Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya

Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya

Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya

Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya
Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya

Kewajiban pelajar bukan hanya belajar. Sebagai umat beragama, mereka sudah semestinya taat beribadah. Karena itu, SMAN 8 mengubah atmosfer sekolah. Siswa dibiasakan rajin melakukan kegiatan keagamaan.

PUKUL 06.25, bel berbunyi. Itu bukan sekadar tanda masuk kelas. Melainkan juga tanda bahwa kegiatan berdoa dimulai. Para siswa sudah harus duduk di bangku masing-masing. Memegang kitab suci sesuai agama yang dipeluk.

Siswa yang beragama Islam bersiap dengan Alquran. Begitu pula pemeluk Kristen Protestan dan Katolik. Para siswa itu membawa Injil. Tak ketinggalan siswa yang beragama Hindu dengan Weda-nya.
Program Unggulan Berbasis Kearifan Lokal dan Religi di SMAN 8 Surabaya
PERTEBAL KEIMANAN: Siswa membaca dan memahami Alkitab di perpustakaan; Grafis SMAN 8 Menuju Sekolah Unggul Berbasis Kearifan Lokal & Religius (Allex Qomarullah/Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

Siswa muslim wajib membaca sepuluh ayat Alquran setiap hari. Itu menjadi syarat wajib sebelum memulai pelajaran. Mereka mengumandangkan ayat suci secara bersama-sama. Meskipun demikian, para siswa nonmuslim membaca kitab masing-masing. Dalam satu kelas yang sama. Maklum, jumlah pemeluk non-Islam memang tak banyak.

Setelah itu sesi berdoa, tentu dengan cara masing-masing. Siswa muslim menengadahkan kedua tangan. Adapun siswa Kristen menyatukan kedua tangan dan mendekatkannya di dagu. Berbeda lagi siswa Hindu. Mereka menangkupkan kedua tangan di depan dada. Pemadangan agamais itu rutin sebelum pelajaran dimulai.

Sejak tahun pelajaran 2017–2018, kebiasaan tersebut diwajibkan di SMAN 8. Kegiatan itu menjadi salah satu program untuk membentuk sekolah berbasis kearifan lokal dan religius. Salah satu caranya, menonjolkan kegiatan keagamaan.

Sebut saja kewajiban sembahyang. Yang beragama Islam misalnya. Mereka selalu diimbau untuk melakukan salat Duha. Juga, salat Duhur wajib berjamaah. Karena itu, setiap jam istirahat kedua tiba, peserta didik berbondong-bondong ke masjid. Hal tersebut diungkapkan Javier Adiyatma. Menurut dia, aturan baru itu membiasakannya untuk selalu salat berjamaah dan tepat waktu.

Selagi siswa muslim salat, siswa Hindu sembahyang. Mereka melakukan sembahyang Trisandya. Komang Agestiya, siswi Hindu, mengatakan, pada pukul 12.00 dirinya juga bersembahyang. ”Biasanya di meeting room atau ruangan perpus. Kadang juga di kelas,” tuturnya.

Komang mengatakan, dalam satu hari dirinya bersembahyang tiga kali. Yakni pukul 06.00, 12.00, dan 18.00. Praktis, salah satu sembahyangnya harus dilakukan di sekolah. ”Banyak ruang kondusif yang disediakan untuk sembahyang kami,” imbuhnya.

Kegiatan pengisi waktu luang yang berbau religi juga dilakukan siswa yang beragama Kristen

Protestan dan Katolik. Biasanya, mereka berkumpul untuk membaca Injil. Tujuannya, bersama-sama membaca dan memahami firman Tuhan. Selain itu, mereka melantunkan puji-pujian. ”Bacanya janjian dulu karena gereja kami berbeda,” ujar Jogi Samuel Cristhoper Pakpahan, siswa Kristen Protestan.

Cetak Lulusan Pintar yang Taat Beribadah
BERAGAM kebiasaan diwajibkan pihak sekolah bukan hanya sebagai pembentuk siswa religius. Melainkan juga sebagai nilai tambah. Terutama bagi para murid dalam pelajaran agama. Melalui kegiatan-kegiatan itu, mereka mendapatkan nilai sikap.

Kepala SMAN 8 Ligawati mengatakan bahwa siswa muslim dinilai dari keaktifannya

menjalankan salat berjamaah di masjid sekolah. Terutama untuk salat Duhur.

Karena kapasitas masjid terbatas, Liga menjadwalkan salat Duhur berjamaah. Misalnya, Senin adalah giliran seluruh siswa kelas X. Lalu, kelas XI mendapat giliran Selasa dan Rabu, sedangkan kelas XII pada Kamis.

Pada hari wajib itu, ada presensi. Setiap guru yang terakhir mengajar sebelum istirahat kedua bertugas mengoordinasi. Siswa diarahkan ke masjid dan melakukan presensi. ”Baik guru muslim maupun tidak, pas ngajar sebelum istirahat yang jadi pendamping,” terangnya. Karena itu, toleransi tidak hanya ditunjukkan antarsiswa. Namun, juga antara guru dan murid.

Sementara itu, siswa nonmuslim mendapat kesempatan yang sama. Mereka memperoleh penilaian agama,

tapi dengan cara yang berbeda. Karena guru agama nonmuslim hanya mengajar seminggu sekali, Liga mewajibkan penilaian mingguan. Misalnya, dengan menyetor ayat dalam surat yang telah dibaca selama seminggu. Termasuk pemahamannya.

Selain itu, seluruh siswa bisa meraih nilai tambah lagi. Caranya dengan menyetor hafalan surat dalam kitab suci. Hal itu, lanjut Liga, berlaku untuk semua siswa sesuai agama yang dipeluknya. ”Harapannya, siswa tidak hanya pintar, tapi juga religius,” ujarnya.

Lebih dari itu, Liga berharap bisa mencetak lulusan yang pintar dan taat beribadah. Memang, Liga menyadari bahwa sekolahnya tidak menonjol di bidang akademik. Karena itu, dengan adanya program kearifan lokal dan religi, siswa mendapat bekal lebih. Menjadi pribadi yang rajin dan disiplin. Salah satunya dalam berdoa kepada Sang Pencipta.

 

Sumber :

http://www.pearltrees.com/danuaji88/item261349768