METABOLISME ALKOHOL DI HATI

METABOLISME ALKOHOL DI HATI

Dalam hati, terdapat tiga jalur metabolik utama; semuanya menghasilkan asetaldehida.

  • Jalur (1) yang dominan, melibatkan enzim alkohol dehidrogenase (ADH) yang mengandung zink, yang ditemukan dalam sitoplasma hati. Ini merupakan tahap utama pembatas laju (rate-limiting step) metabolisme. Akumulasi asetaldehida
  • Sistem pengoksidasi-etanol mikrosomal (microsomal ethanol-oxidising system, MEOS) (2) normalnya memetabolisme sampai dengan 20 % dari alkohol yang diingesti; enzim ini menjadi lebih aktif pada pecandu alkohol kronik. Alkohol menstimulasi perkembangan membran mikrosomal, tempat terinduksinya sitokrom P450 (suatu faktor yang memerlukan vitamin C).
  • Jalur ketiga (yang relatif tidak penting) melibatkan enzim katalase yang terdapat dalam banyak sel tubuh (3).

METABOLISME ALKOHOL

Laju metabolisme alkohol sangat bervariasi dan terkait dengan ukuran tubuh. Pada pria muda yang sehat, laju metabolisme alkohol adalah 9-10 g (yaitu 1 unit) per jam. Wanita mengalami kenaikan kadar alkohol darah yang lebih tinggi, karena wanita memiliki lebih banyak lemak, lebih sedikit air, dan umumnya memiliki berat badan yang lebih rendah, sehingga kadar alkohol menjadi lebih tinggi.

Metabolisme alkohol juga dipengaruhi oleh:

  • Faktor genetik;
  • Massa tubuh tanpa lemak;
  • Makanan lain dalam diet;
  • Riwayat asupan alkohol di masa lampau (laju metabolisme alkohol lebih tinggi pada pecandu alkohol kronik).

ALKOHOL DAN KESEIMBANGAN ENERGI

Alkohol menghasilkan 29 kJ (7 kkal) per gram. Jika alkohol diminum pada kondisi asupan makanan normal, kelebihan energi dapat menaikkan berat badan. Hal ini tidak selalu terjadi; alkohol yang dimetabolisme melalu sistem MEOS menghasilkan sedikit ATP; lebih tepatnya, proses oksidasi ini menghasilkan panas, yang dibuang dan tidak disimpan.

Dampak penyalahgunaan alkohol terhadap asupan zat gizi

  • Metabolisme lemak dalam hati menjadi abnormal. Sejumlah besar NADH dan NADPH yang dihasilkan oleh metabolisme menstimulasi sintesis lemak, yang menyebabkan tingginya kadar VLDL yang bersirkulasi pada peminum berat, ukuran hati membesar karena akumulasi kelebihan lemak, yang akhirnya menyebabkan inflamasi kronik.
  • Pengendalian kadar glukosa darah kurang efektif. Hal ini mencerminkan berkurangnya produksi insulin dan menurunnya glukoneogenesis. Episode hipolikemik, yang mengakibatkan kehilangan kesdaran (blackout), dapat terjadi.
  • Meskipun katabolisme protein tidak terpengaruh, sintesis protein berkurang. Perbaikan jaringan terganggu dan produksi enzim pencernaan berkurang.

Sumber :

https://callcenters.id/