Pengajar Mapel SMPN di Surabaya Masih Kurang

Pengajar Mapel SMPN di Surabaya Masih Kurang

Pengajar Mapel SMPN di Surabaya Masih Kurang

Pengajar Mapel SMPN di Surabaya Masih Kurang
Pengajar Mapel SMPN di Surabaya Masih Kurang

Bukan hanya sekolah baru yang kekurangan guru. Sekolah negeri lain mengalami hal serupa. Terutama berkaitan dengan guru yang memasuki masa pensiun.

Salah satunya terjadi di SMPN 6 Surabaya. Meski jumlah guru terus berkurang, belum

ada guru pengganti. Sementara itu, sekolah tidak boleh mengangkat guru tidak tetap (GTT). Hal tersebut diungkapkan Kepala SMPN 6 Surabaya Triwahjuni Handajani.

Menurut dia, perekrutan GTT merupakan wewenang langsung dari pemkot. Karena itu, pihaknya hanya bisa melapor mengenai kebutuhan guru di sekolah. ’’Tapi, ya masih belum ada,’’ katanya.

Kini guru harus mengajar melebihi jam. Normalnya, guru mapel mengajar 24 jam seminggu. Kini, kata Tri, jam mengajar beberapa guru mencapai 30 jam seminggu.

Tri menyebut ada beberapa mapel yang mengalami kekosongan guru. Misalnya, bahasa Indonesia

dan olahraga. Lowongan tersebut, lanjut Tri, tidak bisa diisi GTT yang hendak direkrut. Sebab, tambah dia, pemkot yang berwenang melakukan perekrutan.

Kekurangan guru juga terjadi di SMPN 32 Surabaya. Kepala SMPN 32 Bambang Sutedjo menyatakan, pihaknya kekurangan tiga guru mapel. Masing-masing dari mapel olahraga, bahasa Jawa, dan PKn. Para pendidik di bidang tersebut pensiun. Untuk mengatasinya, lanjut dia, guru PNS mapel lain mengajar melebihi jam.

Demikian pula di SMPN 43 Surabaya. Adanya sekolah baru mengurangi jumlah guru di SMPN 43.

Salah satunya, guru mapel olahraga. Menurut Kepala SMPN 43 Kelik Sachroen Djailani, guru olahraga senior pindah untuk mengajar di SMPN baru.

’’Kasihan kalau yang baru juga dikasih baru. Biar lebih cepat mengejar,’’ jelasnya. Untuk mapel bahasa Inggris, lanjut Kelik, kekosongan guru sudah terisi dari guru peralihan jenjang SD.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/2/