Syah Ismail juga disebut sebagai Ismail I.

Konflik antara Dinasti Turki Utsmani dengan Dinasti Syafawiyah

Dinasti Syafawiyah di bawah kepemimpinan Syah Ismail yang saat itu masih berusia tujuh tahun mempersiapkan pasukan bernama Qizilbash (baret merah). Kemudian pasukan tersebut digunakan untuk menyerang AK Koyunlu hingga berhasil merebut dan menduduki Tabriz, ibukota AK Koyunlu. Syah Ismail juga disebut sebagai Ismail I. Ismail I berkuasa selama kurang lebih 23 tahun, yaitu antara tahun 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sia kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M), Baghad dan daerah barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaanya sudah meiputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Cresent). Tidak sampai di situ, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya, seperti ke Turki Utsmani.

Syah Ismail ash-Shafawi berusaha keras menjadikan Syiah sebagai mazhab yang dianut penduduk Iran.

Karena adanya ketidak puasan psikologis dari kalangan penduduk Iran yang sebagian besar berhaluan Sunni, maka Syah Ismail memandang bahwa ia harus membentuk pasukan dari kalangan orang-orang Syiah untuk menghadapi penentangan ini. Ternyata Syah Ismail mendapatkan dukungan yang kuat dan bala bantuan dari beberapa pihak. Kemudian, ia bangkitkan semangat mereka untuk menumpas orang-orang yang menentangnya dan mengokohkan mazhab Syiah di Iran. Dalam menjalankan misinya, Syah Ismail memainan politik yang licik untuk memperkuat seruan politik dan mazhabnya. Syah Ismail mengandalkan beberapa kabilah Tarlibasy yang berasal dari keturunan Turki untuk menjadi benih kekuatan militernya. Sebab, penduduk Iran pada waktu itu terdiri dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda, akibat dari gelombang peperangan yang bertubi-tubi melanda negeri tersebut, sehingga sulit untuk menyatukan semua suku bangsa yang berbeda-beda itu dalam satu tempat. Dengan kebijakannya ini, Syah Ismail ash-Shafawi berhasil mengoptimalkan kekuatan mahzabnya pada kabilah-kabilah Tarlibasy untuk dijadikan sebagai sandaran utama kekuatan pemerintah, sehingga semua kelompok lebur dalam satu kesatuan mazhab yang memungkinkannya membentuk sebuah eksistensi politik yang baru.
Syah Ismail memimpin mazhab Syiah dan bersemangat besar untuk menyebarkan Syiah ke seluruh penjuru negeri. Seruannya sampai ke wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah. Pemikiran dan akidah sesat yang disebarkan di wilayah-wilayah itu ditentang keras oleh masyarakat Utsmani yang bermazhab Sunni. Di antara akidah-akidah yang Syiah yang rusak adalah mengkafirkan para sahabat, melaknat generasi awal Islam, mengubah Al-Qur’an serta pemikiran dan akidah-akidah lainnya yang rusak. Maka, wajar jika Sultan Salim I selaku pemimpin Negara yang berhaluan Sunni melakukan pelawanan terhadap seruan Syiah itu.
Selama periode Syafawiyah di Persia persaingan untuk mendapatkan keuasaan antara Turki dan Persi menjadi realita. Namun demikian, Syah Ismail menjumpai saingan terberat sebagai kepala batu yaitu Sultan Turki Utsmani, Salim I.
Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak ia melakukan kejahatan besar dalam Islam yaitu, membunuh kaum muslimin beraliran Sunni dalam jumlah besar, serta menghancurkan masjid-masjid Ahlusunnah dan kuburan-kuburan mereka. Bahaya Syiah ini semakin bertambah parah pada masa-masa akhir pemerintahan Bayazid II. Ketika Sultan Salim I memegang kekuasaan, maka perangkat-perangkat keamanan Dinasti Utsmaniah melakukan pengepungan terhadap orang-orang Syiah pengikut Syah Ismail dan orang-orang yang menentang Dinasti Utsmaniah. Kemudian Sultan Salim I melakukan pembersihan terhadap para pengikut Syah Ismail, sehingga banyak para pengikut Syah Ismail dipenjara dan dibinasakan di Anatolia.
Puncak perseteruan antara dua Dinasti besar Islam itu tertuang pada perang Chaldiran tahun 1514 M. Sultan Salim I mulai bersiap untuk menyerang Syah Ismail dengan menyiapkan pasukannya. Sultan Salim I berupaya mempercepat pertempurannya menghadapi pasukan Syiah di bawah komando Syah Ismail. Bahkan, saat Syah Ismail meminta gencatan senjata Sultan Salim I menolak permintaan tersebut dan tetap melanjutkan perjalanan ke gurun Chaldiran.
Pada bulan Rajab 920 H atau bulan Agustus 1514 M, Sultan Salim I tiba di Chaldiran dan berhasil menduduki lokasi-lokasi strategis di gurun Chaldiran dan menguasai tempat-tempat dataran tingginya. Hal ini memungkinkan baginya untuk melancarkan serangan mematikan kepada Syah Ismail dan para tentaranya. Sebagian Referensi mengatakan bahwa jumlah pasukan Utsmani lebih banyak dari pada pasukan Qizilbash Syafawiyah, sekita dua sampai tiga kali lipatnya. Meskipun demikian, dengan kekurangan ini pasukan Syafawi bertempur dengan sangat baik, bahkan mereka mungkin dapat memenangkan pertempuran jika Utsmani tidak mengerahkan artilerinya. Meriam dan artileri lainnya diarahkan dan mendarat di pasukan kavaleri elit Syafawiyah yang tidak berdaya menahannya. Syah Ismail mengalami kekalahan telak, sebuah kekalahan bagi pasukan Syiah Shafawi yang terjadi di wilayahnya sendiri. Ismai As Shafawi terpaksa melarikan diri pada saat Sultan Salim I hendak memasuki Tibriz, Ibukota pemerintahan Safawiyah. Setelah Sultan Salim berhasil memasuki Tibriz, ia menahan semua harta benda milik Syah Ismail dan para pembesar Qizilbash.

Recent Posts