UAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro Jonggrang

UAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro JonggrangUAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro Jonggrang

UAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro Jonggrang

UAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro JonggrangUAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro Jonggrang
UAS, STKIP Purwakarta Gelar Drama Roro Jonggrang

Sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah pagelaran sastra

Pendidikan Bahasa Indonesia. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Purwakarta, pentaskan kesenian drama Roro Jonggrang di Bale Indung Linuhung Disdik Purwakarta, Jumat (8/6).

Ini ujian akhir semester untuk mahasiswa semester enam STKIP yang mengambil mata kuliah pagelaran sastra,” ujar Dosen Pagelaran Drama sekaligus penulis naskah pertunjukan Roro Jonggrang, Burhan Sidiq kepada awak media.

Menurutnya, selain sebagai bahan ujian untuk mahasiswanya, pertunjukan drama Roro Jonggrang juga merupakan sebuah bentuk kritik feminisme.

“Dalam ceritanya kan sangat mendiskreditkan perempuan bahwa cinta seorang lelaki,

tidak bisa ditolak oleh seorang perempuan. Roro Jonggrang menolak cinta Bandung Bondowoso akhirnya menjadi batu,” tuturnya.

Ia katakan berikutnya, simbolisasi dimana Roro Jonggrang menjadi batu karena menolak cinta Bandung adalah bentuk stereotype bahwa wanita itu lemah.

“Dalam cerita tersebut, Roro Jonggrang akhirnya menjadi batu karena menolak cinta Bandung Bondowoso. Ini seperti stereotype dimana wanita itu lemah tidak memiliki hak kebebasan untuk mengambil keputusan dalam hidupnya,” jelasnya.

Di sisi lain, Burhan berharap kepada mahasiswa dan pelajar SMA yang menyaksikan pegelaran

drama tersebut dapat memahami pentingnya perjuangan terhadap persamaan gender dan hak-hak perempuan.

“Drama ini bentuk perlawanan kita terhadap aksi wanita yang kerap dimarginalisasi oleh kaum laki-laki dan menolak kekerasan terhadap kaum wanita. Sehingga Roro Jonggrang pada drama ini bisa mengatakan, tidak ada yang dikutuk menjadi batu, tidak ada candi ke-seribu,” katanya.

Sementara itu, salah seorang penonton pagelaran drama yang juga mahasiswi STKIP, Sindy (20) mengaku senang menyaksikan drama tersebut.

“Saya sangat senang dengan pagelaran drama ini. Selain saya bisa menikmati unsur seninya, saya juga dapat mengambil pesan moral yang mendalam terkait isu feminisme,” ujarnya.

 

Baca Juga :