Muliaman Hadad: Pendidikan Vokasi Indonesia Bisa Contoh Swiss

Muliaman Hadad Pendidikan Vokasi Indonesia Bisa Contoh Swiss

Muliaman Hadad: Pendidikan Vokasi Indonesia Bisa Contoh Swiss

Muliaman Hadad Pendidikan Vokasi Indonesia Bisa Contoh Swiss
Muliaman Hadad Pendidikan Vokasi Indonesia Bisa Contoh Swiss

Duta Besar Indonesia untuk Swiss Muliaman Darmansyah Hadad menyarankan agar program

pendidikan vokasi di Indonesia meniru negara tempatnya bertugas.

Di Swiss, 70 persen lulusan sekolah menengah atas tidak melanjutkan ke universitas tetapi ke pendidikan vokasi, kata Muliaman dalam seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia di Kampus Universitas Prasetya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).

“Ini berbeda dengan kita yang banyak ke pendidikan ke universitas,” kata Muliaman.

Dia mengimbau para orang tua siswa agar tidak berpikir bahwa pendidikan vokasi itu rendah, k

arena banyak para Chief Executive Officer atau CEO dan pengusaha-pengusaha besar di Swiss merupakan lulusan pendidikan vokasi.

“Untuk itu, penting untuk kita cek lagi dengan infrastruktur yang ada, apa yang bisa dimanfaatkan, dan terbangun ekosismem yang lebih komplit dan kuat seperti yang terjadi di Swiss dengan koordinasi kementerian yang baik,” kata Muliaman.

Di sekolah vokasi Swiss, tiga hari pelajaran di pabrik dan satu setengah hari di ruang kelas

sekolah sehingga lebih banyak kerja operasional, ujarnya.

Muliaman berharap kualitas dan produktivitas sumber daya manusia tidak menjadi missing link atau mata rantai yang hilang dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia, dan hal itu bisa diatasi dengan pendidikan vokasi yang baik.

Menurut dia, pendidikan vokasi di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, seperti masih kuatnya anggapan para orang tua bahwa jalur pendidikan ini hanyalah pilihan kesekian bagi anak-anaknya.

“Kemudian, ketidakinginan sektor privat mempekerjakan para lulusan vokasi. Dengan kata lain, ekosistemnya belum terbangun sempurna,” kata Muliaman.

Muliaman juga menyebut pendidikan vokasi Tiongkok sebagai model yang layak ditiru Indonesia. Di sana, pendidikan vokasi mendapat perhatian serius dengan dibentuknya lembaga National Vocational Education Steering Committee.

Sementara Swiss menjadi mitra penting untuk merevitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia karena penerapan dual vocational education and training (sistem pelatihan dan pendidikan vokasi ganda) yang mereka terapkan mampu menghasilkan pekerja dengan usia muda yang produktif dan juga kompetitif.

Hal itu tercermin dari angka pengangguran pekerja muda yang kecil dan peringkat tertinggi yang mampu dicapai negara ini dalam Global Competitiveness Index lansiran World Economic Forum.

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/bedhaya-ketawang-dan-bedhaya-semang/