliki kesaktian lebih. Cara pemilihan pemimpin yang demikianlah disebut primus inter pares, yaitu yang terutama di pada yang banyak. Jadi, seorang pemimpin adalah yang paling baik bagi mereka bersama.

3. Kepercayaan masyarakat
Sistem kepercayaan didalam masyarakat Indonesia diperkirakan merasa tumbuh terhadap masa berburu dan mengumpulkan makanan. Hal ini dibuktikan bersama dengan penemuan lukisan-lukisan terhadap dinding-dinding goa di Sulawesi Selatan. Lukisan itu berwujud cap tangan merah bersama dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan sebagai sumber kemampuan atau symbol jari tidak lengkap yang merupakan isyarat berkabung dan penghormatan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang ini terus berkembang terhadap masa bercocok tanam sampai masa perundagian. Hal ini nampak dari jadi kompleksnya wujud upacara-upacara penghormatan, sesaji, dan penguburan.

Selain penghormatan terhadap roh nenek moyang, ada terhitung kepercayaan terhadap kemampuan alam. Adanya kepercayaan semacam ini pada lain terungkap bersama dengan terdapatnya bangunan megalithikum yang diakui memiliki kekuatan, andaikan sarkofagus. Corak kepercayaan layaknya ini dinamakan dinamisme. Corak kepercayaan ini sebabkan terdapatnya kepercayaan yang bercorak animisme, yang diakui unsur-unsur utama alam menyerupai roh.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :