PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN
PENGERTIAN METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

 

METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Menurut tujuannya, riset diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: (1) riset dasar (pure research atau basic research); dan (2) riset terapan (applied research), yang dibagi menjadi: (a) riset evaluasi (evaluation research); (b) riset pengembangan (research and development atau R & D); dan (c) riset aksi (penelitian tindakan).

RISET DASAR

Secara epistemologis, metodologi riset barkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Dalam riset dasar, dikenal dua kelompok paradigma yang dominan, yaitu: (1) paradigma positivistik (metode kuantitatif); dan (2) paradigma fenomenologis/interpretif (metode kualitatif).
Paradigma positivistik menggunakan proses riset yang konvensional-linier, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) fenomena-fenomena sosial/pendidikan diamati secara parsial, yaitu dengan cara mereduksi sejumlah variabel yang dianggap kurang penting dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang dimaksud; (2) berpandangan bahwa fenomena-fenomena kehidupan manusia di lingkungan sosialnya bersifat mekanistik dan berlaku universal; (3) proses riset menggunakan logika berpikir rasional dan deduktif; (4) menekankan pada uji hipotesis dan mengejar generalisasi; (5) fenomena-fenomena yang diamati sifatnya teratur/tidak random, sehingga dapat diprediksikan; (6) berpandangan bahwa teori bebas nilai dan menganut kebenaran tunggal (nomotetis); dan (7) memisahkan teori dan praktik.
Di lain pihak, paradigma fenomenologis (interpretif) dalam praktik pelaksanaan riset sering dianggap sebagai proses riset yang bersifat siklikal, berpandangan bahwa realitas (fenomena) tidak tunggal, tetapi bersifat jamak (plural). Tujuan utama riset fenomenologis adalah untuk memperoleh pemahanan terhadap makna (meaning), karena menurut pandangan fenomenologis fenomena (perilaku) yang sama akan mempunyai makna yang berbeda pada konteks kultural yang berbeda. Di dalam mengembangkan pemahaman makna terhadap fenomena tersebut, riset fenomenologi mendasarkan pada gambaran apa adanya menurut interpretasi subyek (folk model).
Paradigma positivistik, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kuantitatif merupakan pendekatan yang paling banyak dikenal dalam penelitian berbagai bidang ilmu, termasuk pendidikan, karena merupakan pendekatan yang paling tua.
Pendekatan ini diadopsi dari penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti Fisika dan Biologi, yang kemudian diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan. Pendekatan ini mendasarkan pada suatu asumsi nomotetis, yaitu bahwa sesuatu kebenaran itu tunggal dan akan berlaku di manapun tanpa terikat dengan konteks eko-kulturnya. Paradigma ini telah mewarnai berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan kita selama ini.
Paradigma fenomenologis, atau yang lebih dikenal dengan penelitian kualitatif datang di Indonesia lebih belakangan dibanding paradigma positivistik, sehingga kehadirannya banyak menghadapi tantangan dari kubu positivistik. Paradigma ini berpandangan bahwa kebenaran itu tidak tunggal, tetapi dialektik, yang akan sangat tergantung pada konteks dan kultur masyarakat. Ciri lain dari penelitian ini adalah bahwa pengamatannya dilakukan pada skopa yang sempit tetapi mendalam.

RISET TERAPAN

Riset terapan, merupakan riset untuk menguji dan menerapkan teori untuk pemecahan permasalahan yang riil, mengembangkan dan menghasilkan produk, dan memperoleh informasi untuk dasar dalam pembuatan keputusan.
Penelitian terapan (applied research) dan penelitian dasar (pure research) mempunyai perbedaan dalam orientasi atau tujuan penelitian. Basic research bertujuan untuk menguji dan mengakumulasikan teori, sehingga menekankan standar keilmuan yang tinggi dan berusaha memperoleh hasil yang valid menurut ukuran metode ilmiah.
Sementara itu, penelitian terapan menekankan pada kemanfaatan secara praktis hasil penelitian untuk mengatasi masalah yang kongkrit, serta menemukan produk baru yang bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu, applied research juga dapat memberikan manfaat langsung untuk mengambil keputusan seperti keputusan untuk memulai sebuah program baru, menghentikan, memperbaiki atau mengganti program yang sedang berjalan.
1. Riset Pengembangan
Riset pengembangan atau Research and Development (R & D), bertujuan untuk mengembangkan, menguji kemanfaatan dan efektivitas produk (model) yang dikembang-kan, baik produk teknologi, material, organisasi, metode, alat-alat dan sebagainya.
Sebagai riset terapan, riset pengembangan bertujuan bukan untuk menghasilkan teori. Oleh karena itu, dalam penelitian pengembangan sangat dimungkinkan untuk menggunakan multi pendekatan dan multi metode.
2. Riset Aksi (Penelitian Tindakan)
Riset aksi (penelitian tindakan) mendasarkan pada paradigma teori kritis. Para penganut paradigma teori kritis berusaha untuk mempersatukan teori dan praksis.
Mereka pada umumnya memilih bidang garapan yang bersifat advokatif dan pemberdayaan (empowering). Di kalangan penganut teori kritis, teori deskriptif sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para penganut positivistik itu keliru, karena tidak memiliki dampak apapun terhadap usaha perbaikan praktik-praktik pendidikan ataupun peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

3. Riset Evaluasi

Riset evaluasi merupakan salah satu bentuk dari penelitian terapan (applied research). Oleh karena itu, dibandingkan dengan jenis penelitian terapan yang lain, riset evaluasi mempunyai kesamaan, baik dalam pemilihan pendekatan, metodologi, penentuan subyek, sampling maupun prosedur risetnya. Kegiatan riset (riset konvensional) dan riset evaluasi mempunyai tujuan yang berbeda. Riset konvensional bersifat conclusion oriented (berorientasi pada kesimpulan), sedangkan riset evaluasi mempunyai ciri decision oriented, yaitu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi/data sebagai dasar dalam pengambilan keputusan/perumusan kebijakan.

PENELITIAN EKSPERIMEN

Metode penelitian eksperimen pada umumnya digunakan dalam penelitian yang bersifat laboratoris. Namun, bukan berarti bahwa pendekatan ini tidak dapat digunakan dalam penelitian sosial, termasuk penelitian pendidikan. Jadi, penelitian eksperimen yang mendasarkan pada paradigma positivistik pada awalnya memang banyak diterapkan pada penelitian ilmu-ilmu keras (hard-science), seperti biologi dan Fisika, yang kemudian diadopsi untuk diterapkan pada bidang-bidang lain, termasuk bidang sosial dan pendidikan.
Pada dasarnya, pada semua penelitian dengan menggunakan paradigma positivistik, akan menghadapi dua pertanyaan besar, yaitu: (1) apakah hasil penelitian ini benar atau dapat dipercaya?; dan (2) apakah kita dapat menggeneralisasikan hasil penelitian ini kepada sejumlah subyek yang kondisinya dianggap sama dengan subyek yang kita teliti ?
Permasalahan nomor (1) adalah berkaitan dengan validitas internal suatu hasil penelitian, sedangkan permasalahan yang berkaitan dengan pertanyaan nomor (2) menyangkut validitas eksternal suatu hasil penelitian. Penelitian eksperimen pada umumnya lebih menekankan pada pemenuhan validitas internal, yaitu dengan cara mengontrol/mengendalikan/mengeliminir pengaruh faktor-faktor di luar yang dieksperimenkan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.